
"Hallo Sya, kamu dah sampai?" tanya Candra di seberang telpon
"Iya cand, nanti siang kita ketemuan ya. Aku ajak Killa sekalian, katanya dia kangen sama kamu! Oh iya kalau boleh kita mau nginep, sesuai sama janji kamu kalau kita boleh nginep di rumah barumu."
"Oke deh, nanti tak Share look ya! Nanti juga tak suruh orang siapjn kamar kalian," ucap Candra
"Oke deh sip, ketemu nanti siang ya kita. Assalamualaikum."
Setelah menerima telpon dari Nesya, muka Candra selalu berseri-seri sepanjang hari, senyuman tak luntur dari bibirnya
Jordan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu terus memperhatikan sikap atasan sekaligus sepupunya itu. Ia lalu masuk dan langsung duduk di hadapan Candra.
"Kenapa?" tanya Candra yang merasa risih karena terus diperhatikan Jordan.
Jordan masih diam tak menjawab, ia malah menaikan satu alisnya.
"Kenapa sih lu liatin gua kayak gitu, ada yang aneh kah?" Candra melihat dirinya sendiri.
'Sepertinya tidak ada yang aneh'
Candra menatap Jordan, meminta jawaban mengapa ia memberikan tatapan aneh padanya.
"Gua perhatiin nih, elu sehabis telponan sama Nesya lu senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Kenapa?" tanya Jordan menyelidik
Diberikan pertanyaan seperti itu membuat Candra salah tingkah, ia lalu merubah posisi duduknya tegap menghadap Jordan.
"Tidak, kata siapa." Elak Candra
Jordan berdecih, ia tak percaya atas ucapan Candra. Ia menatap Candra tajam, seolah tatapannya berkata. 'Habis kau tidak memberi tahuku'
"Nesya dan Resyakilla akan berkunjung kemari, dan mereka juga bakalan nginep beberapa hari." Terang Candra akhirnya.
Setelah mendengar ucapan Candra, raut muka Jordan berubah. Sepertinya ia tidak senang akan kabar kedatangan sahabat sepupunya itu.
"Kenapa mukamu begitu? Apa lu gak suka sahabat gua dateng?"
"Bukan begitu, tapi apa lu pikun?"
Candra yang tak mengerti maksud ucapan Jordan hanya menatapnya meminta penjelasan lebih maksud dari ucapannya.
"Candra, elu kan udah janji sama Kiran bahwa lu gak bakal kasih tahu keberadaan dan kondisi Kiran sama sahabat atau orang terdekatnya. Dan secara tidak langsung saat elu meng-Iya kan Nesya buat nginep berarti lu udah ngasih tahu keberadaan Kiran."
Candra terdiam, ia lupa bahwa ia sudah berjanji pada Kiran agar tidak siapapun tahu keberadaannya. Kegembiraannya atas kedatangan Nesya membuatnya lupa akan adanya Kiran di rumahnya yang perlu perlindungan. Ia memukul kepalanya, merutuki sikapnya.
"Terus gimana nih, apa gua telpon Nesya dan bilang kalau dia gak di bolehin nginep gitu?"
"Jangan begitu Candra, nanti Nesya bakalan sedih!" ucap Kiran yang tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan.
Candra dan Jordan menoleh ke arah Kiran.
'Sejak kapan dia disini? Dan kenapa dia tidak mengetuk pintu sebelum masuk'
"Maaf sebelumnya, saya lancang langsung masuk keruangan bapak," ucap Kiran sungkan
"Tidak masalah, duduklah!" titah Candra
"Seharusnya aku yang minta maaf, karena aku lupa dengan janjiku," ucap Candra menyesal.
"Tidak, seharusnya saya yang minta maaf karena sudah merepotkan kalian. Dan Candra tidak perlu tak enak hati karena mengijinkan Nesya menginap, toh itu juga rumah kamu. Lagi pula aku memang aku sudah memikirkan untuk berkabar dengan sahabat-sahabatku tapi aku belum ada kesempatan. Dan syukurnya, sekarang Nesya malah akan berkunjung."
Raut bahagia ditampilkan oleh Kiran, sebenarnya sudah sejak lama ia memikirkan hal ini, tapi ia merasa belum tepat waktunya. Tapi sepertinya takdir berpihak padanya, belum ia menghunungi Nesya ia sudah datang sendiri. Ya walaupun Nesya niatnya bukan untuk menemuinya, tapi ia yakin pasti Nesya akan senang saat bisa bertemu dengannya lagi.
"Apakah kamu sudah siap dan yakin bertemu dengan sahabatmu?" tanya Jordan memastikan.
Kiran mengangguk mantap, seraya menampilkan senyum yang sudah lama ia tak sunggingkan.
"Baiklah, aku lega karena kau sudah yakin. Jordan atur jadwal makan siang di restaurat biasannya ya, dan suruh orang rumah untuk menyiapkan kamar Nesya dan Kila!" titah Candra pada Jordan yang dibalasi anggukan.
***
"Kak, kita gak salah masuk restaurant kan. Kita udah nunggu 30 menit loh, tapi kak Candra belum juga dateng."
"Sabar dik, maybe mereka masih diperjalanan. Kalau kamu laper makan aja dulu, kan udah ada makanan."
"Gak enak atuh kak kalau makan sendiri, btw nih kak di lihat-lihat restauran ini kayaknya mahal deh!" ucap Kila sembari matanya menelusuri tiap sudut restaurant.
"emm iya juga ya, kakak baru sadar," ucap Nesya setelah ikut memandangi tiap sudut restaurant.
Nesya dan Killa pun asik berbincang tentang restaurant tempat mereka makan sekarang, menghilangkan rasa gabutnya karena hp mereka berdua mati, dan hp Killa sedang mengisi daya.
Hingga obrolan mereka yang awalnya remeh temeh, sekarang jadi obrolan serius, yakni perjodohan Killa.
"Kak semisal nih aku kabur dari rumah apa aku bakalan jadi gelandangan ya?"
"Huss, ngomong apa kamu ini. Ya enggak lah, mana mungkin kakak biarin kamu jadi gelandangan."
"Terus, kakak mau biayain hidup aku gitu?" tanya Killa bercanda, tapi malah di anggap serius Nesya.
"Dik, semisal kamu nanti keluar dari rumah karena menolak perjodohan. Dan gak ada satu pun yang mau bantu kamu, kakak bakalan siap bantu kamu. Kakak bakalan usahain buat cari tempat tinggal yang layak buat kamu, dan makan 3 kali sehari lauk 4 sehat 5 sempurna," ucap Nesya seraya memegang kedua tangan Killa.
Karena pernikahan adalah hubungan sakral, yang di jalankan dua insan untuk selamanya.
Mendengar ucapan Nesya Killa terharu, ia menghambur ke pelukan kakak iparnya itu. Ia sangat bahagia, di saat semua orang memaksanya untuk menerima perjodohan ini, ternyata masih ada seseorang ya bisa menghargai pemikiran dan keputusannya, bahkan akan memberikan bantuan dan menjamin kelayakan hidupnya.
"Terima kasih kak, aku sayang banget sama kakak."
Momen haru antara keduanya terpaksa berhenti karena seruan seseorang yang amat sangat Nesya kenal suaranya, yak Candra.
"Wah ada apa nih, kok saling peluk?" Tanya Candra pada mereka, ia langsung duduk di hadapan Nesya dan Killa.
"Yah bang Candra, merusak momen kita aja nih!" ucap Killa kesal, tapi ia masih meraih tangan Candra untuk ia salimi.
"Wah Resya udah besar ya, udah cantik. Gimana udah punya pacar belum?" goda Candra pada Killa.
"Jangan panggil Resya atuh bang, panggil aku Killa. Ingat Killa!" Tegas Killa pada Candra, sedangkan Candra hanya tersenyum melihat aksi protes Killa.
"Iya Resyakila. Eh iya Nesya gimana kabarmu?" Candra beralih bertanya pada Nesya.
"Jangan sok basa basi deh Cand, buka elu banget deh!"
Candra terkekeh, tenyata sifat Nesya masih sama. Ia pikir setelah lama tidak bertemu Nesya akan sedikit lembut kepadanya. Ternyata sama saja.
"Oh iya Cand, lu sendiri aja nih, Jordan gak jadi ikut?" tanya Nesya saat mengamati tak ada tanda-tanda Candra datang bersama orang lain. Padahal ia sempat bilang kalau akan datang bersama Jordan.
"Ada tuh, mereka lagi di kamar mandi."
"Mereka?" tanya Nesya bingung
"Iya Jordan sama-"
Belum sempat Candra menyelesaikan kalimatnya. Sudah terdengar teriakan bahagia dari Kiran dan Nesya.
"Nesya!"
"Kiran!" Ucap mereka berdua bersamaan.
Mereka saling berpelukan, mengabaikan orang-orang sekitar yang menatap mereka.
"Ya Allah, Kiran aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi. Kamu apa kabar, kenapa hilang gitu aja. Aku telponin gak pernah aktif?!"
"Ekhmm kalau ngobrol sambil duduk dong biar enak!" Intruksi Jordan yang sedari tadi berada di samping Kiran.
Merekapun duduk bersama, setelah Killa bersalaman dan berkenalan dengan Kiran dan Jordan ia pamit ke toilet.
"Kiran, kok kamu bisa ada di sini sih gimana ceritanya? dan kok kamu bisa dateng sama Jordan, atau kalian jangan-jangan?" tanya Nesya dengan menyertakan asumsi kalau Kiran dan Jordan ada hubungan.
"Ceritanya panjang Nes, kalau aku cerita bisa besok pagi baru selesai. Yang jelas sekarang aku kerja di perusahaan Candra, dan aku tinggal bersama Candra dan Jordan."
Nesya semakin bingung dengan penjelasan Kiran yang cuma seupil itu, tapi ia tidak mau bertanya lebih. Karena sekarang yang penting ia bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya, mungkin lain kesempatan ia akan bertanya lebib kenapa Kiran bisa tinggal dengan 2 lelaki bujang itu.
Tak lama makanan yang mereka pesan sampai, mereka masih berbincanc tentang banyak hal sembari makan dan menunggu Killa kembali dari toilet.
Tak lama di saat mereka masih asik berbincang, terdengar suara berlari dan nampaklah Killa yang sedang berlari ke arah mereka.
" Kakak aku punya kabar buruk," Ucap Kila dengan nafas terengah tatkala ia sudah sampai di meja mereka.
Nesya yang tengah makan bersama Candra, Jordan dan Kiran pun segera menoleh ke arah Kila seraya bertanya.
" Kabar apa dik? kenapa mukamu seperti itu, sini deket kakak, duduk dulu lalu ceritakan kabar apa yang buat adik ipar tersayang kakak seperti itu," ucap Nesya seraya menepuk kursi sebelahnya yang memang tadi adalah tempat duduk Kila.
Kila duduk di dekat Nesya, langsung memeluk Nesya dan menangis tersedu-sedu.
Semua orang yang disana bingung akan perubahan sikap Kila yang tiba-tiba.
" Kak Bagas kak, kak Bagas"
" Kak Bagas kenapa dek?"
"kaka Bagas....."
" Bagas kenapa dik?" tanya Nesya yang panik, ia melepaskan pelukan Killa dan memandang wajah Killa meminta penjelasan.
"Helikopter yang ditumpangi Kak Bagas jatuh di perairan kak!"
Bak tersambar petir di siang bolong. Tubuh Nesya langsung melemas mendengar kabar buruk yang di alami suaminya itu.
"Dimana dik?"
"Di pulau X kak."
"Kita kesana sekarang!" ajak Nesya ia lalu bangkit, mengambil tas dan hp nya yang masih belum terisi penuh.
"Tunggu Nes, aku ikut. Gak baik kalian kesana berdua dengan kondisi seperti ini!" Cegah Candra saat Nesya hendak beranjak.
Tanpa pikir panjang Nesya menyetujui usulan Candra, mereka segera bergegas ke bandara untuk mendapatkan tiket penerbengan paling cepat ke pulau X.