School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Tujuan Aryasa Yang Sesungguhnya



Dari jendela kamar Pak Ferdy melihat anak perempuannya turun dari mobil Tesla hitam yang berhenti di depan rumahnya.


Pak Ferdy berjalan ke pintu depan, berniat untuk menyambut Ayana yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang anak Papa yang cantik," ucap Pak Ferdy seraya menunjukkan sebuah senyuman.


"Papa..." ucap Ayana senang saat melihat sang Papa yang sudah pulang dinas dari luar kota.


Ayana langsung memeluk tubuh Pak Ferdy dengan erat, meluapkan semua rasa rindunya yang beberapa bulan ini ia pendam.


Pak Ferdy melepaskan pelukan anak perempuannya itu. "Anak Papa diantar pulang sama siapa?" tanyanya.


"Diantar sama Aldi," jawab Ayana.


Pak Ferdy mengerutkan keningnya, melihat Ayana dengan tatapan bingung. "Aldi? Bukannya kamu pacarannya sama Argatha?" tanya Pak Ferdy.


Ayana mengangguk. "Iya, Ayana pacarannya sama Argatha," jawab gadis itu.


"Kok pulangnya sama Aldi?" tanya Pak Ferdy yang tidak tahu kalau Argatha kuliah di luar negeri.


"Emang kalau Ayana pacaran sama Argatha itu artinya Ayana harus diantar pulang sama Argatha?" tanya Ayana balik.


"Bukan gitu, sayang," jawab Pak Ferdy.


Ayana terkekeh, "Papa lucu deh, kayak Aldi, bilangnya bukan gitu terus," ucapnya.


Pak Ferdy memegang pundak Ayana, melihat anak perempuannya itu dengan raut wajah yang serius.


"Kalau kamu jatuh cinta dengan seseorang, cukup cintai dia, jangan kamu membuka hati untuk orang lain, apalagi kamu membiarkan orang lain menaruh hatinya untuk kamu. Jangan mempermainkan perasaan laki-laki, sayang," ucap Pak Ferdy.


*****


Satria, Nio dan Qausar mampir ke apartemen Aryasa untuk menghibur pria itu yang sepertinya sedang sakit hati karena ajakannya untuk pulang bersama ditolak oleh Ayana.


"Ngapain lo pada ke apartemen gue?" tanya Aryasa sinis saat membuka pintu apartemennya.


Nio mendorong tubuh Aryasa masuk ke dalam apartemen, lalu menutup pintu setelah Satria dan Qausar ikut masuk.


"Gue nggak suruh kalian ke sini," ucap Aryasa ketus.


"Kita yang mau kesini, kenapa? Masalah buat lo?" sahut Nio.


"Ya masalah lah, ini apartemen gue!" jawab Aryasa.


"Kita kesini cuma mau menghibur lo, mungkin lo lagi sakit hati sekarang, karena tadi Ayana lebih pilih pulang bareng sama Aldi daripada sama lo," ucap Qausar.


Satria tersenyum, lalu menepuk pundak Aryasa. "Lo suka sama Ayana ya?"


"Nggak," jawab Aryasa.


Nio tertawa, "Eh Jamblang! Kita itu sahabatan udah lama, gue tahu banget kalau lo lagi suka sama cewek tuh gimana," ucap Nio.


"Emang Aryasa kalau lagi suka sama cewek gimana?" tanya Qausar.


"Menurut penglihatan gue, si Jamblang ini kalau suka sama cewek itu pasti wajahnya berseri-seri kayak orang abis wudhu, terus selalu ngasih perhatian walaupun kecil, dan yang paling kelihatan jelas adalah tatapan matanya yang setajam pisau dapur mama gue," jelas Nio.


Aryasa mengambil remote tv nya, melemparkannya ke arah Nio. "Sotoy lo reptil!"


"Anjir, buaya kali ah gue," sahut Nio.


"Lo udah mulai bisa ngelupain Aruna ya?" tanya Satria.


Aryasa terdiam. Aryasa tidak tahu apakah ia sudah bisa melupakan sosok cinta pertamanya itu atau belum, karena Aryasa sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Saat bersama Ayana, Aryasa selalu merasa ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, dan rasa itu sama persis seperti apa yang ia rasakan saat bersama Aruna.


"Menurut gue sih nggak ada salahnya kalau lo coba untuk deketin Ayana, dia cantik banget loh, siapa tahu aja dengan lo ngedeketin Ayana, lo jadi bisa ngelupain Aruna," ucap Qausar.


"Tunggu, tunggu. Jadi maksud lo, Aryasa suruh deketin Ayana cuma jadi pelampiasan aja?" ucap Satria dengan nada yang sedikit meninggi.


"Jangan Yas! Kalau emang lo nggak suka sama Ayana yaudah, jangan deketin dia karena ada maksud tertentu," tambah Satria.


Nio mendecak. "Nggak asyik lo Sat! Dari zaman sekolah masih aja lo terapin hidup lo yang lurus kayak jalan tol itu."


"Apa gue coba deketin Ayana ya? Siapa tahu perlahan gue bisa lupain Aruna dan ngilangin rasa bersalah gue ke dia," ucap Aryasa dalam hati.


"Tanpa bantuan lo juga pasti Aryasa bisa dekatin Ayana," sahut Qausar.


"Ada satu permasalahan kalau lo mau dekat sama Ayana, Yas," ucap Nio.


"Apa?"


"Aldi," jawab Nio.


"Dimana ada Ayana, pasti disitu ada Aldi, udah kayak panci sama tutupnya tuh anak, kemana-mana berdua terus," jelas Nio.


Qausar mengangguk setuju. "Berarti lo harus cari cara supaya lo bisa berduaan sama Ayana tanpa ada Aldi."


"Perlu gue bantu nggak untuk pisahin Ayana dari Aldi?" tanya Nio.


Satria hanya diam, tidak ingin ikut campur dengan ide-ide jahat sahabat-sahabatnya itu.


"Lo kenapa diam aja?" tanya Aryasa pada Satria.


"Gue nggak mau ikut campur," jawab Satria.


Aryasa tersenyum miring. "Santai aja Sat, gue cuma mau deketin Ayana aja, nggak bermaksud untuk yang gimana-gimana juga."


"Terus kalau nanti Ayana suka sama lo gimana?" tanya Satria dengan nada bicara yang terdengar dingin.


"Ya itu urusan nanti, jangan mikir terlalu jauh dulu," jawab Aryasa.


Satria menggeleng, ia mengambil tasnya, lalu bangkit. "Gila lo Yas! Lo terpengaruh sama omongan dua tuyul kardus ini." Satria berjalan keluar apartemen Aryasa dengan perasaan kecewa. Ia tidak menyangka Aryasa akan mendekati Ayana dengan maksud tertentu, apalagi tujuannya untuk melupakan Aruna, gadis yang dulu pernah ia cintai.


*****


Kedua mata Ayana membulat saat melihat Aldi dan Aryasa yang sudah berdiri di depan rumahnya.


"Aldi sama Aryasa ngapain pagi-pagi udah di depan rumah Ayana?" tanya Ayana bingung.


"Jemput lo," jawab Aldi dan Aryasa kompak.


Aryasa mendecak, melihat Aldi dengan sorot matanya yang tajam. "Lo ngapain sih?" ucapnya pada Aldi.


"Lo yang ngapain? Ikut-ikutan aja lo?" ucap Aldi tak mau kalah.


"Ayo Ay, kita berangkat ke kampus," ajak Aldi.


"Berangkat sama gue aja yuk, gue udah jauh-jauh loh untuk jemput lo," ucap Aryasa.


Aldi mengedarkan pandangannya malas. "Udah tahu jauh, ngapain malah jemput!" ucap Aldi ketus.


Aldi melihat Ayana yang sedari tadi penglihatannya hanya fokus pada Aryasa, Aldi sudah menduga pasti Ayana akan lebih memilih untuk berangkat bersama Aryasa.


"Aldi maaf—"


"Oke." Aldi langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu Ayana menyelesaikan ucapannya.


Aryasa tersenyum senang. "Silahkan masuk Ayana." Pria itu membukakan pintu mobil untuk Ayana.


Ayana masuk ke dalam mobil Aryasa dengan perasaan tidak enak dengan Aldi. Tapi pilihan Ayana sangat sulit, karena kemarin ia sudah menolak Aryasa yang ingin pulang bersamanya, tidak mungkin jika ia harus menolak untuk berangkat bersama Aryasa.


Sesekali Aryasa melihat Ayana yang memusatkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Ay," panggil Aryasa lembut.


"Iya?" Ayana menoleh.


"Lo udah sarapan?" tanya Aryasa membuka pembicaraan.


"Udah kok," jawab Ayana.


"Lo mikirin Aldi ya?" tanya Aryasa yang menyadari kalau Ayana mulai terdiam saat Aldi melajukan mobilnya pergi dari rumah gadis itu.


"Nggak kok," jawab Ayana seraya mengembangkan kedua sudut bibirnya dengan terpaksa.