
" MasyaAllah pemandangannya bagus banget kak, bersyukur deh bisa lihat ciptaan Allah yang seelok ini" Kagum Kila pada pemandangan pantai di pesisir Raja Ampat.
" Kak tolong fotoin aku ya!" lanjut Kila sambil menyerahkan hp nya kepada Nesya lalu ia sendiri sudah mengambil pose untuk berfoto ria.
Cekrik...cekrik...cekrik
Entah sudah berapa puluh foto yang diambil, dengan berbagai macam pose yang membuat Nesya geleng-geleng kepala.
" Kamu berpose sudah layaknya model saja dek" Ujar Nesya sembari memberika hp kepada Kila agar ia melihat hasil jeprerannya.
" Tentu dong kak, btw kita foto berdua yuk!" Ajak Kila langsung merangkul Nesya lalu berselfi, bahkan ia juga tak segan minta tolong kepada murid Nesya agar bisa di fotokan bersama kakak iparnya itu.
" Wahh gila bagus banget ini, kak aku rasa kakak berbakat deh jadi fotografer, liat hasil fotonya bagus-bagus semua! wah aku harus pamer nih ke temen-temen ku kalau bisa foto dengan pemandangan dan hasil foto yang keren abissss"
" Dih kamu congkah sekali dek!" Gemas Nesya kepada adik Iparnya
" Dek, habis ini kirim foto kita berdua ya. Mau tak tunjukin ke Kakakmu sama Candra kalau hp kakak udah selesai isi baterai!" Lanjut Nesya
" Oke deh kak sip, oh iya aku lupa bilangin kalau Kak Bagas pulangnya di majuin kak. Tadi pas dia telpon ke hp kakak gak aktif terus kakak telpon ke hp aku suruh kasih tahu kek kakak gitu." Kabar dari Kila yang membuat Nesya senang
" Kamu beneran dek? kapan Kakakmu pulang?" Tanya Nesya antusias
" Aku juga belum tahu kak, soalnya tadi kakak telpon nya pas kita akan terbang jadi gak terlalu bisa tanya-tanya hehehe."
" Yaudah dek, nanti tak tanyain sendiri aja. Sekarang kakak mau kumpul dulu ya sama guru-guru yang lain, kamu disini sebentar nanti kakak balik lagi ok. Kamu bisa kok ajak kenalan murid-murid kakak kalau kamu bosen sendirian." Tutur Nesya kepada Kila yang diangguki sembari mengacungkan dua jempolnya
Pantai yang indah, dengan pemandangan pasir putih dan jenirnya air laut membuat Nesya enggan meninggalkan tempat duduknya sekarang. Ia duduk di tepian pantai sembari menikmati angin yang menerpa tubuhnya.
Yang lain sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, dan Kila ia sudah mendapat teman baru sebaya asik bermain dan bercanda ria dengan kawan barunya
Senja menjelang, matahari bergerak perlahan untuk kembali keperaduan. Semburat warna jingga menambah elok pesona alam.
" Saya baru sadar kalau senja lebih baik dari pelangi." Suara berat Nathan yang sudah duduk di sebelah Nesya.
Nesya menoleh sedikit terkejut
Eh sejak kapan dia disini? Kenapa aku sama sekali tidak menyadari keberadannya
" Kenapa bisa begitu? Bukankah senja hanya datang sekejab lalu pergi begitu saja, bukankah bilamana di ibaratkan jikalau senja adalah orang yang datang dengan waktu yang amat singkat lalu pergi dengan cepat menyisakan rasa yang begitu kuat? Itu menyakitkan Pak." Ujar Nesya denga filosofinya
" Tapi setidaknya senja berjanji pasti akan muncul lagi, tidak seperti pelangi yang datang tak tahu kapan kembali dan pergi dengan seenak hati." Ucap Nathan sambil menikmati senja
Yang dikatakan memang benar, tapi...
" Kenapa bapak mengatakan hal itu pada saya?"
" Jangan panggil saya bapak, saya bukan bapakmu!" Ucap Nathan sambil menuding kening Nesya
" Panggil nama saja, atau mas. Umurku hanya lebih dewasa beberapa tahun darimu, aku belum setua itu sampai-sampai kau memanggilku bapak!" Lanju Nathan pada Nesya
Sedangkan Nesya hanya nyengir kaku, dan sudahlah ekspresinya ambigu.
" Eh kenapa menunjukkan ekspresi ambigu dan mukamu jelek begitu?" Ejek Nathan
Eh kenapa selalu mengejek sih, ahh terseralah tapi apa dia bilang aku tidak boleh memanggilnya bapak, dan harus panggil dia dengan nama atau mas? wahhh sepertinya dia salah minum obat.
" Hey kenapa melamun?" Tanya Nathan sambil melambaikan tangan tepat di depan wajah Nesya.
" Eh tidak pak, siapa yang melamun. Saya hanya berpikir kalau bapak salah minum obat." Upsss Nesya kelepasan bicara.
" Apa kamu bilang? saya salah minum obat?" Geram dan gemas nada bicara Nathan.
" Eh bukan seperti itu pak maksud saya, gimana ya jelasinnya." Nesya bingung mencari alasan yang cocok ia berikan pada atasannya ini.
" Jelaskan aku menunggu penjelasanmu!"
Eh kenapa dia bersikap seperti itu. Aishhhh dan kenapa aku juga harus repot-repot menjelaskannya.
Saat Nesya hendak membuka suara, rington hp nya berbunyi.
" Halo, Assalamualaikum sayang. Kamu dimana gimana kabar kamu sekarang?" Salam Nesya pada suaminya kala telpon sudah tersambung. Ia sambil berjalan menjauh dari Nathan, setelah sebelumnya pamit menerima telpon.
" Iya, Waalaikumsalam sayang. Aku disini alhamdulillah baik, oh iya perihal apa yang kamu tanyakan tadi aku tidak bisa memberi tahu kapan pasti aku pulang."
" Kenapa sayang?"
" Karena aku ingin memberi kejutan untukmu, kalau kamu tahu jadwal kepulanganku kan jadi gak seru!" Ucap Bagas yang ingin menggoda istrinya.
" Ya Tuhan, sama istri sendiri main rahasia-rahasiaan. Ok tapi gak masalah, aku akan selalu menunggu, menanti kedatanganmu, dengan sabar, dan ikhlas penuh perjuangan, pengorbanan dan air mata." Nesya sedang alay ya mendramatisir sesuatu.
" Istriku alaynya kumat!" Ejek Bagas.
" sekali-sekali lah sayang, janji kok alay cuma sama kamu hehehehe"
Hening beberapa saat, tidak ada yang bersuara dari sebrang telepon. Bagas diam dan Nesya menunggu Bagas bicara.
" Sayang...." Panggil Nesya akhirnya, karena yang di sebrang sudah diam terlalu lama .
" hemmmm"
" Kenapa diem aja, kamu masih disana kan. Ini telponnya juga basi nyambung kenapa diem aja?" Tanya Nesya khawatir.
" Gak apa-apa sayang, aku cuma lagi bayangin muka kamu aja, di rasa-rasa telponan gini bukan tambah buat aku seneng tapi malah buat kangen ya."
" Ishhh gombal. Eh iya kenapa kita gak Video call aja sayang?"
" Biasalah disini bisa telpon aja udah Alhamdulillah, sayang aku mau tanya sama kamu." Bagas tiba-tiba beralih topik
" Tanya aja kali kenapa harus izin segala, " Ucap Nesya sambil tertawa kecil. Tidak biasanya suaminya seperti itu.
" Semisal nanti aku ada tugas lagi di luar kota atau negara dan jangka waktunya lebih lama gimana? Apa kamu mau nunggu aku?"
Kenapa bertanya pertanyaan aneh seperti itu
Walaupun sedikit merasa bingung Nesya tetap menjawab pertanyaan Bagas. " Sayang, kamu itu suamiku, imamku, belahan jiwaku juga kekasihku. Sejauh apa pun kamu pergi, selama apa pun kamu pergi dan tak tahu kapan kembali. Jika ragamu masih bisa dilihat dan kamu masih tetap menjadikanku tempat kembali maka aku akan selalu menanti."
Di sebrang sana Bagas tersenyum lalu berujar " Terima kasih sayang, aku mencintaimu. Aku berjanji akan segera kembali."
" Aku memegang janjimu sayang"
" Sayang, aku di panggil komandan. Aku tutup dulu ya telponnya, sampai ketemu di rumah I Love You."
" Love you"
Tak lama terdengar suara Kila memanggil Nesya mengajak untuk masuk ke penginapan karena hari sudah menjelang malam.
Epilog :
" Kakak aku punya kabar buruk," Ucap Kila sendu
Nesya yang tengah makan bersama Candra, Jordan dan Kiran pun segera menoleh ke arah Kila seraya bertanya.
" Kabar apa dek? kenapa mukamu seperti itu, sini deket kakak lalu ceritakan kabar apa yang buat adik ipar tersayang kakak seperti itu" Ucap Nesya seraya menepuk kursi sebelahnya yang memang tadi adakah tempat duduk Kila.
Kila duduk di dekat Nesya, langsung memeluk Nesya dan menangis tersedu-sedu.
Semua orang yang disana bingung akan perubahan sikap Kila yang tiba-tiba.
" Kak Bagas kak, kak Bagas"
" Kak Bagas kenapa dek?"
"kaka Bagas....."
Ada apa dengan Bagas? See You Next Episode