
Kiran menata meja untuk makan malam, ia menyiapkan makanan favorit Nesya. Ia masih ingat betul semua kesukaan sahabatnya itu.
Pasti Nesya bakalan suka sama masakan aku
Kiran menatap senang meja makan yang sudah tertata rapi. Dengan senyum sumringah dia naik untuk memanggil Nesya, dan Candra untuk makan malam.
Belum sempat ia sampai kamar mereka, tapi Kiran sudah bertemu dengan Candra di dekat ruang kerja.
"Kebetulan sekali, aku ingin memanggil kalian untuk makan malam," ucap Kiran dengan senyum sumringah.
Candra mengangguk, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Kiran.
"Eh, kok duluan, gak nungguin Nesya?"
"Nesya masih ganti baju, kita turun dulu nunggu Nesya di meja makan aja," jelas Candra.
Kiran, hanya ber-oh ria. Lalu mengikuti langkah Candra untuk turun, mereka berjalan beriringan menuju meja makan.
"Mana kakak ipar?" Tanya Jordan saat melihat hanya Candra dan Kiran yang turun.
"Masih di atas, sebentar lagi juga turun kalian duluan saja, aku akan menunggunya."
Jordan mengangguk, membalikkan piringnya untuk bersiap makan. Dengan sigap Kiran mengambilkan nasi beserta lauk untuk Jordan.
"Terima kasih, Kiran." Kiran mengangguk, kemudia mengambilkan lauk juga nasi untuk dirinya sendiri.
Nesya sudah turun, kemudian segera bergabung di meja makan. "Maaf aku lama," ucapnya sungkan.
"Tidak masalah mari makan," ajak Candra.
Kiran juga mengambilkan makanan untuk Candra dan Nesya.
"Terima kasih, Kiran," ucap Candra dan Nesya bersamaan.
Mereka makan dengan khidmat, hanya ada suara garpu dan sendok yang saling berdenting.
Sudah satu minggu semenjak Candra kembali ke Papua, dan sudah satu minggu juga Candra melihat Nesya setiap malam hanya melamun saja.
Candra menghela nafas panjang, kemudian menghampiri Nesya dengan membawa dua cangkir cokelat panas.
"Untukmu." Candra menyodorkan secangkir cokelat panas untuk Nesya.
"Thanks." Nesya tersenyum seraya mengambil cokelat panas yang diberikan Candra. Menyesapnya perlahan, sambil memandangi kerlap-kerlip bintang. "enak," ucap Nesya saat sudah menghabiskan setengah.
"Tentu saja, aku yang buat jadi rasanya enak," congkah Candra.
"Cih kau PD sekali," cibir Nesya. Ia kemudia meletakkan gelas di sampingnya. Tatapannya menerawang jauh entah kemana.
"Kau pasti sangat merindukannya?" Ucap Candra menatap lembut kearah Nesya. "Apa kata Bagas ya, kalau lihat kita sekarang?"
Nesya menoleh, mencoba bertanya apa maksud dari perkataan Candra. Tapi yang diharapkan memberi penjelasan malah sibuk menyesap minumannya.
Nesya menghela nafas, kembali melempar pandangannya kearah bintang. "Bagas pasti sangat sedih, melihat aku tidak bisa setia padanya," gumaman Nesya yang masih bisa didengar oleh Candra.
"Apa kau menyesal menikah denganku?" tanya Candra yang kini sudah memandang lekat wajah Nesya.
"Apa kau yakin mau tau jawabannya?" ucap Nesya yang kini juga menatap wajah Candra.
Mereka saling beradu pandang, sampai akhirnya Candra memutus terlebih kontak mata diantara mereka.
"Cih, tidak perlu, aku sudah tau jawabannya. Dan pastinya akan membuatku sakit hati."
Nesya hanya tersenyum tipis, "Kau bukan cenayang, jadi kau tidak akan tau isi hatiku."
"Aku tau, aku sudah mengenalmu dari kecil. Dan satu lagi, aku tau kalau Bagas disana tidak bersedih, dia malah bahagia melihat orang yang sangat dicintainya, bisa dijaga olehku." Setelah mengucapkan itu, Candra berlalu pergi.
"yang membuat Bagas sedih adalah tingkahmu, yang tidak bisa mengikhlaskan dia. Belajarlah mengiklaskan Bagas Nesya. Aku tidak mau melihatmu terus terpuruk seperti ini. Carilah kesibukan lagi, agar rasa sedihmu teralihkan. Jangan terus berlarut-larut dalam kesedihan. Aku tau mengiklaskan tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi aku yakin kalau kamu bisa melakukan," ucap Candra kemudia ia benar-benar pergi. Memberika ruang untuk Nesya merenungkan apa yang ia katakan.