
Raut wajah khawatir tercetak jelas ditampakkan oleh selururuh keliarga. Saat ini mereka semua sedang menunggu di depan ruangan UGD tempat nenek ditangani saat ini.
Derap langkah kaki yang berjalan cepat kian jelas, nampaklah Nesya datang dengan wajah yang panik dan sudah pias, di susul Candra yang berjalan tak kalah cepat di belakangnya.
"Bagaimana keadaan Nenek bund?"
Bertanya pada bunda, tapi ia tak kunjung mendapat jawaban.
"Ada yang bisa bantu jelaskan padaku?"
Nesya mengedarkan pandangan, menatap seluruh anggota keluarga meminta jawaban.
Semua masih bungkam, hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga Nyonya Adipati?"
"Kami dok," ucap Nesya mendekat kepada dokter tersebut.
Dokter tersenyum lalu berujar. "Syukurlah, pasien masih bisa tertolong. Dan sekarang beliau sudah siuman."
Kabar baik yang disampaikan dokter, membuat semua orang lega dan mengucapkan syukur.
"Beliau sudah sadar, dan beliau ingin bertemu dengan Nesya saja. Apakah ada yang bernama Nesya?" lanjut dokter itu.
"Saya dok."
"Silahkan masuk nona, beliau ingin berbicara dengan anda. Saya harap jangan terlalu lama, karena beliau juga butuh istirahat. Saya permisi dulu ya!"
Dokter berlalu pergi, sedangkan Nesya masuk menemui nenek.
"Nenek mencariku?" ucap Nesya lirih, ia memegang tangan Nenek yang telah dipasangi infus, nampak juga alat bantu pernafasan yang melekat di tubuh nenek.
Nenek mengelus tangan Nesya, seulas senyum terbit di tubuh tentanya.
"Kenapa kamu menangis nak? Jangan cengeng, Nenek baik-baik saja. Maklumlah nenek sudah berumur, jadi sakit begini sudah hal biasa."
Nesya masih menangis, ia memeluk erat tubuh renta neneknya. Ia tak ingin kehilangan lagi, sudah cukup Tuhan menggambil Bagas, sekaraang jangan ambil Nenek darinya.
"Nak?" panggil Nenek pelan, seraya menepuk lembut kepala Nesya.
Nesya mendongakkan kepala, memandang wajah nenek yang tersenyum kearahnya.
"Jika nenek meminta sesuatu darimu, apa kamu sanggup memberikannya?" tanya nenek masih dengan senyum hangatnya.
"Apa itu nek? kalau Nesya mampu, Nesya akan memberikan apa pun untuk nenek, jadi katakanlah, nek." Menggenggam erat tangan nenek, meyakinkan bahwa ia benar-benar bisa mengabulkan keinginan neneknya.
"Mungkin kamu akan menolak permintaan nenek, tetapi hanya ini yang nenek inginkan sebelum nenek tiada." Menjeda ucapan, menatap mata Nesya sangat dalam. " Nenek ingin, kamu menikah dengan Candra. Sekarang."
Mendengar permintaan dari Nenek, membuat hati Nesya sakit. Bahkan lukanya atas kepergian Bagas belum sembuh, tapi nenek memintanya untuk menikah. Dan parahnya menikah dengan Candra, yang notabennya adalah sahabatnya juga sahabat suaminnya.
"Apa nenek benar-benar menginginkan aku menikah dengan Candra?"
Nenek mengangguk, dari matanya Nesya dapat melihat harapan besar supaya ia mau memenuhi permintaan beliau.
Nesya menarik nafas panjang sampai akhirnya ia menggambil keputusan, "Baiklah nek, aku akan menikah dengan Candra sekarang. Tapi nenek yang haru memberitahukan kepada kedua orangtuaku juga seluruh keluarga, agar nantinya tidak terjadi kesalah pahaman di antara kita." Saat mengucapkan itu, tak terasa air mata jatuh dipipi Nesya.
_____
"Bagaimana para saksi sah?" ucap pakpenghulu sembari memandang semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Sah!" Serempak semua mengatakan itu.
Air mata Nesya luruh, ada kesedihan didalam tangisannya.
Penghulu meminta Nesta memasangkan cincin di jari Candra, Nesya memasangkannya dengan setengah hati.
"Sekarang, silakan mas Candra memasangkan cincin di jari mbak Nesya."
Candra memegang tangan Nesya, hendak memakaikan cincin di jari manis kanan Nesya. Tetapi ia hentikan saat tahu dijari manis Nesya masih tersemat cincin pernikahannya dengan Bagas.
Candra memandang wajah Nesya, sedangkan yang dipandang masih menundukkan wajah sembari menangis.
"Ayo mas Candra, sematkan cincinnya," ucap pak penghulu lagi.
Candra menganngguk, dengan cepat ia menyematkan cincin pernikahannya di jari manis kiri Nesya.
"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri."
"Alhamdulillah," ucap seluruh anggota keluarga serempak.
Nenek memanggil Nesya, menciumnya. "Terima kasih ya nak, kamu mau memenuhi permintaan terakhir Nenek. Nenek sangat bahagia."
Pak penghulu kemudian pamit untuk undur diri, diantarkan oleh Ayah juga Candra.
"Nak, kamu tidak keberatankan dengan pernikahan ini?" tanya ayah Nesya saat sudah berada di taman rumah sakit.
"Maafkan ayah ya nak, karena permintaan dari neneknya Bagas kamu terpaksa menikah dengan Nesya," kata Ayah Bagas penuh sesal.
Candra hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua orang tua sahabatnya itu. Lebih tepatnya sekarang ayah mertuanya.
"Ayah tidak perlu cemas, saya yang menerima pernikahan ini. kedepannya saya akan menjaga Nesya dengan sepenuh hati."
"Apakah kamu sudah menghubungi orang tuamu nak?" tanya Ayah Bagas.
"Sudah yah, mereka juga sudah setuju. kemungkinan empat bulan lagi mereka akan pulang dari luar negeri dan meminta saya menyiapkan resepsi."