
Langit begitu gelapnya, awan mendung berwarna hitam pekat dan suara gemuruh mengelegar disana.
Nesya duduk di pesisir pantai degan tatapan nanarnya. Setelah kedatangan rekan kerja Bagas tadi, ia memberanikan diri membuka suart terakhir yang di tulis Bagas sebelum pergi bertugas.
Surat itu sebenarnya sudah lama ada ditangannya, tapi ia masih enggan membukanya.
______________________________________________________
...Teruntuk Istriku, Ganesya. Bila suart ini sudah berada di tanganmu, dan kamu sudah membacanya berarti aku sudah pergi dan berada di alam lain....
...Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk terus bertahan hidup, maafkan aku karena aku tidak bisa kembali pulang dan berkumpul bersamamu....
...Peecayalah, aku sudah berusaha. Tapi takdir berkata lain, Tuhan ternyata lebih menyayangiku sehingga aku dipanggil secepat ini....
......Aku titipkan adikku Resyakila padamu ya, jangan sampai di dijodohkan tanpa persetujuan, aku takut nanti hatinya akan terluka dan dia akan membenci keluarganya.......
...Dan teruntuk kamu istriku tersayang, aku tahu kamu kuat. Jangan terlalu larut akan kesedihan, jalanmu masih panjang, teruskan karirmu, gapai semua cita-citamu....
...Dan bila nantinya kau menemukan orang baru yang bisa menggeser posisiku, aku ikhlas dengan senang hati aku mendukungmu untuk menikah lagi. Aku akan amat sangat bahagia bila kau bisa melakuakn itu....
____________________________________________________
"Beraninya kau menyuruhku menikah lagi Bagas! Sampai kapan pun aku tak akan menikah, aku tak akan menggantikan posisimu dihatiku!" Jerit Nesya keras, ia berucap seraya memukul-mukul dadanya keras.
"Sudah cukup luka yang kau berikan atas kepergianmu , sudah cukup aku menyaksikan cintaku tak terselamatkan karena laut, sudah cukup kau pergi meninggalkanku!!!
Jika boleh meminta kepada Tuhan, aku ingin mengulang hari saat kau masi disini bersamaku di pantai ini. Jika tahu akhirnya kau akan pergi, aku tak akan membiarkanmu pergi!!!"
Berteriak ia kepada semesta, ia mualai berjalan mendekat ke arah deburan ombak semakin lama tubuhnya semakin tertutup dan hampir menghilang di telan lautan.
"Kamu gila ya Nes! Kalau sampai nanti kamu tenggelam bagaimana denganku!" Bentak Candra pada Nesya.
"Lepasin jangan sentuh gua! Kenapa memangnya kalau gua tenggelam? Toh hidup gua sudah tidak berguan lagi, sudah tidak ada Bagas disisiku, untuk apa gua masih disini. Lebih baik gua temuin Bagas di atas sana!"
Nesya melepaskan pelukan Candra, ia bangkit dari duduknya lalu pergi mengambil tasnya yang tak jauh dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Candra yang kini telah mensejajari langkah Nesya.
"Pulang!" ketusnya.
Tak banyak bicara Candra berlari meninggalkan Nesya.
"Dih, bisa-bisanya gua ditinggal sendiri sama dia! terus guna dia kesini tadi apa kalau cuma mau ninggalin gua!" dumel Nesya, ia lalu berhenti duduk di sebuah kursi membuka ponselnya hendak memesan ojek.
"Sial kok gak ada sinyal sih, mana sekarang mau ujan!"
"Seandainya Candra tadi tidak datang, pasti sekarang aku sudah bersamamu di atas sana," gumam Nesya lirih, tak tersa burilan air mata jatuh di pelupuk matanya.
"Emangnya lu yakin Nes, kalau lu mati lu bakalan ketemu sama Bagas? Sedangkan Bagas di surga dan lu di neraka!" Ucap Candra tiba-tiba, ia memberikan jaket kepada Nesya.
Nesya menoleh pada Candra yang sudah duduk di sampingnya
"Baju lu tembus pandang, gua gak mau mata lelaki lihat ke sana!" Ujar Candra sembari memandang dada Nesya.
Nesya merapatkan jaket yang Candra berikan padanya, sedikit malu tapi ia berhasil menguasi mimik mukanya.
"Kenapa bisa disini?" Tanya Nesya setelah lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Candra menoleh ke arah Nesya. "Cari lu lah, mau ngapain lagi gua disini," ujar Candar sedikit kesal.
"Siapa yang kasih tahu lu, gua ada disini?"
"Nathan." Jawabnya singkat.
Nesya menyipitkan matanya, kenapa Candra sampai bisa bertemu Nathan. Apakah tadi dia ke sekolah dulu lalu mencarinya sampai ke sini.
"Gua tadi ke sekolah lu, di suruh sama nenek. Pas disekolah lu nya kagak ada. Terus gua tanya orang tuh namanya Nathan, dia bilang lu kepantai. Jadi gua kesini dan gua nemuin orang bodoh yang mau bunuh diri!" Kalimat bermuat sindiran dari Candra membuat Nesya mengalihkan pandangannya.
Candra memegang bahu Nesya, mendongakkan dagu Nesya agar tatapan mereka bertemu.
"Sya, tatap mata gua. Gua tahu lu kecewa dan sedih atas kepergian Bagas. Tapi gua mohon sama lu, jangan lakuin hal bodoh kayak tadi. Lu tahu gak siapa saja yang bakal berduka semisal lu bener-bener tenggelam lagi?
Ayah, ibumu pasti bakalan kecewa dan sedih, abangmu juga. Dan pastinya Bagas di atas sana juga bakalan sedih lihat lu kayak gini."
Nesya hanya bisa menangis, menagisi perbuatan bodoh yang tadi ia lakuakn. Ia bersyukur karena Candra tepat waktu menolongnya, bilaman tidak entah apa yang akan terjadi padanya dan keluarganya.
"Jangan ulangi lagi ya," lanjut Candra dengan suara yang lembut
Nesya mengangguk mengiyakan.
Baiklah sekarang kita pulang ya, lu udah ditungguin Nenek di rumah.
Merka berdua pulang, di tengah perjalanan tak ada suara selain suara radio yang sengaja di putar Candra untuk mencairkan suasana.
Nesya diam dengan segala pikirannya, ia merutuki kebodohannya yang hendak mengakhiri nyawa dengan bunuh diri.
'Benar kata Candra, aku tidak akan bisa bertemu dengan Bagas jika aku bunuh diri. Ya Tuhan, ampuni hambamu ini karena sudah ingim mengakhiri hidup dengan cara yang tidak terpuji'