new life new world

new life new world
perpisahan



Perdebatan pun terjadi di antara ke 2 orang tua ku, menit demi menit jam demi jam mereka tak berhenti berdebat, padahal ini sudah jam 12 malam biasanya mereka sudah melakukan itu tapi karena aku ingin sekolah mereka pun masih berdebat.


Di pagi harinya aku baru bangun tidur dan keluarga ke ruang tamu, ohh sebelum lanjut rumah ku sekarang lumayan besar ada ruang tamu ruang dapur dan ada 4 kamar semuanya terbiasa oleh dinding aku juga punya kamar pribadi sekarang bukan harus berbagi sama 4 orang seperti dulu aku ke 2 adik ku dan ayah ibu sekarang punya kamar sendiri itu semua berkat usaha ayam goreng.


Aku berjalan ke ruang tamu ada orang tua ku terlihat jelas mereka tidak tidur sama sekali, ahh aku merasa bersalah tentu saja mereka berdebat untuk masah depan ku tapi ini sudah berlebihan untuk ku.


"Ohh toon" panggil ayah, aku sebenarnya di panggil toon oleh orang tau ku tapi entah kenapa iblis lain bahkan Elina menangil ku zack gak salah sih nama ku zack toon, tapi Yaa dh lh gak penting.


Ayah ku menatap ku aku pun menatapnya kembali "kamu boleh sekolah kok"


Aku terkejut dan ingin banget terbang berputar-putar "beneran, tapi gimana dengan ibu"


Ibu ku dengan linglung yang masih mengantuk "hah, ya boleh kok"


"Tidur sana bu, ibu sudah seperti zombie" kata ku


Aku bertanya kembali ke ayah "beneran nih yah, perovisi rawner sangat jauh dari sini"


"Gak papa kok nak, sejauh apa pun seberat apa pun, dan semahal apapun biayanya orang tua hanya bisa mendukung untuk sukses atau tidak itu tergantung usaha mu" kata bijak ayah ku.


Hati ku tersentuh mendengarnya kalo di ingat-ingat lagi kehidupan ku dulu aku tidak pernah berusaha hanya bermalas-malasan karena sudah ada jaminan hidup, seperti ini kah orang-orang miskin yang ingin membalik nasip. Kehidupan ku yang dulu beneran sangat menyediakan aku bersyukur punya kesempatan ke 2.


Aku belajar yang belum pernah aku pelajari di kehidupan ku dulu, aku merasakan kesusahan, kesedihan, dan kesenangan yang belum pernah aku rasakan, kalo dulu aku memilih ingin masuk surga pasti aku akan menyesal di surga sana.


Sebelum aku berangkat aku pergi ke goa tempat Elina berada seperti biasa sebelum aku sampai di Elina ada mosnter yang menjaga goa tersebut, ku kalah kan semua dang Langsung menuju ke Elina.


"Wahhh.... Lama banget tidak bertemu lagi sudah 2 tahun lagi ya tidak bertemu, apa kabar" kata Elina.


"Baik kamu seperti biasa ya tidak menua sama sekali" kata ku.


"Tentu saja lah, umur ku kan sebenarnya sudah ratusan tahun kalo cuma 2 tahun bukan apa-apa untuk menua" lelucon yang tidak lucu dari Elina.


Aku menghela nafas aku ingin memberi tahu kepadanya tapi aku merasa tidak sanggup untuk memberitahu apa yang akan aku lakukan mulai besok, besok ya karena aku besok baru berangkat.


"Seperti biasa kamu datang kesini dengan muka pucat, sekarang ada malah apa lagi pasti aku punya solusinya untuk mu" kata Elina.


Aku tersenyum sedikit dan menceritakannya kepadanya, dan memberikan kapnya kalo aku tidak bertemu dengannya lagi selama 6 tahun bukan lagi 2 tahun, mungkin di angka 6 masih angka kicil dan cepat tetapi kalo dalam waktu 6 tahun itu sangatlah lama banget.


"Hmmm... Bawa aku juga untuk ke sekolah" kata Elina


"Bawa aku, aku tidak lagi membuat lelucon" kata Elina yang memotong pembicaraan ku tadi.


"Sebenarnya dari dulu kamu sudah bisa menghangatkan perisa ini, tapi aku menyembunyikan ini dari mu" kata Elina.


Aku terkejut dan berteriak "LAH KENAPA HARUS DI SEMBUNYIKAN, kalo sudah tau caranya untuk menghancurkan perisai ini dari dulu kan kamu bisa bebas dari dan tidak kesepian di sini lebih lama"


"Hem, sudah aku duga reaksi mu seperti itu, wajar ya kalo ingin menyelamatkan seseorang yang sudah menyelamatkan dia berulang kali" kata Elina.


"Nah itu tau, nah nah sekarang gimana caranya" kata ku


"Mulai diri rahasia yang selama ini aku sembunyikan, sebenarnya perisai ini di buat menyatu dengan jiwa ku, aku tau hal itu saat dulu aku pertama kali di segel aku berusaha untuk mengaburkan perisai ini tapi saat aku menyerang perisai ini jiwa ku pun ikut terluka" kata Elina


Tunggu rasanya aku harus cepat keluar dan tidak harus mendengarkan lanjut penejalsan Elina, aku tidak atau kenapa tapi perasaan ku harus segera keluar sebelum dilanjutkan.


Elina pun melanjutkan penjelasannya "jadi kemungkinan kalo perisai ini hancur jiwa ku juga akan ikut hancur dengan kata lain aku akan mati"


Aku terdiam dan mulai mundur perasaan ku makin kuat untuk berlari dari Elina secepatnya.


"Jadi karena itu aku menyembunyikan hal itu dari mu, tetapi sekarang aku paham baut apa aku masih hidup kalo hidup ku selama ini membosankan kalo di sini terus-terusan, sama juga aku sudah mati" kata Elina


Aku tau kenapa perasaan ku ingin cepat keluar dari sini pasti dia akan meminta ku untuk


"Hancurkan perisai dan bawa lah aku di hati mu" kata Elina


"Tidak, tidak mau, gak papa kamu di sini aja aku cuma pergi 6 tahun kok cuma 6, kalo sudah selesai sekolah aku akan langsung menemui mu, jadi di sini aja dan menunggu ku oke..." Kata ku


Aku mundur agak jauh darinya tapi "kamu mau kabur, ha-ha-ha begini saja Kamu mau kabur apa lagi saat kamu nanti di sekolah, ha-ha-ha jangan kabur kalo kamu kabur sekarang maungkinb 6 tahun yang akan datang kamu akan sangat sulit untuk bertemu dengan ku" kata Elina


"Kamu punya 2 pilihan memebunh ku dan membawa jiwa ini bersama mu atau kamu pergi saja dari sini dan tidak akan pernah kembali lagi kesini, gak papa kok aku yakin puluhan, barusan, Bahakan ribuan tahun yang akan datang aku akan menunggu orang yang mau membawa jiwa ku bersamanya" kata Elina


"Ribuan?, Wah umur naga emang panjang banget ya, kalo sudah ribuan bukanya sama saja dengan abadi?" Kata ku


"Maaf ku tarik lagi kata-kata ku ribuan tahun tadi kalo sudah ribuan tahun aku akan pasti menjadi tulang belulang dan selamat kamu sudah menghancurkan kata-kata keren ku di mata para pembaca" kata Elina.


Pilihan ini berat perasaan aku sudah pernah mengalami chapter pilihan berat kenapa ini terulang lagi, oh untuk judulnya mungkin akan aku tulis perpisahan karena aku pilih mana pun pasti akan berujung perpisahan, Yao judul yang tepat.


"Aku memilih pilihan pertama, sebelum itu aku sebenarnya....