Perfezione

Perfezione
Episode 31



Selepas pulang dari kantor polisi, Kiran di antarkan Jordan pulang ke rumah. Sedangkan Candara dan pengacaranya pergi ke kantor untuk mengurus urusan perusahaan. Di mobil wajah Kiran masih nampak pias.


Tadi saat Kiran pergi ke toilet, bibi Kiran menghampirinya dan menampar pipi Kiran. Bibi yang selama ini sangat ia percaya, bahkan ia sayangi melebhi rasa kasih sayang kepada orang tua nya sendiri, tega menamparnya bahkan memaki-maki dirinya dengan kalimat yang amat kasar.


Kiran menggigit bibir bawahnya. Sakit hatinya di perlakukan seperti itu, bukan ia yang salah tetapi kenapa malah ia yang terpojokkan.


" Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan ucapan bibimu itu. Aku yakin ia hanya emosi, sekarang kamu hanya perlu fokus untuk mencari keadilan dan bisa memenangkan kasus ini." Jordan berusaha menenangkan Kiran dengan kalimatnya.


Kiran masih enggan bersuara, bibirnya masih saja setia bungkam. Menurutnya perlakuan bibinya atas dirinya tadi adalah pukulan terbesar untuknya.


Hening suasana dalam mobil, Jordan tidak membuka suara lagi setelah kalimat itu terucap, ia memberikan ruang pada Kiran agar tenang hatinya. Saat di tengah perjalanam terdengarlah suara Adzan menyeruakan umat agar segera melaksanakan Shalat Asar.


Jordan lalu berbelok menuju ke surau terdekat agar Kiran bisa shalat.


" Shalatlah agar hatimu tenang, Tuhan adalah tempat terbaik berkeluh kesah, ia selalu tahu kondisi hambanya. Jadi tenangkan hatimu dan bersujud lah pada Tuhanmu! " Perintah Jordan pada Kiran yang masih belum beranjak dari duduknya.


" Aku tahu saat ini mungkin kamu sedang marah dengan keadaan yang tidak mendukungmu, tapi satu yang harus kamu ingat! Seburuk apa pun keadaan yang kamu alami saat ini, jangan pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. ' Jordan melepas sabuk pengamannya lalu keluar dan membukakan pintu untuk Kiran'


Keluarlah Tuhanmu sedang menunggumu !" Lanjutnya lagi


Kiran keluar menatap Jordan dengan tatapan yang susah di artikan.


" Kamu..?" Pertanyaan yang menggantung keluar dari bibir Kiran.


Jordan tahu maksud dari pertanyaan Kiran, ia lalu menunjukkan kalung Rosario yang selama ini ia kenakan tetapi tertutup oleh pakaian.


sambil mengangkat kalungnya ia berujar " Kamu paham kan, atau perlu ku jelaskan?"


Kiran menggeleng lalu ia langsung masuk ke dalam Surau untuk beribadah. Cukup lama Kiran beribadah, mungkin ia sedang bercerita kepada Allah atas apa yang terjdi dalam kehidupannya.


30 menit, Jordan masih setia menunggu Kiran keluar dari Surau ia duduk di tempat duduk yang terbuat dari cor semen depan surau sambil bercengkrama dengan bapak pedagang siomay.


Ya begitulah Jordan, ia tidak bisa kalau harus diam saja sedangkan ada orang di sebelahnya. Tidak memandang kasta atau apa pun selagi manusia dan dia bertingkah laku baik maka Jordan akan dengan senang hati mengajaknya bertegur sapa atau mengobrol panjang.


Seperti saat ini ia sudah menghabiskan 2 porsi siomay sambil berbincang dengan pedagangnya juga.


" Nahh itu dia akhirnya dia keluar pak, tak kira tadi dia pingsan di dalam surau!" Gurau Jordan pada bapak penjual siomay.


Kiran melangkah datang ke arah Jordan " Yuk aku udah selesai!" Ajak Kiran setelah sampai di depan Jordan


" Duduk dulu sini, makan siomay iya kan pak!" Sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya.


Kiran menurut, duduk dengan jarak aman di sebelah Jordan.


" Pak siomay satu lagi ya!"


" Oke den siap!" Bapak pedagang siomay dengan sigap dan wajah sumringah membuat pesanan Jordan


" Tapi aku.." ucap Kiran terhenti saat melihat Jordan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya seraya menoleh dan menunjukkan bahwa bapak itu sangat senang saat menyiapkan pesanan.


Kiran mengangguk paham lalu tersenyum.


"Ini neng pesenannya, kalau kurang bumbu bisa ambil sendiri jangan sungkan!" Seraya memberikan satu porsi siomay kepada Kiran


" Terima kasih pak, "


Kiran memakan siomay dengan perlahan, sembari ikut nimbrung perbincangan antara bapak pedagang dengan Jordan.


Senja menjelang, Jordan sudah membawa mobil masuk ke pelataran rumah.


Kiran dan Jordan turun dari mobil, di rumah ternyata Candra belum pulang dari kantor sehingga membuat Kiran merasa cemas, sebenarnya ada 3 asisten rumah tangga perempuan juga satpam tapi entahlah Kiran masih sering merasa cemas saat hanya ada dirinya dan Jordan.


Jordan menyadari perubahan sikap Kiran, ia lantas pamit pergi agar Kiran merasa lebih aman berada di rumah.


" Aku akan menyusul Candra ke kantor, kamu baik-baik di rumah! Kalau ada apa-apa langsung telpon aku ya. Oke aku pergi dulu." Pamit Jordan pada Kiran


" Iya, Hati-hati ya" lirih Kiran menjawab.




" Hei kenapa ngelamun lagi sih!" Kejut Jordan kepada Candra yang sedang melamun sambil menatap pemandangan dari jendela.




" Ayolah cerita ke aku apa kamu punya masalah? Apa ini masalah Kiran atau masalah bisnis?"



Candra menatap Jordan bingung



*Kenapa Kiran, aku bukan memikirkan dia*



" Ayolah aku tahu kau menyukai Kiran dan kau cemas akan kasusnya. Tapi tenang saja kita pasti bakalan bisa jeblosin Adam ke penjara kok. Selama masih ada Jordan semua beres!" Sedikit congkah tapi biarlah.



" Sudahlah aku sedang malas berbicara dan beradu argumen denganmu. Sekarang lebih baik kita pulang saja, badanku sudah sangat lelah!" Candra bangkit dari duduknya di ikuti Jordan dari belakang.



*Katakan saja kalau kamu ingin segera menemui Kiran di rumah, cihh banyak alasan sekali. Bahkan kau tidak mau mengakui kau suka pada Kiran, padahal tadi kau sempat memegang tangannya*.


*Dasar tukang gengsi, kenapa kalau suka tidak langsung bilang saja*.



Ejek Jordan pada Candra dalam hati. Ia dalam hati, mana berani langsung bisa kena bogem dari Candra kalau ngomong begitu.



Epilog:



Suara telpon Candra berbunyi, tertera nama **Nesya Pendek** sedang menelponnya.



" Halo *Assalamualaikum*, iya kenapa Nes tumben telpon?"



"Waalaikumsalam. Lusa aku mau ke Raja Ampat cand, sekolah ngadain rekreasi ke sana!" Ucap Nesya girang



" Ohh gitu, btw kamu sama rekan kerja doang atau?"



"Kila ikut nanti, btw nanti aku mampir ke rumahmu ya. Kepo aku sama rumahmu yang di sana!"



" Iya nanti kamu sama adek tak jemput aja ya, nanti kalau kamu gak betah tinggal di penginapannya tinggal di rumah aku aja!" Tawar Candra pada Nesya.



" Wahhh boleh juga itu, btw makasih ya. Kalau gitu tak tutup dulu ya telponnya, Kila udah panggil buat makan malem. See You Lusa di Raja Ampat Candra! *Assalamualaikum*"



" *Waalaikumsalam*, Oke Nes kalau udah dateng kabari ya aku langsung meluncur buat jemput kamu sama adek!"



Panggilan terputus menyisahkan Candra yang sedang tersenyum bahagia, mendengar Nesya akan datang dan berkunjung ke rumahnya membuat hatinya senang. Ia rindu pada sahabatnya itu, sampai-sampai ia lupa bahwa di rumahnya ada Kiran di rumahnya dan dengan senang hati memberikan izin Nesya untuk menginap