
Sebenarnya aku bisa langsung menbuh beruang itu dengan cara menemukan anak panah ku langsung mengenai kepala, tapi kalian pikir kepala itu ada apanya?, Yap benar da tulang yang melindungi otak karena itu kalo aku langsung menembak kepala beruang aku harus menambahkan Tekanan angin di anak panah ku.
Tentu saja rahasia ku mungkin akan langsung terbongkar semua, sekarang mungkin ayah cuma Curiga kalo aku ini sudah handal memakai panah tapi kalo saat ini aku langsung mengenai kepala beruang pasti ayah bertanya-tanya kenapa anak ku bisa tepat sasaran dan lagi dia bisa menembus tulang kepala beruang.
Aku hanya bisa menunjukkan kemampuan ku dalam memanah kalo aku memakai senjata lain atau memakai elemen rahasia ku pasti ayah akan mengintrogasi kau seperti maling, aku malas kalo di interogasi.
Hmm sebenarnya bukan hanya mekepla untuk langsung one hit one kill, ada 1 tempat lagi yang bisa one hit one kill apa itu, yak sekali lagi seperti yang ada di kalian pikirkan tentu saja jantung.
Tapi masalahnya beruang itu saat ini lagi mengunakan ke 4 kalinya menghadap ke kiri dengan kepala melihat ke atas. Hmm beruang ini sebenarnya melihat apa sih aku melihat ke atas yang hanya aku lihat ada dedaunan dan ranting pohon.
Tentu saja mustahil kalo posisi beruang seperti itu, gimana caranya aku menembak langsung ke jantung beruang. Oke rencana A.
*Sesr* suara gesekan semak-semak
Aku berdiri dan membuat bunyi dari semak-semak "apa yang kamu lakukan cepat sembunyi lagi" kata ayah ku, aku membuat bunyi sambil keluar tentu saja aku bertujuan untuk membuat beruang itu kagat trus marah untuk, sekedar info lagi saat kalian melihat beruang sedang berdiri dan matanya melihat ke arah mu itu tandanya beruang itu marah ke Padang kalian.
Rencana A ku berhasil sih tapi beruang itu hanya terdiam dan melihat ku ini tidak seperti yang aku bayangkan, kalo gitu ke rencana B, Karen dia terdiam melihat ku ini kayak akan mudah. Aku menarik anak panah ku dan langsung melepaskan anak panah ku.
Anak panah itu melesat menancap di batang pohon yang nyaris mengenai pungung beruang, beruang itu seketika berdiri dan mengerang "uwhhhhh..." Kira kira suaranya begitu lah. Beruang itu langsung berlari mengunakan ke 4 kakinya.
"Nak ayo cepat kita lari.... NAK" kata ayah ku
Ayah ku berlari agak jauh dari ku tapi aku tetap tidak bergerak dari semak-semak ini sambil menarik anak panah, beruang itu makin dekat dan ayah juga kembali berlari kepada ku. Secara bersamaan tapi aku tidak tau gimana teorinya beruang itu melompat sangat dekat dengan aku sambil melompat beruang itu membuka lebar dadanya dan ayah menyetuh pundak ku.
"Suep" suara laju anak panah.
Beruang itu tergeletak dengan anak panah ku, saat ini aku jatuh dengan posisi duduk karena ayah ku menari pundak ku, sedang Ayah membantu melihat mayat beruang itu, di matanya seakan akan tidak percaya yang sudah dia lihat.
"Gimana ayah, seperti perintah ayah aku sudah membunuhnya" sebenarnya aku bisa langsung membunuhnya tidak usah repot-repot seperti itu lagi.
"Wahh.. hebat banget ya kamu,kamu hebat banget dengan perkataan ayah.
"Eh, apa yang ayah katakan hehehe" aduh apa ya yang di katakan oleh ayah, aku lupa perkata ayah di chapter sebelumnya.
"Hiss... haaa... (Menghela nafas) KAN SUDAH AYAH BILANG KALO 1 TEMBAKAN TIDAK BISA MEMBUNUH BERUANG ITU KITA LANGSUNG LARI"
Ahhh, baru ingat sekarang da berkata seperti itu di chapter sebelumnya.
"Maaf, aku tadi terlalu bersemangat ini pertama kalinya aku langsung berhadapan dengan hal mengerikan, karena tekanan itu membuat aku ingin Menang melawannya, sekali lagi aku minta maaf" kata ku
"Hem, apa itu beneran" ayah berkata seperti itu sambil tersenyum.
Tunggu senyum itu, senyuman lembut tapi menusuk hati, ah benar juga aku pembohong payah malah sering berbohong kayaknya ayah tidak percaya buktinya senyum itu, senyuman itu mau sampai kapan kamu tersenyum seperti itu.
Seketika ayah memeluk ku "syukur lah kamu tak terluka, ayah sangat bersyukur, 50 persen ayah bersyukur melahirkan anak yang berbakat" kata ayah
Aku bertanya "trus 50 persennya lagi?"
"50 persen ayah menyesal melahirkan anak yang suka berbohong, astaga ibu mu dulu nyidam apa ya?" Kata ayah
Jangan tanya kepada ku mana aku tau, dan jangan mengucapkan kalo kamu menyesal telah melahirkan ku bagi ku itu kata-kata yang tajam kena ke hati dari pada senyuman mu tadi kata itu lebih menyakitkan.
Pelukan ini terasa hangat kalo di pikir-pikir kehidupan ku dulu aku belum pernah di peluk oleh ayah ku, jadi bisa di bilang ini pertama kali aku di peluk oleh seorang ayah, aku juga mulai bersyukur telah punya kesempatan hidup kembali, dan juga aku bersyukur ternyata ayah tidak marah.
"Oke sekarang kita pulang saja" kata ayah sembil melepaskan pelukannya.
"Tapi ayah kan belum dapat hewan buruan?" Kata ku
"Gak usah ini sudah lebih dari cukup, dagingnya sangat murah karena sedikit peminat, tapi kulit beruang sangat mahal" kata ayah
"Syukur lah Kalo begitu, yuk kita pulang ini juga agak mulai gelap" kata ku
"Ohh.. kamu bersemangat ya di hukum" kata ayahq
Aku terdiam dengan mata terbuka lebar "hu, hukuman kenapa aku di hukum?"
"Tentu saja kan, kamu anak suka berbohong dan melawan kata orang tua, kamu harus di disiplin kan mulai sekarang sebelum telat. Oke hehe HA-HA-HA" ayah tertawa dengan lepas.
Aku menarik kata-kata ku tadi aku menyesal dihidupkan kembali, Dewi aku menyerah saja ah aku menyerah aku ingin masuk surga saja sekarang. Ahh... Mana mungkin Dewi sebleng itu dengar doa ku ini.
Mulai dari ajari itu aku mulai berburu bersama ayahnya tapi aku mengunakan apa adanya kamampun ku, mengapa begitu sebenarnya taipa hari aku sudah muak di ceramahin tentang ini lah itu lah, masalahnya apa ceramahnya tentang apa sumpah gak nyambung kalo di ibaratkan orang ini seperti orang jalan ke suatu tempat tapi dia lewat jalan memutar dari pada jalan pintas.
Ini agak aneh tapi aku selalu di suruh ayah untuk menangkap beruang dan dia mencari hewan-hewan kecil seperti ayam liar, sebenarnya tulang punggung keluarga itu siapa sih aku atau ayah.
3 bulan sudah berlalu aku pun...