
Nesya duduk termenung, saat ini ia sedang di kantor sendirian karena guru yang lain masih mengajar, sedangkan ia sendiri jam mengajarnya sudah habis 2 jam lalu tapi ia masih belum ingin pulang ia masih setia di kursinya sambil memikirkan banyak hal.
Pembicaraannya dengan Resyakila 2 hari yang lalu masih mengganggu pikirannya, bahkan ia sampai susah tidur 2 hari ini.
Selain memikirkan Bagas ia juga memikirkan nasib adik ipar kesayangannya itu.
"Kasihan Kila, dia masih muda tapi harus menerima perjodohan yang bahkan ia tidak setujui sebelumnya. Perjodohan yang sudah di tetapkan bahkan sebelum ia dilahirkan, dia bak seorang burung yang dipatahkan sayapnya sebelum bisa terbang. Dan lagi umur prianya 8 tahun lebih tua. Itu berarti sekarang umurnya 25 tahun, wah lebih tua dia daripada aku dan Bagas. Lantas Kila?"
Ia berteriak dalam hati, bahkan ia mengacak gemas rambutnya, ia geram pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk Kila. Bahkan masalah perjodohan pun ia tidak tahu sama sekali.
Tak di sangka sikap Nesya yang seperti itu di perhatikan oleh Nathan yang sedari tadi bersedekap tangan di pintu kantor.
" Apa anda sedang kesal Bu. Nesya? sampai meracau tidak jelas dan mengacak rambut seperti orang.." Sengaja Nathan tidak melanjutkan kalimatnya, ia memperhatikan Nesya dari atas sampai bawah sambil tersenyum mengejek lalu meninggalkannya.
Melihat dan mendengar ucapan Nathan ia kesal lalu berdiri dari kursinya membawa tas dan mengejar Nathan yang masih berjalan belum jauh.
"Pak Nathan tunggu!!! " teriak Nesya pada Nathan saat di koridor membuat suaranya bergema.
Nathan berbalik dengan wajah datar, dan mengangkat sebelah alisnya. Tapi tidak terdengar suara apapun keluar dari mulutnya.
Nesya mendekat ke arah Nathan seraya berujar " Apa bapak sedang mengejek saya?" berapi-api saat menyampaikan pertanyaan
Nathan hanya mengangkat bahu lalu berbalik meninggalkan Nesya.
Geram Nesya menarik tangan Nathan lalu memlintirnya ke belakang, ia sedang jajal kemampuan bela diri yang di ajarkan Candra semasa dulu.
" Hei Bapak Nathan yang terhormat, selama ini saya sudah memaklumi semua tingkah laku bapak yang selalu seenaknya sendiri dan dingin itu. Tapi kalau bapak berani mengejek saya, saya jamin bapak akan memakai gips di tangan bapak!" Ucap Nesya berapi-api, lupa sudah ia sedang bicara dengan siapa
Sebaliknya Nathan tersenyum mendengar ucapan Nesya, dengan cepat ia membalik tangannya lalu melepaskan tangannya dari kuncian Nesya.
Ehh kenapa mudah sekali dia melepas kuncianku?
Nesya memundurkan langkahnya saat Nathan melangkah maju mendekatinya.
" Pak.. bapak mau apa.. jangan balas pukul saya pak.. nanti nan...nanti saya bisa teriak dan lapor polisi.." Dengan gugup Nesya mekatakan itu, tapi Nathan malah semakin mendekatinya hingga Nesya tersudut di tembok.
Seringai muncul di bibir Nathan.
" Bapak jangan berani macem-macem ya.."
" Saya hanya mau satu macam" Nathan berucap sambil menangkat tangannya, sedangkan Nesya sudah menutup mukanya melindungi dari apa yang akan di lakukan Nathan.
Eh dia tidak memukulku?
Nesya membuka mata, yang ia lihat malah Nathan sedang merapikan rambut Nesya dengan lembut.
" Jangan merusak penampilanmu hanya karena sedang sebal, kamu jadi tidak cantik nanti" Sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Nesya lalu tersenyum.
Deg..Deg...
Nathan tersenyum melihat tingkah Nesya, ia lalu mengelus kepala Nesya seraya berucap " Kalau mau mengancam orang, pastikan ilmu bela dirimu lebih tinggi dari orang itu. Saya lihat ilmu bela dirimu masih cetek layaknya otakmu" Yak kembali lagi pada Nathan yang sarkis.
" Jangan sentuh saya, saya ini sudah bersuami" Sambil menepis tangan Nathan, lalu menabrak tubuh Nathan agar menyingkir setelahnya ia lari tanpa menoleh lagi ke arah Nathan.
"Dasar aneh, kenapa dia bisa jadi guru dengan otak kecilnya itu"
Nathan menatap kepergian Nesya sambil geleng-geleng kepala.
Sementara di tempat lain
Candra dan Jordan sedang mengantarkan Kiran untuk ke kantor polisi, kali ini sudah tahap pemeriksaan.
Kiran yang duduk di belakang sudah cemas, Candra yang duduk di sebelahnya menyadari hal itu karena terlihat Kiran menggigit-gigit bibir bawahnya dan mengengam tangannya kuat-kuat.
" Jangan cemas kami pasti akan mendukungmu dan selalu berada di sampingmu." Sambil melempar senyuman ke arah Kiran, sedangkan Jordan dan satu pengacara di depan juga ikut mengangguk.
" Terimakasih atas kebaikanmu Candra, entah apa jadinya kalau aku tidak bertemu denganmu juga Jordan malam itu." Ucapan terimakasih yang tulus terlontar dari bibir Kiran.
Candra tersenyum dan mengangguk seraya menyodorkan botol air mineral pada Kiran "Minumlah! setidaknya ini akan mengurangi rasa gugupmu"
Kira mengambil botol air mineral itu dan langsung meminumnya.
" Apakah kamu tidak berencana memberi tahu orang tuamu, atau sahabatmu setidaknya mereka harus tahu kondisimu sekarang?"
Tanya Jordan yang sedang mengemudi, ia lalu menatap Kiran dari spion depan.
"Tidak aku tidak mau mereka sedih, Nesya sekarang baru menikah, dan Andin sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dan untuk orang tuaku, mereka tidak akan peduli. Jadi biarlah aku menanggung ini sendirian." Ada kegetiran dalam setiap kalimat yang terlontar dari mulut Kiran.
" Kamu tidak sendirian, ada kami di sini. Dan kami juga akan selalu berada di sisimu sampai kasus ini selesai, dan orang yang sudah melecehkanmu mendapat hukuman yang setimpal." Ucapan Candra yang menenangkan Kiran.
" Aku pasti akan memberitahu mereka, tapi tidak sekarang. Aku mohon padamu Candra jangan beritahu kondisiku yang sekarang ini ya... aku tidak mau menyusahkan mereka karena mencemaskanku, sudah cukup aku menyusahkan kalian semua tidak untuk mereka"
Sambil menunduk Kiran berucap itu, ia seungguh tak enak hati pada Candra juga Jordan yang begitu amat baik kepadanya.
Dulu Kiran, Andin dan Nesya adalah sahabat di kampus. Mereka selalu bersama, tapi setelah lulus Kiran langsung pindah ke kota X karena ia memiliki masalah dengan keluarga di Jakarta, ia memilih tinggal di tempat bibinya, satu-satunya orang yang ia percaya. Bahkan ia sampai tak menghadiri pernikahan Nesya dan hanya mengirimkan kado pernikahan. Ia masih enggan untuk kembali ke Jakarta.
Ia hidup dengan baik bersama bibi dan paman juga sepupu perempuannya. Tapi saat anak sulung bibinya yang bernama Adam pulang, rumah itu serasa neraka bagi Kiran. Ia selalu mendapat perlakuan buruk dari sepupunya itu, dan puncaknya saat malam itu hujan deras dan hanya ada Kiran dan dua sepupunya di rumah.
Dan kejadian yang menjijikanpun terjadi Adam mencoba melecehkan Kiran, beruntung sepepu perempuan Kiran mengetahui hal itu dan berhasil membantu Kiran kabur. Tapi nasi sudah jadi bubur Kiran sudah merasa kotor, karena tubuh yang selalu tertutup oleh pakaian longgar itu, sebagian sudah di lihat bahkan di pegang juga di rasakan oleh Adam.
Ia bahkan masih mengingat dengan jelas saat bagaimana Adam melemparnya dengan kasar di atas kasur, melepas jilbab panjangnya lalau merobek baju bagian depan Kiran. Dan hal menjijikan lainnya saat Adam yang bukan siapa-siapanya berani melihat auratnya juga mencium bibirnya, membuat banyak tanda di tubuh bagian atasnya, melakukan hal yang seharusnya tidak dilakuakan, meraba bahkan memegang tubuhnya secara seenaknya dan hal yang tak senonoh lainnya.
Saat mengingat kejadian itu Kiran selalu menangis histeris, biasanya ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mobil sudah sampai di kantor polisi. Kira dan yang lainnya turun dari dalam mobil. Kiran amat gugup dan terlihat mukanya yang pucat pasi. Melihat hal itu Candra memegang tangan Kiran berusaha menenangkan.
" Aku disini bersamamu jangan takut, apapun yang terjadi aku akan tetap mendukungmu" Candra berucap dan menggandeng tangan Kiran untuk masuk.