School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Aldi or Aryasa?



Aldi tidak langsung pulang ke rumah, ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Aldi memejamkan matanya, menahan semua rasa sedihnya.


"Apa salah gue, Ay? Sampai lo ngelakuin ini ke gue?"


Aldi menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan, mencoba untuk tenang. Semakin Aldi berusaha untuk berpikir jernih, semakin besar juga rasa sakit di hatinya.


"Apa gue harus kalah lagi? Apa kehadiran gue hanya jadi pemeran pendukung di hidup lo, Ay?"


*****


Ayana masuk ke dalam kelas, melihat hanya ada Aryasa, Satria, Nio dan Qausar yang berada di dalam kelas.


Ayana berjalan ke kursinya, melihat kursi disampingnya masih kosong.


Ayana mengambil ponselnya, mencoba untuk mengirimkan pesan pada Aldi, namun ia urungkan. Untuk apa ia mengucapkan hal yang menyakitkan seperti semalam kalau akhirnya ia yang lebih dulu memberikan perhatian pada Aldi?


Tidak lama kemudian Aldi masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di kursinya.


"Kenapa ngelihatin gue, Ay?" tanya Aldi yang menyadari kalau Ayana terus memperhatikannya mulai dari ia masuk hingga duduk di kursinya.


"Gue kayak orang nggak mandi ya, Ay?" tambah Aldi sedikit tertawa.


Ayana terdiam. Entah kenapa melihat Aldi yang bersikap biasa saja membuat Ayana jadi merasa bersalah telah melontarkan kata-kata yang mungkin membuat Aldi sakit hati.


Aryasa menghampiri Ayana dan duduk di kursi yang berada di seberang gadis itu. "Ay, nanti pulang kampus ada acara nggak?" tanyanya pada gadis itu.


"Nggak ada," jawab Ayana.


"Main dulu yuk nanti," ajak Aryasa.


Ayana menoleh, melihat Aldi yang nampak biasa saja, seperti tidak peduli dengan ucapan Aryasa yang mengajak Ayana untuk menghabiskan waktu bersama setelah pulang kuliah.


Aldi sibuk dengan ponselnya yang memainkan Pou, mulai dari memandikan, memberi makan, bahkan membelikan baju untuk Pou kesayangannya itu.


"Gimana, lo mau nggak?" tanya Aryasa.


Ayana menganggukkan kepalanya.


"Okey, nanti pulang kampus ya," ucap Aryasa seraya berjalan kembali ke kursinya.


"Mantap PDKT nya lancar jaya," celetuk Nio.


"Lancar terus kayak jalan tol," sahut Qausar.


Ayana mendekatkan dirinya dengan Aldi, penasaran apa yang ada di ponsel Aldi, hingga membuat pria itu seolah tidak peduli dengan ucapan Aryasa.


"Aldi," panggil Ayana.


"Iya, Ay," sahut Aldi dengan pandangannya yang masih terfokus ke ponselnya.


"Aldi lagi ngapain?" tanya Ayana basa-basi.


Aldi menunjukkan ponselnya pada Ayana. "Lagi ngurusin anak gue, kasihan lagi sakit nih, Ay," ucapnya.


"Ayana boleh pinjam?"


"Boleh dong." Aldi memberikan ponselnya pada Ayana, membiarkan gadis itu yang mengurus anak kesayangannya, yang tidak lain adalah Pou.


Ayana memang memainkan ponsel Aldi, tapi pikirannya terus memikirkan si pemilik ponsel tersebut. Pria itu bersikap seolah Ayana tidak berkata apapun semalam. Ia tetap seperti Aldi yang biasanya. Tidak menjadi dingin ataupun menjaga jarak dengan Ayana.


*****


Sepulang kuliah Aryasa dan Ayana pergi ke hutan kota yang berada tidak jauh dari kampus.


Sebelum tiba di hutan kota tentunya mereka berdua mampir ke mini market untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk menemani obrolan mereka.


Kedua sudut bibir Ayana mengembang ketika mereka tiba di hutan kota. Banyak sekali orang-orang yang mengobrol santai, bermain layang-layang, bahkan ada juga yang sedang belajar bersama.


"Gue sering ke sini sendirian," ucap Aryasa seraya menggelar tikar kecil yang ia bawa.


"Ini pertama kalinya Ayana ke sini loh," ucapnya senang.


Aryasa menata makanan dan minuman yang tadi mereka beli di atas tikar. "Gue pikir tadinya itu lo pacaran sama Aldi," ucap Aryasa.


Ayana menggeleng, "Nggak, Ayana sama Aldi temenan aja," jawab Ayana.


"Bagus deh kalau lo nggak punya pacar," ucap Aryasa tersenyum.


Aryasa menoleh, melihat Ayana sedikit bingung. "Lo punya pacar?" tanyanya memastikan.


Ayana mengangguk. "Punya, pacar Ayana ganteng banget," jawabnya.


Perlahan senyum di bibir Aryasa sedikit memudar.


"Pacar Ayana lagi kuliah di Seoul National University."


"Korea?"


"Iya, hebat kan pacar Ayana bisa masuk di SNU?"


"Wah hebat dong, gue dengar-dengar sih nggak gampang loh masuk SNU," Aryasa berusaha untuk mendapatkan topik pembicaraan pada Ayana, agar gadis itu tidak bosan, ya walaupun harus membahas soal pacar Ayana.


Ayana tersenyum getir. "Iya, emang nggak gampang untuk masuk SNU. Mangkanya pacar Ayana lebih pilih untuk hilang tanpa kabar biar Ayana nggak jadi penghambat masa depan dia," ucapnya.


Aryasa tertegun saat mendengar penuturan Ayana. Aryasa tidak bisa membedakan Ayana sedang membicarakan kesedihannya atau hanya sekedar membahas tentang pacarnya yang berkuliah di salah satu kampus ternama di Korea Selatan, karena tidak ada kesedihan yang terlihat di raut wajah gadis itu.


"Ay..,"


"Iya?"


"Are you okey?"


Ayana tersenyum. "I'm fine," jawabnya.


"Aryasa tenang aja, Ayana nggak sedih kok, Ayana nggak akan nangis guling-guling di sini, jadi nggak akan bikin Aryasa malu," ucap Ayana seraya mencairkan suasana.


Refleks! Aryasa mengacak-acak pucuk rambut Ayana gemas. Gadis itu bisa menyembunyikan rasa sedihnya dengan sangat rapi.


Melihat Ayana membuat Aryasa teringat dengan sosok Aruna, gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Dari cara Ayana tersenyum, berbicara, bahkan sorot matanya saat menatap Aryasa, sama persis seperti Aruna, itu membuat Aryasa seperti melihat sosok Aruna di dalam diri Ayana.


"Ay, makasih ya," ucap Aryasa.


"Dari kemarin Aryasa bilang makasih terus, kenapa sih?" tanya Ayana penasaran.


Kedua sudut bibir Aryasa mengembang. Kedua sorot matanya berkaca-kaca seraya menatap Ayana lekat.


"Aryasa kok sedih?" tanya Ayana.


Aryasa mengalihkan pandangannya, lalu menarik napasnya panjang dan menghelanya.


Ayana menggenggam tangan Aryasa erat. "Aryasa kangen sama Aruna ya?" tanya Ayana hati-hati.


Pertanyaan Ayana bagai air garam yang disiram ke luka, rasanya sangat perih. Aryasa yang tadinya berusaha menahan rasa sedih, akhirnya pun goyah. Perlahan air matanya terjatuh. Dengan cepat Aryasa langsung menghapusnya.


"Kalau Aryasa mau nangis silahkan, Ayana nggak akan lihat," ucap Ayana seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Aryasa terkekeh. Rasa sedihnya sedikit berkurang karena tingkah Ayana yang menggemaskan.


"Ih, kok Aryasa ketawa sih?"


"Emang kenapa kalau gue ketawa? Nggak boleh?"


"Ya nggak boleh lah, itu artinya Aryasa nggak konsisten jadi cowok. Tadi sedih sekarang ketawa, gimana sih? Aryasa labil!" oceh Ayana.


"Lo bikin gue gemas sih, jadi gagal sedih deh gue," jawab Aryasa.


Ayana tersenyum malu-malu. Mungkin jika ia bisa melihat wajahnya sendiri, ia akan melihat pipinya yang memerah. "Aryasa tanggung jawab ya kalau nanti Ayana baper."


"Dengan senang hati akan tanggung jawab," jawab Aryasa tertawa.


"Ay..,"


"Iya?"


"Kok pipi lo merah?" goda Aryasa.


Ayana memegang pipinya. "Emang iya? Kelihatan ya kalau pipi Ayana merah? Ih! Ini gara-gara Aryasa nih," ucapnya seraya memukul tubuh Aryasa pelan.


"Kok gue?"


"Ya Aryasa sih bikin Ayana baper."