Perfezione

Perfezione
Episode 28



Indahnya nabastala malam yang dipenuhi lintang, membuat Nesya keluar untuk penikmati pemandangan di luar dengan ditemani secangkir coklat panas kesukaannya.


Ia membayangkan sosok Bagas duduk di sampingnya menikmati malam yang indah.


Sungguh ia adalah perempuan biasa yang juga memiliki rasa.


" Aku hanya ingin sedikit waktumu, aku ingin saat nanti kau kembali kita bisa pergi melihat fajar, dan mengantarkan matahari pulang ke peraduan. Aku juga ingin melihat indahnya malam bertabur bintang di temani angin malam dan kau ada di depan pandangan, " Ujar Nesya kepada gelapnya malam.


Ia menatap kembali langit malam yang amat menajubkan.


Tak lama terdengar bunyi telpon panggilan masuk, Nomor tidak dikenal. Ia menimbang-nimbang antara mau mengangkat atau membiarkannya, dan akhirnya setelah berdering cukup lama ia mengangkat panggilan itu.


" Haloo.. Assalamualaikum, dengan siapa ya? Ada yang bisa dibantu? "


" Waalaikumsalam sayang, Ya Tuhan aku rindu sekali denganmu.." Jawab orang tersebut girang.


Nesya mengerutkan dahinya, menjauhkan HP nya dari telinga ia sedikit terkejut karena yang ia dengar adalah suara Bagas.


"Apa benar orang yang menelpon ini Bagas, tapi kenapa nomornya?"


Tanya nya dalam hati.


" Ini benar suara Bagas suami saya, tapi ini bukan nomornya jadi anda siapa ya? Jangan iseng malam-malam!" Jawab Nesya akhirnya


Di sebrang telpon terdengar orang itu tergelak mendengar jawaban Nesya. Tak lama ia berujar


" GANESYA PUTRI MAHARANI!!!! Beraninya kamu bilang seperti itu dengan suami sendiri." Ucapnya tegas tapi di akhirnya ia tertawa.


Nesya merasa amat bahagia, akhirnya selama lebih sebulan ia bisa mendengar suara orang yang amat ia rindukan. Sampai tak terasa air mata menetes. Entah mengapa ia bisa jadi cengeng seperti itu, tapi ia bener-benar rindu akan sosok suami yang amat ia cinta.


" Hiks.. Bagas ini beneran kamu, ini kamu Bagas suami ku kan, hiks..


kenapa kamu baru telpon, aku rindu sekaligus cemas tahu. Kmau tahu setiap malam aku susah tidur karena aku takut terjadi hal yang tidak baik menimpamu, dan saat siang aku berusaha keras agar aku tak memikirkanmu! Kamu tahu tidak? banyak murid laki-laki yang menggodaku di sekolah! Apa kamu tahu itu! dan bla bla bla bla bala.... ' masih banyak lagi keluh kesah yang Nesya bicarakan pada Bagas selama ia tinggal pergi. '


Dan aku rindu padamu Bagas, setiap malam aku menunggu kabar darimu, tapi tidak ada sekali bahkan pesanku saja tidak kau baca."


Bagas hanya setia mendengarkan Nesya berbicara, jujur ia amat rindu akan suara istrinya itu.


" Sudah berkeluh kesahnya?" Tanya Bagas setelah di rasa Nesya selesai.


" Aku tidak mengeluh, aku hanya rindu" Cicit Nesya pelan


" Terima kasih karena kamu sudah hidup dengan baik selama aku pergi, percayalah aku di sini bekerja untukmu. Di sini aku menyelamatkan hidup banyak orang yang sudah di tunggu keluarganya pulang. Dan aku juga merindukanmu, bukan berarti aku tidak memberi kabar padamu karena aku lupa denganmu, tapi aku sedang menjalankan kewajubanku untuk negara." Lembut tutur Bagas pada Istrinya.


" kau jelas tahu pekerjaanku sayang, dan semua pekerjaan itu penting juga berisiko. Aku tidak perlu memberutahumu keberadaanku sekarang dan kamu tidak perlu menyusulku.


Karena nanti 3 Minggu lagi aku akan pulang dan kembali di sisimu."


"Benarkah?" Tanya Nesya ragu


" Iya sayang tentu saja, tunggu dan bersabar 3 minggu lagi rindumu akan berujung temu."


Senyum mengembang di wajah Nesya tatkala ia mendengar kabar kepulangan Bagas yang sudah pasti.


" Tapi 3 minggu itu cukup lama sayang"


" Tidak lama, karena nanti kamu juga akan liburan ke Raja Ampat kan, jadi pasti waktu akan terasa cepat!"


" Eh kamu kok tahu, padahal tadinya aku mau membatalkan liburanku karena kamu datang. 'Nesya sedikit terkejut karena Bagas tahu jadwalnya, ia berdiri dari duduknya lalu membuka pintu kamar takut jikalau Bagas ternyata sudah pulang, ia lalu kembali ke balkon dan melihat halaman depan tapi tetap tidak ada. '


Sayang kamu belum pulangkan? " Nesya memastikan


" Belum, kan aku sudah bilang 3 minggu lagi!"


" Tapi kenapa kamu bisa tahu jadwalku, kalau kamu belum pulang?"


Dan akhirnya Bagas menjelaskan bahwa dirinya tadi menelpon kedua orang tua nya dan Mertuanya, saat hendak menelpon Nesya hp nya mati dan ia meminjam hp kawan kerjanya.


" ohh gitu, tapi kenapa gak telpon aku dulu?" Kesal Nesya


" Aku menghubungi orang tua kita dulu, memastikan apakah kau baik-baik saja. Dan tentunya mencari informasi dari mereka, apakah istriku nakal atau pemalas" Goda Bagas pada Nesya


Mereka bertelponan cukup lama hingga waktu sudah menunjukkan tengah malam.


" Tidurlah!" Titah Bagas di sebrang sana


" Aku belum mengantuk, aku masih ingin mendengar suaramu, aku masih rindu.." Suara tak rela dari Nesya


" Tapi baterai hp kawanku sudah mau habis, tak enak rasanya bila menyusahkan dia. Kalau hp aku sudah terisi penuh daya aku berjanji akan segera mengabarimu, ya sayang. " Bujuk Bagas, sebenarnya ia juga masih rindu tapi ya sudahlah.


Akhirnya mereka menutup sambungan telpon.


Di waktu yang sama tapi di belahan bumi yang berbeda, Bagas dan Nesya sama-sama memandang langit dan mengucapkan kerinduan yang semakin bertambah setelah panggilan suara.


Mereka berharap hal yang sama, waktu berjalan cepat agar mereka segera berjumpa dan bisa melepas kerinduan yang menyeruak dalam dada.