Perfezione

Perfezione
Episode 35



Proses evakuasi helikopter dan pencarian korban masih terus dilakukan, semua tim yang ditugaskan mengerahkan seluruh kemampuan.


Usaha tidak akan menghianati hasil, kini badan helikopter sepenuhnya sudah bisa diangkat ke daratan. Terhitung jumlah korban yang telah ditemukan sudah hampir seluruhnya yakni 9 orang, sedangkan 3 lainnya masih dalam tahap pencarian.


Hari ini tepatnya hari ketujuh proses evakuasi, tapi belum juga ada kabar baik mengenai keberadaan Bagas. Apakah ia masih hidup atau sudab tiada.


"Nesya..." panggil Candra lirih kepada Nesya. Ia hanya menoleh pada Candra yang berada dibelakangnya.


"Kamu ikut aku sebentar ya, ada barang milik Bagas yang ditemukan!" ajak Candra masih dengan suaranya yang lirih.


Mata Nesya berbinar, ia langsung berdiri dan mengikuti langkah kaki Candra tanpa banyak bicara. Yang di pikirannya adalah Bagas selamat, dan ia bisa kembali lagi bersama-sama dengan Bagas hidup berbahagia selamanya.


"Dengan Istri Letnan Bagas Adipati?" Tanya seseorang itu, yang diyakini Nesya adalah pemimpin pasukan penyelamat dari TNI AL.


"Iya pak, saya istri Letnan Bagas Adipati"


"Baik, silahkan duduk!"


Setelah duduk, Nesya di beritahu bahwa saat ini masa waktu evakuasi sudah habis, dan akan diperpanjang 3 hari kedepan. Untuk 3 prajurit yang belum ditemukan itu, bilaman setelah 3 hari mereka masih belum ditemukan maka mereka akan dinyatakan gugur dalam bertugas.


Mendengar hal itu Nesya terpaku dan hanya bisa terdiam, tak terasa air mata merembes di pipinya.


Sakit, sesak, sedih. Perasaan semuanya membuncah melebur menjadi satu dala. kepiluan. Ia sudah tak fokus lagi mendengarkan apa yang diucapkan oleh orang didepannya. Pikirannya hanya fokus pada keselamatan Bagas.


***


"Nesya kamu yang sabar ya kamu pasti kuat menjalani ujian ini. Bagas pasti sudah tenang di atas sana, kamu harus yakin itu." Kiran memeluk Nesya erat, ia juga amat terpukul atas kejadian yang menimpa sahabatnya itu.


"Kami akan selalu bersamamu Nesya!" Imbuh Andin yang juga ikut menghambur kedalam pelukan mereka.


Iya tepat hari ini Nesya sudah kehilangan separuh jiwanya. Saat sudah di putuskan berhentinya pencarian korban dan saat itu juga Bagas dan kedua rekannya belum di temukan. Saat itulah Nesya hancur.


Sedikit harapannya sudah sirna, kekasihnya sudah dipanggil menghadap sang Pencipta.


"Bahkan aku sama sekali tidak bisa melihatmu untuk terakhir kali, sungguh Bagas perpisahan ini amatlah perih!"


Nesya hanya bisa menangis, ia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Sungguh baru saja kemarin ia bercengkrama dengan Bagas lewat panggilan suara, tapi saat ini jangankan suaranya. Raganya saja ia tak tahu keberadaannya.


"Nak...Ayo turun, sebentar lagi acara pengajian dimulai, di bawah sudah banyak yang menunggu Bapak dan Ibumu juga sudah menunggu!" ajak Bunda halus kepada Nesya.


Nesya bangkit, ia lalu memeluk ibu mertuanya itu. Kata maaf dan segala penyesalan ia sampaikan kepada mertuanya itu.


"Sudah nak, cukupkan tangisanmu...Belajar menerima takdir nak. Kepergian Bagas bukan salahmu, tapi ini memang sudah kehendak sang Pencipta." Bunda melepaskan pelukan Nesya, beliau berucap sambil menatap tepat manik mata Nesya.


Kesedihan jelas terpancar di wajah Bunda, tapi beliau amatlah tegar.


Bukan tersenyum Nesya malah makin sedih, setelah Bunda keluar ia makin mengeraskan tangisannya di pelukan sahabat-sahabatnya.


"Nesya..." panggil Ibunda Nesya pelan.


Ia tahu kondisi putrinya saat ini sedang terpuruk, yang ia bisa lakukan hanyalah menyemangatinya dan memberikan doa terbaik untuk putri kesayangannya itu.


"Hari ini ibu tidur sama kamu ya?" tawar ibunda Nesya ia takut bila Nesya sendirian ia akan melakukan perbuatan nekat yang bisa menyakiti dirinya.


"Tidak usah buk, aku hanya ingin sendiri."


"Tapi nak ibu takut-"


"Ibu percaya sama Nesya kan bu, kalau Nesya tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa melukai diri sendiri. Nesya cuma minta waktu untuk bisa sendiri, aku harap ibu paham ya."


Mendengar penuturan putrinya, Bu.Fatma pun mengerti. Ia mengangguk lalu pergi meninggalkan Nesya sendir.


Nesya berjalan ke arah balkon, duduk ia sembari memandang langit yang dipenuhi lintang dan cahaya rembulan.


Pikirannya kembali mengenang saat bahagia bersama suaminya. Masa di mana mereka pertama berjumpa saat masa kanak-kanak, lalu dipertemukan lagi saat masa remaja tepatnya di bangku SMA.


Saat itulah benih-benih cinta tumbuh di antara keduanya, yang awalnya mereka saling acuh hingga akhirnya dengan bantuan Candra mereka bisa semakin dekat hingga menjalin asmara.


Memori Nesya masih segar saat Bagas pertama kalai mengutarakan niat baiknya. Tak romantis memang, hanya disaksikan kursi taman dan rumput juga tanaman Bagas mengutarakan isi hatinya dan memintanya untuk menjadi pendampingnya.


Semua memori indah, kebahagiaan bersama Bagas masih terukir indah dibenaknya. Semuanya tidak ada yang terlewat sedikitpun.


"Kamu pembohong Bagas!" teriak Nesya diiringi tangisan yang menggema.


"Kamu bilang kamu mencintaiku, kamu tidak akan meninggalkanku. Tapi apa semua ini Bagas...Bahkan belum sempat aku merasakan manis berumat tangga denganmu kamu sudah pergi meninggalkanku!"


"Mana janjimu untuk setia denganku, mana janjimu untuk bisa bertahan hidup apa pun kondisimu? hikss mana Bagas? hikss aku mencintaimu sayang, tapi kenapa kau pergi meninggalkanku?"


Luruh sudah semua air mata yang ia tahan selama ini. Sungguh kehilangan orang terkasih adalah hal yang paling menyakitkan, Bagas adalah sosok yang amat ia sayangi.


Kau seperti senja, datang dengan waktu yang amat singkat lalu pergi menyisakan rasa yang begitu kuat. Senja tahu cara untuk pamit sedangkan kau pergi dengan cara begitu pahit.


Kamu adalah orang yang tak tersentuh keberadaannya, seseorang yang sudah tak terlihat. Namun kerinduan begitu melekat.


Sejauh apa pun kamu pergi, tetap kamu lah yang ku cari pertama kali.


Rindu ini selalu menyapaku, kenangan indah bersamamu selalu hadir dalam benakku. Tapi aku sadar bahwa alam kita telah berbeda dan kita tak kan bisa bersama.


Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Sekuat apa pun doa yang di panjatkan, bila Tuhan tidak menakdirkan untuk bersama maka mereka akan berpisah.