
Aldi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia meluapkan semua emosinya dengan cara seperti itu.
Aldi tidak peduli dengan kendaraan-kendaraan lain yang terus mengelaksoninya karena mengendarai mobil dengan arogan yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga pengendara lain.
Aldi menghela napasnya berat. Ia semakin meningkatkan kecepatannya saat melihat kondisi jalan yang mulai senggang. Namun, tiba-tiba ada sebuah pickup yang berbelok arah tanpa menyalakan lampu sen.
Dengan cepat Aldi membanting setir mobilnya, membuat mobilnya tidak terkendali dan terguling di jalan.
Aldi membuka matanya sayup-sayup, melihat pemandangan di depannya yang terlihat terbalik, kepalanya terasa sangat pusing karena kepalanya yang menghantam setir mobil dengan sangat keras.
Aldi hanya bisa melihat beberapa orang yang berusaha menolongnya untuk keluar dari mobil yang terbalik. Aldi tidak menyadari kalau ia terluka parah, kepala, hidung serta bibirnya mengeluarkan banyak darah.
"Mas, Mas," panggil seseorang dari luar mobil.
Aldi merasakan penglihatannya menjadi buram, ia hanya bisa mendengar suara-suara orang yang berkerumun dan juga sirine ambulans, dan kemudian tidak sadarkan diri.
*****
Pak Derawan terus mondar-mandir di depan ruang UGD. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan anak semata wayangnya itu. Tidak hanya Pak Derawan yang khawatir dengan keadaan Aldi, Tante Dinda, Bu Umi dan Bu Retno pun mengkhawatirkan Aldi dan terus berdoa untuk keselamatan Aldi.
Tante Dinda memeluk Pak Derawan. "Mas, aku takut terjadi sesuatu sama Aldi. Dokter udah lama banget di dalam tapi belum keluar-keluar juga," ucapnya seraya terisak dalam pelukan suaminya.
"Kita berdoa saja untuk keselamatan Aldi ya, semoga Aldi baik-baik saja," ucap Pak Derawan menenangkan Tante Dinda.
"Ya Allah, tolong selamatkan Mas Aldi," lirih Bu Retno.
"Mas Aldi itu anak yang kuat, pasti Mas Aldi akan baik-baik saja," ucap Bu Umi.
Dokter Issac keluar dari ruang UGD, setelah sekitar hampir dua puluh lima menit di dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan Aldi, Dok?" tanya Pak Derawan khawatir.
"Alhamdulillah pasien bisa melewati masa kritisnya, tapi kondisi pasien saat ini masih benar-benar lemah," jawab Dokter Issac.
Pak Derawan, Tante Dinda, Bu Umi dan Bu Retno bisa bernapas lega setelah mendengar kalau Aldi sudah melewati masa kritisnya, itu berarti kondisi Aldi sudah mulai membaik.
"Sudah boleh ketemu Aldi, Dok?" tanya Pak Derawan.
"Untuk saat ini belum bisa, biarkan pasien istirahat dulu, nanti setelah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa baru bisa dijenguk," jelas Dokter Issac.
"Baik Dokter, terima kasih."
Tante Dinda menggenggam tangan Pak Derawan, ia terharu mendengar kabar Aldi yang sudah mulai membaik. "Mas alhamdulilah Aldi baik-baik aja."
Pak Derawan mengangguk, ia juga tidak bisa terus menyembunyikan rasa sedihnya yang sedari tadi ia tahan. "Iya sayang, alhamdulilah."
Bu Umi dan Bu Retno berpelukan. "Retno, aku senang banget Mas Aldi baik-baik aja," ucap Bu Umi.
"Kalau Mas Aldi udah pulang ke rumah, saya akan masakin apa aja yang Mas Aldi mau," ucap Bu Retno yang masih memeluk tubuh Bu Umi.
Walaupun Bu Umi dan Bu Retno hanya asisten rumah tangga, tapi mereka berdua sudah menganggap Aldi seperti anak mereka sendiri, karena sejak kecil, Aldi telah diasuh oleh Bu Umi dan Bu Retno, itulah yang membuat mereka berdua sangat takut kehilangan Aldi.
*****
Setelah sadar, Aldi dipindahkan ke ruang rawat VIP. Walaupun kata Dokter Issac kondisi Aldi baik-baik saja, tapi Aldi masih harus banyak istirahat dan melakukan rawat inap di rumah sakit sekitar dua sampai tiga hari ke depan untuk terus diperiksa dan memastikan kalau Aldi sudah benar-benar pulih, atau memastikan kalau tidak ada luka dalam.
Aldi merasakan kepalanya yang sedikit sakit, mungkin karena kepala Aldi terbentur dengan sangat keras tadi, membuat kepalanya terluka dan harus diperban.
"Aldi," panggil Pak Derawan lembut.
Aldi melihat Pak Derawan dan Tante Dinda yang mendekat ke arahnya dengan pandangannya yang buram. Aldi harus mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mempertegas penglihatannya.
"Ada yang sakit, Di?" tanya Pak Derawan.
Tante Dinda memberanikan dirinya untuk memegang tangan Aldi. "Kalau kamu merasa ada yang sakit, kamu bilang ya, biar Dokter bisa langsung periksa kamu," ucap Tante Dinda seraya meneteskan air mata.
"Aldi baik-baik aja kok," jawab Aldi lemah.
"Alhamdulillah Mas Aldi udah sadar," ucap Bu Umi dan Bu Retno saat masuk ke dalam ruang rawat Aldi.
"Bi, jangan berisik, kecilin sedikit suaranya," ucap Pak Derawan.
Aldi tersenyum sedikit, sangat sedikit, sangat susah untuk melebarkan senyumnya. "Bu..," panggil Aldi dengan suara yang sedikit serak.
"Iya Mas Aldi," sahut Bu Umi dan Bu Retno kompak seraya mendekati Aldi yang berbaring di tempat tidurnya.
"Mas Aldi baik-baik aja kan?" tanya Bu Retno.
Aldi mengangguk lemah. "Baik-baik aja kok, Bu," jawab Aldi.
Sesekali Aldi memegang kepalanya.
"Kepala kamu sakit? Mau Tante panggilin Dokter?" tanya Tante Dinda.
"Nggak," jawab Aldi singkat.
"Bu Umi senang banget Mas Aldi baik-baik aja, Bu Umi takut Mas Aldi kenapa-napa."
"Bu Retno juga takut nggak bisa bercanda lagi sama Mas Aldi."
Aldi menghela napasnya. "Aldi kira Aldi akan ketemu Mama," ucapnya lirih.
Seketika Pak Derawan, Tante Dinda, Bu Umi dan Bu Retno terdiam.
Aldi menarik selimutnya hingga dada. "Aldi mau istirahat, kalian jangan berisik ya," ucapnya seraya memejamkan matanya dan memutar posisinya menjadi membelakangi orang-orang yang berada di dalam ruangan.
*****
Suster masuk ke dalam ruang rawat Aldi untuk mengganti infusan dan membawakan obat untuk pria itu.
"Suster, saya kapan boleh pulang?" tanya Aldi.
"Setelah dokter memastikan kalau Mas Aldi sudah benar-benar pulih, pasti Mas Aldi boleh pulang," jelas Suster.
"Saya udah baik-baik aja kok, Sus," ucap Aldi.
"Untuk memastikannya tunggu pemeriksaan lebih lanjut ya Mas Aldi," ucap Suster.
Aldi menghela napasnya berat. Ia ingin segera pulang, karena terasa sangat membosankan di rumah sakit.
"Saya permisi dulu ya, Mas," ucap Suster, lalu berjalan keluar dari ruang rawat Aldi.
Pak Derawan dan Tante Dinda masuk ke dalam ruang rawat Aldi membawa beberapa pakaian ganti yang dimasukkan ke dalam tas dan juga makanan.
"Wah anak Papa udah bangun tidur, gimana kondisi kamu? Udah merasa enakkan?" ucap Pak Derawan.
Aldi melihat tas kecil yang berada di sofa. "Ngapain bawa tas?" tanyanya dengan nada yang terdengar dingin.
"Papa sama Mama akan nginap disini untuk nemenin kamu," jawab Pak Derawan.
"Aldi udah gede, nggak perlu ditemenin, lagi pula Aldi udah terbiasa sendirian, lebih baik Papa dan Tante Dinda pulang aja."
Pak Derawan mendekati Aldi, lalu menepuk pipi Aldi pelan. "Anak papa ngomong apa sih? Papa sama Mama itu mau nginap di sini."
Aldi menghela napasnya, mengalihkan pandangannya malas. "Terserah."