
Tok! Tok! Tok! Farah membuka pintu rumahnya, melihat Ayana yang tersenyum ke arahnya.
"Ayana..," ucap Farah heboh.
"Farah..," sahut Ayana yang tak kalah heboh dari sahabatnya itu.
"Lo jam segini naik ojek online ke rumah gue?" tanya Farah.
Ayana menggeleng. "Nggak, Ayana diantar Aryasa," jawabnya.
"Aryasa? Siapa tuh?" tanya Farah penasaran.
Ayana tersenyum, ia langsung menarik Farah masuk ke rumah gadis itu. "Ke kamar Farah yuk, nanti Ayana ceritain."
Farah setuju, ia mengajak Ayana ke kamarnya, tidak sabar untuk mendengar cerita tentang Aryasa dari sahabatnya itu.
Farah duduk di tempat tidurnya seraya mengambil bantalnya untuk dipeluk. "Cepat ceritain Aryasa itu siapa?"
"Aryasa itu teman baru Ayana di kampus," ucap Ayana.
"Di kampus? Kok gue nggak pernah lihat?" tanya Farah yang merasa bingung, karena jika Aryasa satu kampus dengan Ayana, berarti Aryasa satu kampus juga dengannya, hanya berbeda fakultas saja.
"Satu kelas sama Ayana dan Aldi," jawab Ayana.
"Tunggu.. tunggu.. kalau lo kerumah gue diantar Aryasa, berarti lo—" ucap Farah menggantung.
Ayana mengangguk. "Iya, Ayana lagi dekat sama Aryasa," jawabnya tersenyum.
Kedua mata Farah membulat, bisa-bisanya Ayana berkata kalau ia sedang dekat dengan pria lain dengan nada bicara yang terdengar santai, sedangkan Ayana sendiri memiliki pacar.
"Lo gila, Ay," ucap Farah.
"Gila kenapa?"
"Lo kan punya Argatha, mau lo taruh mana si Argatha kalau lo lagi dekat sama cowok lain?"
Senyum di bibir Ayana sedikit memudar, sebenarnya ia tidak ingin menceritakan tentang pesan Argatha pada Farah, tapi Ayana juga tidak tidak bisa diam saja tanpa menjelaskan alasannya mengapa ia berani untuk dekat dengan Aryasa.
"Ay, kok lo diam aja?"
Kedua sorot mata Ayana berkaca-kaca, jika ia mengingat kembali pesan yang Argatha kirim ke Aldi, membuat hati Ayana terasa sakit, ia merasa bodoh karena berharap Argatha akan kembali dan tetap menjalin hubungan dengannya.
Ayana memberanikan dirinya untuk bercerita yang sebenarnya pada Farah, agar sahabatnya itu mengerti alasannya mengapa ia berani untuk dekat dengan pria lain.
"Kurang ajar sih Argatha! Bisa-bisanya Argatha begitu! Dia pikir dia akan gagal jadi dokter kalau pacaran sama lo? Lagi pula lo sama dia kan beda negara, terus apa yang bikin dia berpikir kalau lo akan jadi penghambat masa depan dia?" kesal Farah.
"Aldi juga kenapa diam aja lagi! Harusnya tuh Aldi ngomong ke lo, bukan malah nutup-nutupin pesan dari Argatha!"
"Kalau kayak gini sih gue dukung lo untuk dekat sama Aryasa, lo berhak bahagia, gue tahu banget perjuangan lo untuk dapetin Argatha, tapi dia terlalu kurang ajar buat lo! Jangan lo ingat-ingat lagi tuh cowok model Argatha," oceh Farah.
Jika Argatha berada di depan Farah saat ini, mungkin gadis itu sudah memukul Argatha hingga babak belur.
"Ayana mau cerita sesuatu lagi nih," ucap Ayana mengalihkan topik pembicaraan tentang Argatha.
"Apa?" ucap Farah menurunkan nada bicaranya yang beberapa menit lalu sedikit meninggi.
"Farah tahu nggak sih, tadi jantung Ayana itu berdetak kencang banget pas Aryasa natap mata Ayana," ucap Ayana seraya membayangkan kejadian di toko buku tadi.
"Fix, lo udah suka sama Aryasa," ucap Farah.
"Tapi Ayana ngerasa masih ada mengganjal di hati Ayana, Ayana ngerasa belum bisa sepenuhnya buka hati untuk Aryasa, kayak ada sesuatu yang mencegah hati Ayana untuk suka sama Aryasa."
"Kenapa? Lo masih suka sama Argatha? Atau ada orang lain lagi di hati lo?"
*****
Aldi mengaduk-aduk makanan yang berada di hadapannya, membuat Pak Derawan dan Tante Dinda merasa heran dengan sikap Aldi.
"Makanannya mau kamu aduk sampai kapan, Di? Sampai Atlantis ditemukan?" tanya Pak Derawan memecah lamunan anak laki-lakinya itu.
Aldi meletakkan sendoknya di atas piring. "Aldi nggak napsu makan." Aldi langsung bangkit dan berjalan ke kamarnya.
Aldi masuk ke kamarnya, mengambil foto mendiang mamanya yang berada di atas meja. "Ma, Aldi suka sama Ayana, tapi Ayana nggak suka sama Aldi, Aldi harus gimana, Ma?"
"Ma, Aldi udah berusaha jadi cowok yang baik seperti yang Mama mau, tapi Aldi nggak bisa kayak gini terus, Ma. Kalau memang Ayana nggak suka sama Aldi, berarti Aldi harus ngelepas dia, Aldi nggak boleh egois, apalagi sekarang ini Ayana lagi dekat sama cowok lain, Ma," ucap Aldi seraya mengelus foto mendiang mamanya.
Tante Dinda yang mendengar ucapan Aldi dari balik pintu kamar pria itu merasa sedih. Aldi menyimpan kesedihannya sendiri, padahal jika Aldi ingin berbagi cerita pada Tante Dinda, Tante Dinda akan merasa sangat senang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Aldi.
Tante Dinda membuka pintu kamar Aldi perlahan. Aldi langsung menaruh foto mendiang mamanya di tempat semula.
"Kenapa?" tanya Aldi dengan nada bicara yang terdengar dingin.
"Kamu kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Tante Dinda lembut.
"Nggak ada," jawab Aldi.
Kedua sudut bibir Tante Dinda mengembang sedikit. "Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, Tante siap kok untuk jadi pendengar yang baik," ucapnya.
"Oke," jawab Aldi singkat.
"Oke aja?"
"Iya."
"Yaudah Tante Dinda ke kamar ya," ucapnya.
"Silahkan," sahut Aldi dingin.
Tante Dinda keluar dari kamar Aldi, kembali menutup pintu kamar pria itu dengan rapat.
"Kamu abis ngapain dari kamar Aldi?" tanya Pak Derawan.
Pak Derawan mengerutkan keningnya. "Kok kamu bisa ngomong gitu? Aldi cerita sesuatu ke kamu?"
"Tadi aku dengar Aldi lagi bicara, sepertinya Aldi lagi cerita apa yang sedang ia rasakan ke mba Rasyel," jelas Tante Dinda.
Pak Derawan menghela napasnya. Ia ingin sekali mengetahui apa masalah yang Aldi alami, tapi tidak mungkin jika Pak Derawan tiba-tiba bertanya apa yang mengganggu pikiran anak laki-lakinya itu, pasti Aldi akan marah.
*****
"Aldi!" panggil Farah ketika melihat pria itu di kantin kampus.
Aldi menoleh, melihat Farah yang memanggilnya. Ia pun segera menghampiri gadis itu.
"Kenapa, Far? Kangen lo ya?" ucap Aldi terkekeh.
"Kangen mata lo bulat! Gue mau marah-marah sama lo!" ucap Farah ketus.
Aldi mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan temannya itu. "Apaan sih? Nggak jelas lo!" Aldi memutar balikkan tubuhnya, bersiap untuk mengabaikan Farah.
"Lo kenapa diam aja tentang pesan dari Argatha?" ucap Farah.
Seketika langkah kaki Aldi terhenti, kedua matanya terbelalak lebar. Aldi memutar kembali tubuhnya menghadap Farah. "Maksud lo?"
"Jangan pura-pura bego! Lo tahu kan Argatha nyuruh Ayana untuk lupain dia? Karena Argatha nggak kamu kalau nantinya Ayana kan jadi pengganggu dia kan?"
"Farah, lo tahu dari mana?" tanya Aldi panik.
"Gue tahu dari Ayana," jawab Farah.
"Lo kenapa diam aja sih? Lo jahat banget! Lo mau bikin Ayana terus nunggu Argatha? Berharap sama si cowok sialan itu terus? Iya?" kesal Farah.
"Ayana? Ayana udah tahu? Kok bisa?" tanya Aldi dengan raut wajahnya yang benar-benar panik.
Farah menceritakan pada Aldi kalau saat Aldi tertidur di rumah Ayana, Ayana tidak sengaja membuka ponsel Aldi dan melihat pesan yang Aldi kirim ke nomor yang tidak dikenal, karena penasaran, Ayana meng-scroll pesan diatasnya, namun saat Ayana baca, ia menemukan pesan dari Argatha yang seharusnya ia tidak boleh tahu.
"Far, gue punya alasan kenapa gue nggak bilang ke Ayana," ucap Aldi.
"Apa alasan lo?" tanya Farah.
"Gue jelasin juga lo nggak akan ngerti," jawab Aldi.
"Ya gue nggak akan ngerti kalau lo nggak jelasin," ucap Farah dengan nada bicara yang mulai meninggi.
Aldi enggan untuk berdebat lagi dengan Farah, yang ada dipikirannya saat ini adalah Ayana, ia takut jika gadis itu akan marah.
Aldi segera berlari meninggalkan Farah. "Bodoh banget sih gue! Kenapa gue teledor banget sih lupa hapus chat dari Argatha," oceh Aldi seraya berlari menuju kelas untuk menemui Ayana.
"Ayana," ucap Aldi saat sampai di depan pintu kelas, namun langkahnya mendadak berhenti saat melihat Ayana yang sedang mengobrol bersama Aryasa, Satria, Nio dan Qausar.
"Eh, udah pada datang aja nih," ucap Aldi seraya berjalan menuju kursinya.
"Aldi dari mana? Dari tadi Ayana nyariin Aldi," ucap Ayana.
"Dari kantin," jawab Aldi seraya menaruh botol air mineral yang ia bawa di atas mejanya.
"Ngapain?"
"Nyuci piring, Ay," jawab Aldi asal.
Ayana melihat botol air mineral yang berada di atas meja Aldi.
"Aldi," ucap Ayana.
"Iya?"
"Aldi beli minumnya cuma satu?"
"Iya."
"Ayana haus, boleh minta nggak?"
Aldi terdiam sejenak, lalu melihat botol air mineralnya. "Tapi ini bekas gue, tinggal setengah. Mau gue beliin baru aja di kantin?"
"Nggak usah, bekas Aldi aja nggak apa-apa kok."
"Ayana minum ya."
Aldi mengangguk.
Ayana langsung mengambil botol air mineral tersebut dan meminumnya. Kedua mata Aldi membulat melihat Ayana yang minum di bekas bibirnya.
Aryasa, Satria, Nio dan Qausar hanya bisa terdiam seraya memusatkan penglihatan mereka pada Aldi dan Ayana.
"Uy, ciuman secara nggak langsung," ucap Nio pelan.
"Bekas bibir Aldi, kena bibir Ayana," sahut Qausar.
Tidak ingin berlama-lama melihat Aldi dan Ayana, Aryasa pun memutar posisi duduknya menghadap depan.
"Ay, itu bekas gue loh, nggak lo tenggak?" tanya Aldi.
"Kenapa emang?"
"Nggak apa-apa, cuma gue takut aja kalau lo—"
Ayana tersenyum seraya mencolek dagu Aldi. "Aldi mikirnya kita ciuman secara nggak langsung ya?" goda gadis itu.
"Udahlah lupain aja, nggak usah dibahas lagi tentang minumannya. Nanti pulang kampus ikut gue dulu yuk," ucap Aldi.
"Kemana?"
"Banyak tanya loh kayak detektif, udah ikut aja," jawab Aldi.
"Oke deh."