Perfezione

Perfezione
Episode 38



"Nak, kamu ikut nenek ke halaman belakang ya. Ada yang ingin nenek bicarakan denganmu!" Nenek mendahului Candra menuju halaman belakang.


"Iya nek."


"Nesya tak tinggal dulu ya, kamu tidur yang nyenyak," ucap Candra mengelus kepala Nesya yang sudah terlelap.


Ia kemudian menghampiri nenek yang sudab menunggunya di halaman belakang.


"Apa yang mau nenek bicarakan dengan Candra?" Tanyanya setelah duduk berhadapan dengan nenek.


"Nenek ingin kamu menikah dengan Nesya." Mengeluarkan kotak cincin


"Maksud Nenek?" Candra masih bingung dengan ucapan Nenek, ia menatap kotak cincin tersebut. "Maaf nek, tapi saya tidak bisa."


"Kenapa nak?"


"Nenek tahu kan hubungan kami, tidak mungkin saya menikahi istri sahabat saya sendiri, saya tidak ingin mengkhianati Bagas nek."


"Tapi Nesya butuh kamu nak, lihatlah kondisinya sekarang. Menikahkan Nesya denganmu adalah jalan terbaik.


Apa kamu tidak merasa iba, saat melihat Nesya sudah seperti orang gila karena kehilangan Bagas? kamu lihat sendiri kan, dia bahkan hampir mengakhiri hidupnya."


Nenek putus asa, sebenarnya beliau tidak ingin mengambil keputusan sepihak seperti ini. Tapi firasatnya mengatakan bahwa ini jalan terbaik.


"Nesya masih dalam keadaan berduka nek," lirih Candra


"Sampai kapan dia mau seperti itu? Nesya bahkan masih menganggap Bagas hidup, padahal jelas-jelas dia sudah tiada." Ada kesedihan saat nenek mengucapkan itu


"Tapi nek-"


"Kamu pikirkan baik-baik, Nenek sudah tidak mau mendengar penolakan darimu. Nenek mau ke kamar dulu."


...***...


Pagi yang indah, semua sudah duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Kursi di meja makan terlihat penuh karena bertambah Candra yang ikut duduk dan menikmati sarapan bersama.


"Candra bagaimana perkembangan bisnismu di pulau X?" tanya Bima di sela-sela sarapan bersama.


"Alhamdulillah kak, sudah semakin maju. Besok rencananya aku nanti malam bakalan balik ke pulau X buat meeting sama rekan bisnis dari luar negeri."


Acara sarapan bersama telah selesai, semua langsung bergegas melakukan aktivitas sesuai dengan semestinya.


"Sya..." Panggil Candra saat mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah tempat Nesya mengajar.


"Hemmm"


"Kamu kepikiran buat nikah lagi gak?" lirih Candra bertanya.


Nesya menoleh menghadap Candra, menatap seolah tak percaya pertanyaan itu keluar dari mulut Candra


"Kenapa tanya begitu?"


"Gak papa, cuma nanya."


Nesya menatap malas Candra, ia kembali ke posisi duduk semula. "Cand kamu tahu gak?" sebuah kalimat tanya terlontar pada Candra.


"Apa?"


"Bagas itu adalah lelaki terbaik setelah Ayah dan abangku, dia adalah lelaki yang kucintai setelah mereka berdua. Walaupun saat ini dia udah pergi dari sisiku, tapi dia masih ada dalam hatiku. Aku bahkan tak yakin, kalau suatu saat nanti ada yang bisa menggantikannya di hatiku."


"Aku tahu itu, kamu pasti mengalami kesulitan selama ini."


"Entah mengapa, sepertinya takdir tak berpihak padaku."


"Jangan bilang begitu, Tuhan amat baik dengan kita. Mungkin sedihmu saat ini akan menjadi bahagia esok hari. Aku akan selalu mendoakanmu, agar kamu bisa dikuatkan hati menerima semua takdir ini."


"Terima kasih Candra, kamu memang sahabar terbaikku."