
" Vell kayaknya kita harus balik deh..." ujar Mody setelah mereka capek ngobrol kemana mana, bahkan niatnya belajar sampai lupa
" Iya ni Vell... udah lepas magrib... gue ada janji sama adek gue soalnya mau ngajarin PR..." tambah Rista
" Oke... besok ketemu disekolah ya.. gue udah gak sabar banget pengen makan baso mamang lagi..." jawab Vellic
" Gue traktir deh buat kedatangan lu lagi disekolah..." tawar Mody
" Weeeww serius nih... mau bangeeettt..."
" Gue juga mau kali di traktir..." Rista ngiri
" Iya lu berdua gue traktir buat ngerayain kesembuhan Vellic..." Mody menyetujui
" Yeee... makan baso gratis kita...." Balas Vellic girang
" Yaudah kita balik dulu ya Vell... lu di tinggal gak papa kan... pak Mario kayaknya belum pulang deh..." pamit Mody
" Iya santai... lagian ada bibi kok... anak anak gak pada dateng sekarang kan..." sahut Vellic
" Besok gue suruh... tapi kalau lu besok udah masuk sekolah ya mungkin pada gak jadi..." jawab Rista memastikan
" Oke aman berarti..."
Rista dan Mody pun pamit pulang setelah sebelum nya mereka sudah pesen taksi online, gerbang mereka tutup lagi karena lagi gak ada pak Wanto yang jagain gerbang, mereka gak tau kalau Girvan sudah berdiri tidak jauh dari Gerbang rumah Vellic
Setelah mereka pergi Girvan mendekat ke gerbang, cukup heran karena tumben rumah Vellic tidak ada satpam yang jaga, melihat kesempatan Girvan tak mau lagi menyia nyiakan nya, dia sudah sangat penasaran dengan rahasia yang ada diantara Vellic dan pak Mario, Girvan bersikeras mau mencari tahu sendiri rahasia apa diantara mereka
Sekalian menjenguk Vellic yang baru balik dari rumah sakit, dia makin makin curiga waktu Rista melarang anak anak sekelas datang menjenguk Vellic di rumahnya dengan alasan Vellic belum bisa di ganggu padahal mereka hari ini datang menjenguk, Girvan merasa ada hal yang disembunyikan dan dia bisa menemukan jawaban nya jika bisa masuk kerumah Vellic dadakan
" Permisi...!!" Girvan mengetuk rumah Vellic setelah dia membuka gerbang dengan mudah karena emang gak di kunci
Bibi tergopoh berlarian membuka pintu, melihat laki laki seusia nona muda nya bibi langsung kaget dan panik
" M..maaf siapa ya...ada perlu apa...??" tanya bibi
" Saya Girvan bi temen sekelas Vellicia...saya dateng mau jenguk Vellic..." jawab Girvan sambil tersenyum ramah
" Biasanya gerbang di kunci kan dan harus nunggu persetujuan dari Vellic bisa menemui nya atau tidak... tapi hari ini kebetulan gerbang gak ada yang jaga jadi saya langsung masuk..." jelas Girvan lagi
Wajah si bibi makin panik,
" Ee bi saya boleh masuk kan... masa udah di depan pintu kek gini masih harus nunggu lagi... saya temen akrab nya Vellic kok dan gak ada niatan jahat..."
" Eee.. anu den Non Vellic nya baru aja mau istirahat..."
" Masak magrib magrib udah istirahat aja... gak mau banget nemuin saya sebentar..."
Bibi jadi bimbang, kalau membiarkan Girvan tetap di luar seperti ini pasti bocah ini akan semakin curiga tetapi jika menyuruh dia masuk dia akan langsung terkaget kaget dengan foto yang ada di dinding rumah nona muda nya
" Bik... kok malah melamun..."
" Eee anu..."
" Bi...." Girvan menatap tajam mengintimidasi, dia semakin yakin jika ada rahasia tersembunyi
" Den... bibi gak bisa mengijinkan aden masuk sebenernya sebelum minta ijin non Vellic dulu... tapi sepertinya aden orang baik... temen akrab non Vellic... " bibi tampak ragu dan menimbang nimbang keputusan nya
" Jadi boleh masuk ya bi..." Girvan terus mendesak bibi untuk masuk
Akhirnya bibi mempersilahkan Girvan masuk, begitu masuk ke ruang utama semua masih tampak aman, Girvan mulai memgamati sekitar dengan teliti dan tajam, sampai di ruang keluarga alisa ruang tv sebuah pemandangan yang terpajang di dinding membuat Girvan tercengang tak bergerak
Sebuah foto menampilkan dua orang yang sangat dikenali nya tengah berpose memamerkan buku warna hijau dan merah dan si perempuan memakai kebaya putih laki laki nya memakai stelan jas hitam elegant
Girvan mencoba tenang dan tidak memperlihatkan wajah kagetnya, dia kembali tersenyum menoleh ke bibi
" Bi saya nunggu disini ya..." ujar Girvan sambil duduk tepat di depan foto Vellic dan pak Mario
" Ohhh iya den... sebentar bibi panggilin non Vellic dulu..." sahut bibi
" Si aden ini kok gak nanya apa apa ya soal foto pernikahan non Vellic... apa dia sudah tau kali ya... berarti bibi gak salah ngijinin dia masuk..." gumam bibi membatin
Girvan mengedarkan pandangan nya kesetiap foto yang di pajang di rumah Vellic, Foto yang selama ini setiap mereka datang tidak pernah ada di dinding rumah Vellic, tapi hari ini Girvan menemukan nya
Girvan mencoba mendekat dan meneliti foto foto itu, dia penasaran kapan foto ini diambil untuk memastikan sudah berapa lama pernikahan rahasia mereka
Disitu tertulis tanggal, tanggal spesial sebuah moment yang sangat berharga untuk orang orang yang ada di foto tersebut
" Ja..jadi foto ini sudah dari setahun yang lalu..." pekik Girvan tak percaya
" Astaga...!!! ma..maksudnya ini.... ohh My God... jadi ini rahasia besar yang selama ini mereka sembunyikan dari semua orang...!!! Vellic... ohh..." Girvan memegangi dadanya yang makin terasa nyeri, ada rasa hancur yang tidak bisa di diskripsikan
Hancur... karena Girvan selama ini menyukai Vellic, dan seharusnya Vellic menyadari hal itu... tetapi ketika dihadapkan dengan kenyataan yang membuat nya masih tak percaya jelas rasa sakit nya luar biasa, bagaikan dihujami ribuan panah berbisa..
" Vell... jadi lu... lu udah married sama pak Mario... setahun yang lalu... Astaga... apa maksud dari semua ini Vell..." tangis Girvan yang tertahan, dia berusaha tetap tenang dan menguasai diri, dia harus menanyakan dan meminta penjelasan ini semua dari Vellic langsung... dia juga harus dengar apa alasan Vellic sampai menikah disaat dia masih sekolah... dan kenapa... kenapa harus pak Mario... orang yang selama ini dia benci...
Girvan mengepal tinju menahan amarahnya, matanya memerah menahan emosi dan tangis, hatinya remuk berkeping keping, ingin rasanya dia pecahkan foto foto itu, apalagi ketika melihat wajah pak Mario yang tampak bahagia dengan senyum ringan nya membuat Girvan makin muak dan marah
" Kalau hanya sekedar jagain lu... gue juga bisa Vell... gue bisa jagain lu... gak harus lu nikah sama orang kayak pak Mario... gue tau lu pasti tertekan... lu gak happy...!!!" geram Girvan tak terima
Sampai depan kamar Vellic, bibi langsung membuka pintu kamar, Nona muda nya lagi duduk sembari memainkan ponselnya
" Non... di bawah ada temen non..."
" Rista sama Mody kan udah pulang bi..." sahut Vellic
" Bukan non.. ini cowok..."
Vellic langsung menatap bibi kaget, tatapan yang bibi tau artinya
" Maaf non... gerbang gak ada yang jaga jadi dia langsung masuk dan maksa bibi buat bukain pintu... bibi bingung akhirnya bibi persilahkan dia masuk dan dia nunggu non Vellic di bawah..." jelas bibi
Vellic tak berkata apapun lagi, dia langsung berlari keluar kamar dan menemui orang tersebut, betapa kaget tercengang nya Vellic ketika melihat Girvan sedang duduk menunduk di ruang tv tepat menghadap foto foto yang dipajang di dinding
Jantung Vellic seakan berhenti berdetak, gemeteran dan lututnya lemas, dia tak tau harus mengelak apa lagi... apakah rahasia nya memang aka. benar benar terbongkar...????
" Gi..Girvan...hhh..haaaii..." sapa Vellic dengan kikuk sembari turun dari tangga
Girvan mengangkat wajahnya menatap Vellic, tatapan tajam dengan mata memerah tetapi bibirnya memaksakan untuk tersenyum hambar...
" Hai Vell... sorry gue datang gak ijin lu dulu... gue.. gue pengen tau kondisi lu setelah lu balik dari rumah sakit..."
" Ee iya.. gue.. gue udah baikan kok.. oh ya mau minum apa...??"
Girvan hanya tersenyum lalu menatap foto pernikahan milik Vellic, mengisyaratkan Vellic untuk memberikan penjelasan pada nya, Vellic menelan saliva nya yang terasa seret mencekat tenggorokan
" Jadi ini alesan kenapa setiap ada orang yang dateng ke rumah lu harus nunggu lama dulu di gerbang... nunggu ijin dari lu...???"
Bersambung~
Jangan lupa Vote nya ya Readers...
Happy Reading...