Perfezione

Perfezione
Episode 43



"Mau kemana, Sya? tumben pagi-pagi sudah rapih?" Tanya Kiran saat melihat sahabatnya itu sudah rapi dengan pakaian kantoran.


"Aku mau cari kerja Kiran." Nesya menarik kursi meja makan. "Ayo, temani aku makan dulu, Kiran," ucap Nesya sembari menepuk kursi di sebelahnya.


"Dengan senang hati Nesya ku sayang." Segera Kiran duduk di samping Nesya. Menemani sahabatnya itu sarapan, juga mereka sedikit bertukar cerita.


"Maafkan aku Kiran, aku tidak tau kalau ternyata kamu mengalami kejadian itu. Aku sangat minta maaf, aku..aku tidak pantas disebut sahabat," ucap Nesya penuh penyesalan saat ia tau, bahwa ternyata selam ini Kiran mengalami kasus pelecehan. Ia sangat merasa bersalah, karena tidak tahu menahu tentang apa yang dialami sahabatnya.


"Ini bukan salahmu Nesya, aku memang sengaja tidak memberi tau siapa pun, aku memang belum siap." Kiran menahan sesak dihatinya, sejujurnya menceritakan semua ke Nesya membuat luka hati dan sikisnya terbuka lagi.


"Aku akan mengantarkanmu ke persidangan selanjutnya, kamu tenang aja sekarang ada aku yang bakal selalu ada buat kamu." Nesya menggenggam erat tangan sahabatnya itu, memberikan rasa aman, dan keyakinan bahwa dirinya akan selalu ada di garda depan untuk membela Kiran.


"Sudah-sudah, jangan membuat suasana jadi sedih di pagi yang cerah ini," ucap Kiran sembari tersenyum hangat ke arah Nesya. "Sekarang kamu lanjutin makannya, aku mau siapin bekal dulu buat ke kantor."


Nesya mengangguk, lalu melanjutkan makannya.


"Sudah sarapan saja, kenapa gak tunggu aku?" tanya Candra saat melihat Nesya sudah selesai makan.


"Tadi kamu masih tidur, dan perutku keburu laper kalau nunggu kamu bangun," ucapnya, kemudian berlalu untuk membersihkan piring dan gelas bekas ia makan.


"Cand, ini bekalmu." Kiran memberikan kotak bekal kepada Candra.


Candra mengangguk, mengambil kotak makan tersebut. "Kamu jadi berangkat bareng Jordan, Na? Gak mau bareng aku aja ke kantor?" tanya Candra setelah memasukan kotak makan ke dalam tasnya.


Kiran menggeleng pelan, "Aku bareng sama Jordan aja, Cand. Soalnya nanti mau sekalian ketemu sama pengacara."


Candra mengangguk paham, kini pandangannya beralih pada Nesya yang sudah siap.


"Kamu berangkat sekarang Cand, gak sarapan dulu?" tanya Nesya.


"Enggak deh, keburu siang. Lagian udah dibawain bekel sama Kiran."


"Mau bareng gak?" tawar Candra pada Nesya.


"Kalau kamu maksa sih aku gabisa nolak, yaudah ayo berangkat," ucap Nesya mendahului Candra.


Candra tersenyum samar, "Dih, siapa yang maksa. Dasar Nesya tengil!"


"Aku senang lihat kalian seperti ini, semoga saja kali ini Nesya benar-benar bisa bersama dengan Candra sampai tua bersama."


****


"Gak usah rangkul-rangkul atuh, Candra, ngapain dah!" Nesya menatap risih tangan Candra yang merangkulnya.


Bukan tanpa alasan, semenjak ia berjalan tadi orang-orang yang bekerja di rumah Candra melihat mereka berdua sambil senyum-senyum.


"Apasih, kayak gak biasah aja." Candra melepas tangannya dari bahu Nesya.


"Ya gak gitu, dari tadi diliatin aku gak nyaman," ucap Nesya mencoba menjelaskan.


Candra hanya mengangguk. "Ayo masuk, keburu telat ngantor aku!"


Nesya menghela nafas, "Pasti ngambek."


***


"Jadi, gimana pak perkembangan kasus Kiran. Apa kita bisa menang?"


"Dari bukti-bukti juga hasil visum kita bisa menang Tuan, tapi ada satu hal yang masih membuat saya agak susah, yakni saksi satu-satunya. Adik Adam. Jikalau nanti dipersidangan dia memberikan kesaksian palsu, maka besar kemungkinan Adam akan lebih ringan hukumannya, atau bahkan bisa lepas dari kasus ini," Jelas pengacara mereka.


"Jadi, kunci kemenangan kita dalam kasus ini ada pada adik Adam, benar begitu pak?" Tanya Jordan memastikan.


Pengacara mengangguk, "Ya kita tahu, bahwasanya adik Adam yang membantu Nona Kiran untuk kabur, melihat hal itu saya yakin dia pasti orang baik dan mau memberikan kesaksian dengan jujur. Tapi, mengingat lagi bahwa Adam adalah kakak kandungnya, saya sedikit merasa cemas. Karena bagaimanapun 'Darah lebih kental daripada air', Anda paham kan maksud saya Tuan?"


"Apa kamu yakin, aku akan menang dalam kasus ini Jordan?" Tanya Kiran lirih. Terkadang ia masih takut mengenai kasusnya dengan Adam. Ia takut, kalau nanti ia kalah dan tidak bisa membuktikan kebejatan sepupunya itu.


"Tenang saja, aku akan jamin bahwa kita akan menang melawan Adam berengsek itu." Jordan mengenggam erat tangan Kiran, mencoba memberikan support dan keyakinan.


"Baiklah, aku paham. Kalau begitu, semuanya saya percayakan pada bapak, saya yakin Anda pasti bisa memenangkan kasus ini. Dan untuk adik Adam, minta dia bersaksi dengan sejujur-jujurnya, dan seperti yang anda katakan dia orang baik. Tapi untuk berjaga-jaga, kau boleh sedikit memberinya imbalan atas kesaksiannya."


"Baik Tuan, akan saya laksanakan semua perintah Tuan."


"Baiklah, kalau begitu kita pergi dulu."