
"Sayang kita beneran pulang hari ini?katanya kamu dapet cuti sepuluh hari.Ini masih lima hari loh,kita juga belum Ke Bali,kan sayang Candra udah beliin buat kita!!?"
Seru Nesya kesal sambil mengemasi barang-barangnya dan Bagas ke dalam koper.
"Yah gimana lagi sayang komandan udah panggil tugas masa aku mau leha-leha aja" Memberi pengertian
"Yah tapi kan semua orang tau kalau kamu tuh baru menikah,masih manten anyar kok tega-tega nya nyuruh kamu tugas!"
Nesya sangat kesal karena hari ini harus pulang karena Bagas nanti malam harus tugas,entah tugas kemana yang jelas pagi tadi setelah sarapan,Bagas langsung menyuruh Nesya agar berkemas.
saat di mobil Bagas dan Nesya diam saja tidak ada yang ingin membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Nesya yang masih kesal karena bulan madunya harus berakhir dan Bagas yang memikirkan entah apa dan fokus menyetir
Lama mereka saling terdiam dan sibuk dalam pikiran masing-masing,membuat rasa kantuk menghampiri Nesya,yang akhirnya tertidur dalam posisi duduk.
Melihat Nesya sedang tidur senyum tipis muncul di bibir Bagas.Ia lalu merubah posisi kursi agar Nesya bisa tidur dengan benar.
Lama perjalanan tapi Nesya belum juga bangun,ia masih terlelap bahkan saat mereka sudah tiba di rumah Bagas.Akhirnya Bagas menggendong Nesya masuk ke rumah.
"Loh kok susah pulang bulan madu nya?terus itu kenapa Nesya di gendong?apa dia sakit?" Tanya Bunda beruntut pada Bagas saat membukakan pintu rumah.
"Nesya baik-baik saja kok bun,sekarang aku mau bawa dia ke kamar dulu ya." Ucap Bagas sopan pada Bunda.
Sesampainya di kamar Bagas membaringkan Nesya di tempat tidur dengan sangat pelan agar tidak mengganggu waktu tidurnya.
Setelahnya ia menuju kamar mandi membersihkan diri.
Dalam kamar mandi Bagas melamun dalam hati ia bergumam
"*aku akan baik-baik saja aku sudah berjanji pada Nesya untuk tetap hidup*."
Entah pekerjaan apa yang akan dilakoni Bagas.
Saat dia selesai mandi,Nesya sudah bangun ia duduk di tempat tidur sambil bersedekap tangan.
"*seperti anak kecil kalau marah*" dalam hati Bagas.
Ia pun menghampiri Nesya yang masih dalam posisinya sambil cemberut.
**cup**
Satu kecupan hangat mendarat di kening Nesya.
"Sudah puas tidurnya?" Tanya Bagas sambil memakai bajunya di depan Nesya.
"kenapa gak bangunin aku?"
"Habisnya kamu tidurnya pules banget aku jadi gak tega."
Bagas berjalan ke meja rias untuk menyisir rambutnya.
**Grabb**,
Tiba-tiba Nesya memeluk Bagas dari belakang.Memeluknya sangat erat,dan setelahnya terdengar isakan kecil disana.Bagas juga merasakan bahwa bajunya sedikit basah.
"kamu kenapa sayang?" Tanya Bagas setelah membalikkan tubuhnya menghadap Nesya.Ia memegang kedua pipi Nesya.
Nesya hanya menggeleng sebagai jawaban,tapi tangisnya semakin deras membuat Bagas bingung apa yang terjadi pada istrinya.
Bagas memeluk Nesya agar ia tenang.Lama waktu berselang akhirnya Nesya sudah tenang.
Bagas menuntunnya agar duduk di tempag tidur.
"Kamu kenapa sayang?kenapa tiba-tiba menangis?coba bicara pelan-pelan!" lembut Bagas bicara pada istrinya.
"Aku..aku tadi mimpi kamu...itu jatuh...kamu pesawat nya..."
Nesya tak melanjutkan kata-kata nya ia langsung memeluk Bagas erat sangat erat.Suara isakan tangis kembali terdengar di tengah isakan terdengar Nesya bergumam
"*Jangan tinggalkan aku Bagas,aku mencintaimu aku gamau kamu tinggal pergi*"
Mendengar itu Bagas hanya tertegun entah perasaan apa yang ia rasakan.
"Tadi aku mimpi pesawat yang kamu tumpangi jatuh di perairan,lalu kamu kamu...." Ucap Nesya terputus oleh ucapan Bagas.
"Udah sayang gak usah di lanjutin,tugas kamu hanya berdo'a sama Allah supaya aku baik-baik saja.Dan aku janji sama kamu,aku akan berusaha tetap hidup semampu aku karena yang memiliki kehidupan adalah Allah.Jadi kamu tenang ya sayang."
Nesya mengangguk mendengar penjelasan Bagas.Ia pun berpikir kembali,kenapa harus takut itu kan hanya mimpi bunga tidur.
"Yaudah kamu mandi dulu gih habis itu turun kita makan siang bareng,aku tunggu di bawah ya!." mengelus rambut Nesya sebelum ia pergi.
Nesya bergegas mandi agar Bagas tidak lama menunggunya.
Di Meja makan sekarang hanya ada Bunda dan Nenek.
Bagas meraih kursi lalu duduk di tempat ia biasa duduk.
"Yang lainnya kemana bund?" Tanya Bagas setelah ia duduk
"Ayah kerja,adek sekolah,kak Zima ama Bima udah pulang, Kak Rendra sama kak sisil lagi ajak Nisca imunisasi." Jelas Bunda pada Bagas.
"ohhh terus Nenek gak ikut Kak Bima?" Tanya Bagas pada Nenek.
"Ehhh kamu ngusir Nenek?cucu durhaka kamu ya!" Nenek ngegas.
Sedangkan Bunda hanya senyum melihat tingkah Nenek dan cucunya.
"Eh bukan gitu nek maksud Bagas,Nenek baperan.Maksud nya kan kemarin Nenek ikut Kak Bima terus Bunda ajak Nenek tinggal sini gamau ngotot mau urusin si kembar gitu."
"Nenek sekarang mau tinggal di sini,mau lebih kenal sama cucu mantu Nenek,Nenek tidak mau sampai cucu mantu nenek kamu jahilin."
"Sudah Nenek sama cucu kok bertengkar terus.Oh iya Nesya tadi kenapa nak?kok kamu gendong,apa dia sakit?" Tanya Bunda mengalihkan pembicaraan yang memicu pertengkaran antara Nenek dan cucu ini.
"Itu bund,Nesya ketiduran di perjalanan terus aku gak tega mau bangunin jadi ya aku gendong."
"Ohh gitu Bunda kira kenapa?" Ucap Bunda lega.
"Biasa lah namanya juga manten anyar nduk,kaya kamu gak pernah aja" Ucap Nenek
"Yap Nenek aku memang betul." Bagas menjentikan jari sambil dan mengacungkan jempol pada Neneknya.
"Selamat siang,Bunda Nenek!" Sapa Nesya yang turun dari tangga.
Penampilannya sudah rapi memakai baju rumahan,matanya pun sudah tidak sembab.
"Eh Sayang sudah Bangun sini duduk disamping Nenek nak sini!" Ucap Nenek pada Nesya.
Nesya mengangguk duduk disamping Nenek.
"Kamu udah makan sayang?" Tanya Nesya pada Bagas.
"Belum nungguin kamu buat makan bareng."
"Yaudah aku ambilin makan ya!" Nesya mengambilkan nasi dan lauk untuk Bagas.Dia sudah tidak harus bertanya ukuran makan Bagas karena dia sudah hafal di luar kepala.
Setelah nya ia juga mengambil makan untuk dirinya sendiri.
"Nenek mau tambah aku ambilin ya!" Tawar Nesya pada Nenek saat dilihatnya piring Nenek sudah tandas.
"Tidak usah sayang,kamu lanjut saja makannya Nenek sama Ibu nya Bagas akan ke taman belakang ya!"
"Iya Nek,nanti kalau sudah selesai kami aka menyusul."
Nenek dan Bunda meninggalkan mereka berdua di meja makan.