Perfezione

Perfezione
Episode 21



Setelah menyelesaikan makan siang mereka.Bagas dan Nesya menyusul Nenek dan Bunda di halaman belakang.


"Nek,Bund..." panggil Bagas pada mereka setelah ia mendudukkan diri di samping Nenek dan Nesya disamping Bunda.


"Kenapa nak?"


"Bagas nanti malem harus berangkat tugas ke kota X,jadi Bagas mau pamit sama Bunda dan Nenek."


"Loh,nak bukannya kamu dapet cuti sepuluh hari ya,kenapa udah mau ada tugas ke kuar kota?padahal kan ini belum sepuluh hari,belum seminggu malah!" Ucap Bunda meminta penjelasan pada Bagas.


Sedangkan Nenek dan Nesya hanya diam mendengarkan.


"ya...karena tugas nya hari ini bund mau gimana lagi"


"yah tapi kan nak kam...." Ucapan Bunda terpotong dengan ucapan Nenek.


"Sudahlah nduk,memang kan Bagas pekerjaannya begitu,harus siap dikirim dimanapun dan kapanpun.Jadi tugas kita cuma mendo'a kan semoga pekerjaannya lancar." Sambil memegang tangan menantunya tersebut.


"Tapi kasian Nesya dong buk,baru nikah udah di tinggal ke luar kota."


Bunda memandang Nesya.


"Nesya gapapa kok bund,Bunda jangan khawatir ya." Berbicara sambil tersenyum.


"Berapa lama?" Tanya Bunda lagi pada Bagas.


"Gak lama kok bund,cuma 3 bulan. "


"Kamu gapapa Nak ditinggal Bagas tugas 3 bulan? 3 bulan itu gak sebentar loh." Ucap Bunda lagi.


"Gapapa bund,bunda tenang aja.Dulu aja waktu masih pacaran,Bagas gak kasih kabar,gak ketemu sama Nesya satu setengah tahun aja Nesya baik-baik aja kok,apalagi cuma 3 bulan kecil bund." Nesya berucap sambil tersenyum,tapi senyumannya menyimpan banyak ketakutan.


"Baiklah kalau kamu baik-baik saja.Dan untuk Bagas,kamu jaga diri,jaga mata dan jaga hati untuk istrimu ya.Inget udah punya istri."


Ucap Bunda tegas pada Bagas.


"Iya Bund siap 86.Sekarang Bagas mau pamit buat packing baju.Yuk sayang bantu aku."


Nesya mengangguk dan langsung menggandeng tangan Bagas sampai kamar.


"Sebab dari itu saya tidak setuju kalau Bagas jadi tentara buk,dia jadi gak bisa ngatur waktu sendiri untuk keluarganya.Bahkan kadang dia gak ada waktu momen-momen penting keluarga." Ucap Bunda pada Nenek yang duduk di depannya.


"Sudahlah nduk,kita ini sebagai orang tua wajibnya hanya mendukung dan mendo'a kan yang terbaik untuk putra putri nya."


Balas nenek yang menenangkan Bunda.


Pilihan menjadi seorang tentara,bukan hal yang mudah untuk Bagas bisa menjadi tentara.Banyak yang menentang keinginannya untuk menjadi abdi negara,ya terutama sang Bunda adalah orang yang paling menentang cita-cita Bagas.


Namun karena dukungan dari Ayah,nenek,Nesya juga Candra,Bagas bisa jadi tentara sesuai keinginannya.



Di Kamar Bagas dan Nesya.



"Yang ini udah selesai packing baju nya,ranselnya mau di taruh dimana?" Tanya Nesya saat sudah selesai dengan salah satu tas ransel yang akan di bawa oleh Bagas.



"Taruh aja di dekat pintu sayang biar enak nanti tinggal bawa!"Ucap Bagas tanpa melihat Nesya,karena ia juga masih sibuk mengemas peralatan lainnya.



Nesya menganggkat tas ransel Bagas dan ternyata lumayan berat.Dengan susah payah ia membawa tas itu dan menaruh di dekat pintu.




setelah meletakkan ransel tersebut Nesya kembali pada Bagas dan duduk di sampingnya.



"Sayang.."Panggil Nesya pada Bagas.



"Kenapa sayang?" Bagas menghentikan pekerjaannya dan memandang wajah Nesya.



"Kalau kamu tugas ke luar kota aku tinggal dimana?"



"Maksud kamu?" Bagas tak mengerti maksud pertanyaan Nesya.



"Yah kan kalau ada kamu aku tinggal di sini karena ikut kamu,Tapi kalau kamu gak ada apa aku bakalan balik ke rumah Ayah?Apa aku tinggal di rumah dinas kamu?" Tanga Nesya sambil menunduk.



Bagas memegang kedua pipi Nesya dan mengangkat hingga mata mereka bersitatap.



"Sayang dengerin aku,kamu itu udah jadi istri aku,jadi otomatis kamu itu tanggung jawab aku bukan tanggung jawab Ayah kamu lagi.Jadi kalau aku gak ada kamu harus tetep tinggal di rumah ini,di kamar ini.Kamu boleh kok kalau mau main atau nginep di rumah Ayah.Tapi kamu sekarang harus inget bahwa rumah kamu itu disini.Dan kalau untuk tinggal di rumah dinas untuk saat ini mungkin belum bisa,kalau aku pulang dinas kita akan tinggal di sana ya.!"



jelas Bagas panjang lebar pada Nesya



"Apa aku boleh bekerja?karena kalau aku hanya diam di rumah aku akan bosan?" Tanya Nesya lagi.



"Iya sayang kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau,tapi tetap dengan menjaga martabat agama,orang tua,suami dan juga diri kamu sendiri!"



"Makasih sayang...aku sayang banget sama kamu!"Sambil masuk ke dalam pelukan Bagas.



Bagas membalas pelukan Nesya



"Nanti sebelum berangkat aku akan ke rumah orang tua mu,apa kamu mau ikut?" Nesya pun mengangguk tanda setuju.



Mereka kembali melanjutkan mengemasi barang-barang yang akan dibawa oleh Bagas.Setelah di rasa sudah selesai merek menyempatkan tidur siang bersama.



"Ini tidur siang terakhir ku sama Bagas,selanjutnya untuk tiga bulan ke depan aku gabisa tidur sama Bagas lagi" gumam Nesya dalam hati saat ia tidur di samping Bagas.