
""Takdir? Aku tidak percaya dengan begituan, salan kenal aku Ino karrit"
Ino? Bukannya itu nama cewek?, Bodoh ah ini kan novel yang tidak mungkin jadi mungkin di sini.
"Salam kenal Ino aku Zeck toon" balasan ku.
Dia menoleh ke depan pintu "Zeck nama yang bagus, tidak seperti ku apa-apaan itu Ino, bukanya itu terdengar seperti nama cewek"
Ino menggenggam gagang pintu samping retak "op to(melepas gagang pintu) aduhhh.... Besok ada pengumuman pembagian kelas, semoga saja kita tidak satu kelas"
Ino masuk ke dalam kamarnya, kalo kamu ngomong seperti itu seperti kita akan beneran 1 kelas. Aku juga masuk ke kamar ku dan langsung menata barang bawaan ku, aku mencoba kasurnya, uhhh~ parah ini nyaman banget bantalnya juga empuk, jadi kangen dah sama kehidupan ku dulu.
Esoknya aku bangun pagi jam 7, aku bersiap dan segera menuju ke papan pengumuman untuk melihat kelas ku, aku tiba di pengumuman wahhh banyak banget yang berkumpul di papan pengumuman kalo seperti ini gimana aku bisa cepat masuk kelas.
"Skill mata elang aktif"
Aku melihat dengan skill mata elang ku Untung aku punya skill ini, selama 5 menit aku mencari nama ku dan akhirnya ketemu, aku berada di kelas C, sebenarnya ada 5 kelas mulai dari A sampai E.
Pasti kalian bertanya-tanya kalo cuma ada 5 kelas padahal ada 1.000siswa jadi 1 Kelas ada ratusan siswa. Bukan bro kemarin kan sudah aku ceritakan ada 3 jurusan jadi tiap jurusan juga ada 5 kelas, tiap kelas ada ada 65 ada juga yang 66 siswa, masih lumayan banyak juga. Setelah ketemu nama ku aku mencari nama Ino kalo tidak salah nama lengkapnya Ino karrit, aku mencari selama 2 menit dia berada di kelas A, doa dia manjur juga.
Aku berjalan menuju ke ruangan kelas, aku duduk di paling belakang dekat jendela, karena kursi itu sudah tertulis nama ku karena ada banyak siswa ruangan kelas sangat tinggi dan besar kursinya juga di atur bertingkat semakin belakang tempat duduknya semakin tinggi.
Tentu saja aku harus menaiki anak tangga untuk sampai ke tempat duduk ku, ini baru hari pertama sudah melelahkan suadah jauh dari asrama di tambah tempat duduk ku paling belakang, aku benci nama ku di awali dengan huruf Z.
Kelas di mulai jam 9, kalian tebak selama 2 jam aku ngapain?, Yak betul aku cuma duduk di bangku tidak berbicara dengan iblis lain, aku melihat banyak teman sekelas ku yang sudah dapat teman.
Dari awal kehidupan ku dulu, aku juga tidak pandai bersosial ini kehidupan ku yang ke 2 loh masak di kehidupan ku ini juga aku tidak punya teman. Aku juga sempat berharap ada yang menyamperin ku, tapi ada kah yang mau ke tempat paling tinggi dan paling pojok seperti ini.
Guru yang masuk ruangan kelas berbicara, suasana kelas pun menjadi tenang "emm-" mau pake batuk lagi dah lah langsung aja ngomong.
"Uhem-" dah kubilang langsung ngomong, gak ada yang peduli sama batuk mu.
"Untuk pengawalan kelas kita memperkenalkan diri dulu, di mulai dari aku" kamu pak tua yang batuk-batuk, oke dah kenal lanjut yang lain.
"Nama ku Reja Non panggil saja pak Reja, aku adalah guru wakil kelas ini selama 6 tahun jadi sampai kalian kelas 6 wali kelasnya adalah aku" wahhh wali kelasnya kakek-kakek penyakitan.
"Selanjutnya nomor absen 1 (nomor absen satu berdiri) stop gak usah berbicara biar aku saja memberitahu nama dan status mu" lah kok gitu, aku firasat tidak enak...
"Nama Abila Rosen setatus dari keluarga bangsawan anak pertama dari Gebil dan Sansa, dan cucu dari presiden pertama, dia juga yang peringkat pertama dalam ujian tertulis"
1 demi 1 murid di perkenalkan oleh pak Reja, dan isinya ruangan kelas ini iblis yang penting dan tajir banyak uang, sumpah. Perkenalan berlangsung selama 1 jam dan akhirnya sampai lah ke aku Sumpah perasaan ku makin tidak enak.
"Dan yang terakhir nama Zeck toon setatus dari desa keluarga miskin anak pertama dari Vander dan Ayuk, ibunya adalah seorang manusia jadi bisa di bilang Zeck Toon adalah setengah iblis setengah manusia"
Tunggu tunggu tuunggggu dulu, aku sih tidak masalah di bilang miskin emang kenyataannya seperti itu tapi kenapa dia tau tentang ibu ku, dan kenapa memberi tahu ke semua yang ada di sini tentang privasi ibu ku.
"Yang paling mengejutkan dari Zeck Toon dia peringkat ke 3 ujian tertulis dan peringatan pertama di ujian praktek padahal dia orang desa"
Semua murid yang ada di kelas melihat ku, aku cuma bisa terdiam tak bisa berkata atau pun bergerak, rasanya mereka melihat ku dengan hawa nafsu iri.
"Oke itu sudah semua, oh ya jangan berkecil hati bagi keluarga yang seharusnya miskin dan pas-pasan akan di gratii kan uang SPP dan asrama, jadi jangan iri kepada mereka yang gratis sekolah di sini (melirik ku) karena pelaturan paling dasar di sekolahan ini adalah setatus kita sama" kata pak Reja.
Setelah perkenalan sudah selesai, pelajaran pun di mulai. Aku tidak bisa fokus pelajaran aku lebih kepikiran tentang diri ku kedepannya, aku dapat peringkat pertama dan ketiga lebih parahnya lagi rahasia keluarga ku terbongkar.
Niatnya aku hanya ingin sekolah dengan tidak mencolok tetapi sudah hancur di hari pertama ku sekolah. Sekolah paling berkualitas emang mengerikan tetapi siapa tau kalo lebih mengerikan lagi dari kesegarannya.
Jam istirahat pun selesai aku masih duduk di bangku melihat luar jendela, aku hanya melihat gedung-gedung dan perkebunan bunga, Yaa ini masih di lantai 1 aku tidak banyak yang bisa aku lihat.
Seketika ada seseorang mendorong ke diri ku "up maaf, tadi kedorong sama Ulfa"
Yang mendorong ku adalah vendor anak dari bangsawan kaya dari kota sebelah, dia duduk di sebelah ku sebelumnya lagi adalah Ulfa anak bangsawan juga dari kota sebelah yang lain.
"Eh iya gak papa" oke... Kelihatannya aku akan dapat teman.
Kukira seperti itu namun "aduhh... Maaf salah sasaran" Ulfa melempar gumpalan keras ke kepala ku.
"Iya gak papa" kata ku
"Ahhh.... Maaf tadi Ulfa nyenggol pulpen ku, maaf ya nyoret tangan mu" Kate vendor.
"Oh cuma segini gak papa kok" kata ku.
"Eh maaf ya..." 'yaa maaf..." "Wah maaf..." "maaf maaf..."
Mereka berdua membully ku dengan bertopeng minta maaf, sampai jam pulang sekolah pun mereka masih menggangu ku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa aku hanya bisa ngomong gak papa, gak papa, padahal aku sudah merasa sangat terganggu oleh mereka berdua.
Pulang sekolah pun tiba aku segera mungkin memberikan buku-buku ku di atas meja dan ingin langsung ke asrama, tetapi seseorang mendorong ku dari belakang dia...