
Lintang dan rembulan seolah sepakat untuk tak menampakkan dirinya. Langit yang biasanya indah oleh mereka berdua kini gelep gulita, seolah mereka ikut berduka.
Nesya masih setia duduk di balkon. Foto pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu masih tak lepas dari tangannya, semakin ia pandang wajah suaminya, semakin besar juga rasa kerinduan yang menyeruak dalam hatinya.
Ia berusaha tegar menghadapi musibah ini, walaupun sebenarnya hatinya hancur dan sangat terluka.
"Sebuah mimpi yang ku angan-angan, sebuah harapan yang aku damba tentang pernikahan kita sirna sayang. Kau meninggalkanku begitu cepat, bahkan kata pisah pun tak pernah terucap.
Kamu curang! Kamu pamit untuk pergi bekerja, tapi sekarang kau hanya tinggal nama, bahkan ragamu saja tidak bisa di tatap mata.
Sebegitunya kau ingin menyiksaku dengan rindu?"
Malam itu Nesya menumpahkan segala rasa sedihnya atas kehilangan Bagas. Ia menceritakan pada semsesta betapa malangnya nasibnya, ia mengadukan pada Tuhan atas segala rasa sakit yang ia terima atas kematian suaminya.
***
Jam terus berputar, hari telah berganti masanya sesuai kehendak sang Pencipta. Sedikit demi sedikit kini Nesya sudah mulai menjalani aktifitas seperti biasanya. Menjadi tenaga pengajar membuatnya sejenak lupa akan rasa sakit kehilangan seseorang beberpa bulan lalu.
"Siang Bu..." Sapa para murid yang berpapasan dengannya.
Nesya hanya mengangguk untuk membalas sapaan muridnya itu.
Perubahan nampak jelas pada diri Nesya, ia yang dulu ceria, periang, cerewet dan ramah, sekarang berubah menjadi pribadi yang pendiam.
Kepergian suaminya sedikit besar memengaruhi kebidupan Nesya sampai dengan saat ini.
Nesya duduk di ruang guru dan berkumpul dengan guru lainnya yang sedang makan siang. Tapi walaupun ia berada di ruangan itu, pikitannya berada di tempat lain yang entah kemana.
Sampai ia tak sadar bahwa jam makan siang sudah habis dan rekan seprofesinya sudah memasuki kelas untuk kembali mengajar.
"Bu, kenapa nglamun. Awas kesambet nanti!" seru Nathan yang sudah ada di depan meja Nesya.
Sedikit terkejut tapi Nesya berhasil untuk tidak mengeluarkan ekspresi yang berlebihan. "Maaf," tuturnya singkat lalu ia bangkit dari duduknya hendak pergi ke kelas untuk mengajar.
Namun langkah Nesya kalah cepat dengam tangan Nathan. Ia berhasil mencegah Nesya untuk melangkah.
"Lepaskan! Saya sudah bersuami!" ucap Nesya dengan dingin.
Tanpa diminta dua kali, Nathan melepas cekalan tanggannya dari tangan Nesya.
"Siapa?"
"Entahlah saya juga kurang tahu yang pasti tadi dia mengenakan seragam tentara, namanya Letnan-"
"Dimana?" tukas Nesya cepat, padahal Nathan belum selesai bicara.
"Dia menunggu di ruang tunggu bawah."
Nesya bergegas untuk turun, ia bahkan berlari sangat ceoat saat menuruni tangga. Bahkan Nathan yang mengejarnya dengan kaki panjang sedikit kepayahan.
"Bagas!" lirih Nesya saat memandang punggung lelaki itu, senyum merekah ia tampilkan. Harapannya seolah muncul kembali saat melihat perawakan lelaki itu mirip suaminya.
Ternyata tak lama senyuman terbit di bibir Nesya, ia kembali menampakkan muka kecewa dan kesedihan saat laki-laki yang diharapnya adalah suaminya ternyata hanyalah khayalan belaka.
"Maaf bapak ada perlu apa ya mencari saya?" Tanya Nesya setelah mempersilahkan orang itu duduk.
"Perkenalkan Nama saya Letnan Adi Prayuda, saya adalah rekan suami anda yang berhasil selamat dari tragedi jatuhnya helikopter beberapa bulan lalu." Lelaki itu memperkenalkan diri pada Nesya sebagai teman seprofesi Bagas.
"Kedatangan saya kesini ingin menyerahkan ini!" ucapnya sambil menyodorkan sebuah hp.
Nesya memandang lekat hp itu, dan segera mengambilnya saat ia yakin hp ini milik suaminya.
"Sebelumnya saya minta maaf karena telah lambat menyerahkan barang milik Bagas, dikarenakan saya harus perawatan dan memulihkan kondisi jiwa dan raga saya setelah inside tersebut.
Hp tersebut benar adanya milik Bagas, suami anda. Hp itu dititipkan ke saya sewaktu kita akan naik helikopter. Entah mengapa saat itu dia menitipkan hp pada saya, saat saya tanya dijawabnya kalau ranselnya telah penuh dan tidak muat lagi dimasuki barang.
Tanpa pikir panjang saya simpan hp itu kedalam ransel saya. Bahkan ia juga memberitahukan kepada saya PIN hpnya yakni tanggal lahir anda. Dan sekarang saya paham kalau Bagas ingin saya memberikan hp ini kepada anda saat ia sudah pergi."
Mendengarkan penjelasan Letnan Adi membuat tangis Nesya luntur, ia tak menyangka bahwa sebenarnya suaminya sudah mempunyai firasat buruk atas kejadian yang akan menimpanya.
"Apakah ada hal lain yang suami saya sampaikan kepada anda?"
"Bagas sebenarnya sangat jarang membicarakan masalah pribadinya kepada orang lain. Tapi malam sebelum kami pulang ia sempat bercerita sedikit tentang pernikahannya."
Letnan Adi menceritakan semua percakapan antara dirinya dengan Bagas malam itu. Mendengar cerita dari Letnan Adi, Nesya makin tak kuasa menahan tangisnya.
Hingga lama waktu berselang, akhirnya Letnan Adi pun pamit pergi. Ia juga mengucapkan bela sungkawa dan memberikan semangat kepada Nesya untuk bisa menjalani hari baru kedepannya.