new life new world

new life new world
berpura-pura



Aku menjelaskan padanya tentang benda ini tapi aku tidak memberitahukan kepada Elina kalo benda ini atau maksud ku smartphone, kalian sudah pada paham ya smartphone ini mungkin kebanyakan dari kalian membaca novel ini pake smartphone, aku benar kan.


"Ouh canggih benda sekecil itu, setipis itu, bisa mengeluarkan cahaya, wah beneran canggih" kata Elina


"Heh, itu doang yang membuat kamu heran" kata ku


"Iya, emangnya kenapa" elina


"Bukannya lebih aneh lagi perisai-perisai ini, tembus pandang tapi bisa mengeluarkan cahaya" aku


Aku bersyukur sih Elina tidak berfikir hal aneh, sebenarnya saat aku menjelaskan aku sudah mengaktifkan skill telekomunikasi ku, dan suara hatinya cuma berbicara, ini luar biasa, benda itu bisa membuat gambar sesuai persis dengan benda yang dia buat tadi. Seperti itu lah suara hati Elina tadia.


"Tapi emang bisa benda itu di bawa kemana-mana, dari tadi aku lihat kamu hanya memegangnya bukanya tidak nyaman kalo saat di bawa bertarung sambil memegang benda itu" pertanyaan Elina


"Tidak aku memegangnya karena ingin menghafal benda-benda ku tadi berada di urutan mana saja, sebenarnya ini jauh lebih gampangnya di bawa kemana-mana dan juga lebih mudah di gunakan" penjelasan ku


"Aku tidak paham apa yang kamu maksud dengan menghafalkan, tapi kalo dengan benda itu kamu lebih nyaman ya terserah kamu" kata Elina


Setelah itu aku pergi dari goa tentu saja aku berpamitan dengan Elina "sampai jumpa lain waktu" begitu, saat ini masih gelap aku melihat jam di hp ku, tunggu sebentar jangan perites aku Menganti nya menjadi hp karena nulis smartphone terlalu panjang dan sulit lagi pula hp itu persamaan kata dia smartphone. Jadi mulai sekarang aku akan menulisnya menjadi hp saja oke.


Aku melihat jam di hp ku sekarang baru jam 2 pagi atau malam dah gak tau lah malam atau pagi. Karena masih banyak waktu sebelum jam 4 pagi aku pun mencoba senjata beberapa ku yang sudah aku simpan di hp. Aku terbang mencari monster yang cocok untuk di uji coba.


3 tahun sudah berlalu sekarang aku berumur 10 tahun selama 3 tahun dulu aku menaikkan level dan membiasakan dengan senjata ku, sekarang aku bisa pergi ke desa dengan leluasa karena adik ku sekarang sudah berusia 5 tahun.


Meskipun aku sebenarnya sudah terbilang cukup kuat tapi aku harus berpura-pura menjadi anak seumuran ku biasa, bahkan aku memiliki jadwal hidup, kalo pagi aku membantu ibu untuk siap-siap daging yang mau di jual di pasar saat siang aku sendirian di rumah dan adik ku sedang ikut ibu ku ke pasar ayah tentu saja sedang mencari nafkah tentu saja memburu hewan.


Saat sore hari aku latihan memanah dengan ayah tentu saja aku sebenarnya sudah tau caranya karena job kau adalah archar, tapi aku pura-pura menjadi pemula, aka aneh kalo aku baru ajari langsung bisa.


Tapi seni memanah ayah agak unik dia benatik anak panah dengan mata satu kata ayah kalo dengan mata satu kita bisa fokus hanya dengan satu mata dan bisa lebih mudah dan bisa tepat sasaran pada target yang kita incar.


Jujur itu tidak ada gunanya bagi kalian yang mungkin hobinya memanah dan sedang membaca novel ini, ku beri tahu gak usah menutup satu mata semuanya sama aja dengan membuka ke 2 mata. Tapi mungkin kalian sudah terbiasa dengan satu mata ya gak papa terukan saja itu karena itu sudah menjadi kebiasaan kalian kalo sudah terbiasa dengan satu mata dan mencoba dua matau pasti saat mengunakan Dau mata kalian pasti sulit untuk mebidik.


Saran ku tadi untuk para pemula yang mungkin baru belajar memanah, ingat memanah dengan satu mata sama saja dengan 2 mata, oke lanjut.


"Nak mau ikut ayah berburu ke hutan" kata ayah ku.


"Lah cepat amat, tapi aku kan baru 1 Minggu berlatih memanah" kata ku


"Maksud ayah apa?" Pertanyaan ku


"Sebenarnya ayah sudah tau kamu sejak dulu sudah latihan memanah tapi ayah dia aja, buktinya buku panduan memanah dari turun temurun yang ayah simpan selalu berada 1 Mili berbeda tempat, dan bulu ayam semula 20.465 untuk membuat anak panah padahal ayah mengambil cuma 20 buku seharusnya tinggal 20.445 besuknya cuma tinggal 20.415"


Wah habat banget lu bisa tau pergeseran bukunya padahal cuma bergeser 1 Mili yang lebih hebat lagi kamu selalu menghitung bulu-bulu sebanyak itu tiap kali mau ambil, saran aku lebih baik jadi guru matematika dari pada jadi pemburu


Aku tak sanggup menatap mata ayah lagi gimana aku bisa menatap mata ayah yang sudah aku bohong setelah bertahun-tahun.


"Ayah gak peduli kok dengan apa yang kamu lakukan dari awal ayah juga tidak marah tapi merasah bangga dengan kamu"


"Heh" aku terkejut dan kembali menatap matanya.


"Sebenarnya selama seminggu ini ayah tidak melatih mu tapi ingin mengecek seberapa jauh kemampuan mu dalam memanah, tapi malahan kamu berpura-pura menjadi pemula, karena itulah dari pada mengecek kemampuan mu yang seperti ini lebih baik langsung aja berburu seberapa kemampuan mu"


Meskipun ayah berkata begitu aku akan tetap berpura-pura, ya aku akan membohongi ayah lagi mau gimana lagi dari perkataannya dia cuma Curiga cuma karena buku dan bulu aku yakin pasti ayah tidak tua kamapuan ku sebenarnya.


"Oh ya kita akan berburu mulai besok dan juga kamu tidak usah berpura-pura lagi kamu ini anak ku aku tau persis kalo kalo kamu sedang berpura-pura dan juga caramu berpura-pura mudah di tebak. Aku bersyukur kamu sangat amatir dalam berbohong" ayah berkata seperti itu sambil tersenyum.


Senyuman apa itu sangat lembut tapi menusuk hati ku rasanya sangat sakit, amatir berbohong kah, apa lebih baik sekarang aku harus latihan untuk berbohong dari pada fokus naik level, untuk kalian lebih baik jangan meniru aku ya lebih baik kallian latihan jujur saja karena jujur itu sangat indah.


Besok siangnya aku berburu dengan ayah aku tegang bukan karena monster atau hewannya tapi aku tegang karena ketahuan berpura-pura.


Aku dan ayah berjalan santai dan melihat kanan kiri, dan tiba-tiba ayah ku "huss kesini(sembunyi di semak-semak)"


Ada beruang di depan ku, ini beruang beneran bukan beruang yang sebelumnya aku lawan di chapter sebelumnya.


"Nak coba kamu tembak beruang itu, kalo bisa langsung saja membunuhnya kalo tidak bisa membunuhnya kita akan mati di sini" kata ayah ku


"Heh biaknya ayah seharusnya melawan balik tapi kok malah mengajak ku untuk lari?" Pertanyaan ku.


"Yaa, sebenarnya sangat merepotkan membunuh beruang, ayah pernah berdarah Babak belur hanya 1 beruang, jadi kita lari saja oke" ayah tersenyum katakutan menatap ku


Sekarang gima nih aku harus berpura-pura meleset atau langsung aja membunuh pilihan ini di tentukan di chapter berikutnya