Perfezione

Perfezione
Episode 40



"Sya, hari ini aku harus balik ke Papua, ada pekerjaan yang gak bisa aku tinggal. kamu mau disini saja atau--?"


"Aku ikut kamu," tukas Nesya cepat.


Candra mengangguk. "Baiklah, siapkan barang yang ingin kamu bawa aku tunggu di bawah ya," ucap Candra kemudian pergi meninggalkan Nesya di kamar sendirian.


"Bagas, lihatlah aku sekarang. Aku menikah dengan Candra, sahabat kita. Hiks entah takdir akan membawaku kemana lagi, setelah kepergianmu rasanya hidupku sudah tak tentu arah."


Nesya mengemas semua baju yang akan ia bawa kerumah Candra. Bagaimanapun sekarang Candra adalah imamnya, ia harus ikut kemanapun suaminya pergi.Entah dengan sepenuh hati atau tidak, tapi ia mencoba melakukan yang terbaik. Ia tak mau membuat keluarganya, terutama nenek kecewa.


"Selamat tinggal Bagas, aku pergi." Nesya menatap nanar kamar yang beberapa bulan ini ia tempati. Tak banyak kenangan indah memang, tapi secuil kenangan bersama Bagas membuatnya tak rela pergi.


Nesya turun membawa koper, sedikit kepayahan karena koper yang dibawanya lumayan besar.


"Biar aku saja," ucap Candra langsung mengambil koper dari tangan Nesya. Bergegas turun dan menaruhnya di bagasi mobil.


Di bawah sudah ada aya dan ibu Nesya, juga ada ayah Bagas.


"Nak, jaga diri baik-baik ya. Maafkan ibu." Terdengar suarah isakan saat ibu memeluk Nesya.


Hatinya sakit, melihat putrinya mengalami nasib yang sangat rumit ini.


Nesya hanya mengangguk, mencoba terlihat baik-baik saja dan menerima takdir.


"Baiklah bu, Nesya pasti akan baik-baik saja bersama Candra. Nesya akan selalu menelpon ibu, jadi jangan cemas ya bu."


"Nak, ayah menyayangimu." Satu kalimat itu yang diucapkan Ayah saat Nesya berpamitan.


Ayah Bagas tersenyum miris melihat menantunya kini pergi bersama pria lain.


Kini Nesya melangkah keluar membawa secerca luka yang dalam, luka atas kepergian suaminya, dan luka baru yang timbul karena pernikahan dengan sahabatnya.


"Tuhan, aku tak tahu engkau akan membawaku kemana. Yang jelas sekarang aku pasrah dengan takdir dan kuasa-Mu."


Mobil melaju, meninggalkan pelataran kediaman Adipati. Nesya hanya duduk diam, memandang pemandangan diluar dengan tatapan nanar.


Tak ada perbincangan sedikitpun antara Candra dan Nesya didalam mobil, bahkan sopir taksi pun enggan hanya untuk sekedar memulai pembicaraan atau menyalakan radio.


Tiga puluh lima menit perjalanan yang ditempuh. Kini mereka sudah sampai di Bandara. Tak lama menunggu, mereka sudah memasuki pesawat.


"Kamu kalau capek tidur aja Sya, nanti tak bangunin," ucap Candra lembut.


Nesya hanya mengangguk lalu memejamkan mata.


Baru tiga puluh menit perjalanan, tapi Nesya sudah terlelap.


Candra menatap Nesya lama, tatapan yang sulit diartikan. Melihat wajah sahabatnya itu, hatinya terasa sakit.


"Kenapa takdir membawamu kepadaku, disaat aku sudah mulai mengikhlaskanmu."


Candra menarik kepala Nesya perlahan, membuat nya agar bisa tidur dengan nyaman di atas bahunya.


"Tidurlah, perjalanan kita masih panjang," ucap Candra lembut. Setelahnya ia juga terlelap tidur.


Perjalanan Nesya dan Candra memang masih sangat jauh, entah akan berakhir bahagia bersama atau akan berakhir berpisah.