
Kedua sahabat Chalinda itu dengan setia turut melangkah menuju ruang UKS.
Dua siswa yang membawa Chalinda dengan menggunakan tandu itu sudah selesai melaksanakan tugasnya. Mereka berdua keluar dari ruang UKS, entah untuk apa.
"Permisi," ucap Martha sembari melangkah masuk ke dalam ruang UKS.
Ada dua perempuan yang sedang terduduk di samping matras dengan tubuh Chalinda terbaring lemas di atasnya. Keduanya itu menoleh ke arah pintu saat Martha mengucapkan permisi.
"Saya dan temanku ini adalah temannya Chalinda, boleh kami masuk?" tanya Martha terlebih dahulu meminta izin.
Siswi petugas PMR dengan tubuh ramping dan pipi tirus itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Apa Kakak tahu di mana rumah Kak Chalinda?"
Martha dan Daphnie menganggukkan kepalanya dalam waktu bersamaan.
"Sudah waktunya pulang, kami juga nggak mau kalah terlalu lama berada di sini nanti jadi tambah parah. Dua anggota PMR yang tadi membawa Kak Chalinda ke sini sekarang lagi manggil Pak Artha. Nanti biar Kak Chalinda diantar pulang dengan mobil sekolah. Kakak berdua ikut ya? Biar bisa jadi penunjuk jalan," pintanya dengan begitu sopan.
"Oh, baik, tentu saja." Martha menyanggupi.
Sayup-sayup Chalinda mendengar pembicaraan mereka. Pada saat nama Artha disebut, jantung Chalinda berdegup dengan sangat kuat.
Chalinda tidak mau melihat guru itu lagi. Chalinda merasa takut, apalagi Artha nanti mau mengantarnya ke rumah sakit. Bagaimana jika orang tua Chalinda justru semakin marah kepada Artha dan Chalinda sendiri?
Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, Chalinda beranjak dari matras tempatnya berbaring.
"Eh, Kak Chalinda mau kemana, Kak?" tanya siswi anggota PMR lain dengan pipi yang chubby.
"Toilet," jawab Chalinda dengan cepat.
Chalinda berjalan dengan lambat keluar dari UKS, meskipun begitu dalam dirinya merasa harus sesegera mungkin keluar dari gerbang sekolah.
"Biar kami antar, Kak," ucap anggota PMR dengan pipi tirus, dia sudah menggenggam lengan Chalinda siap untuk membantunya ke toilet.
Namun dengan segera Chalinda menepisnya. Membuat tangan itu terlepas dari genggamannya. "Tidak perlu!"
"Kalau gitu aku aja yang antar kamu ya, Cha," ucap Daphnie.
Chalinda hanya diam saja. Perempuan itu terus melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruang UKS.
"Udah biar aku sama dia aja yang antar," ucap Martha yang masih membawakan tas milik Chalinda.
Sementara itu tas Daphnie sudah menggantung di kedua bahu pemiliknya. Daphnie menuntun langkah kedua kaki Chalinda dengan perlahan menuju toilet.
"Eh, Cha. Mau kemana? Kan di sini juga ada toilet," ucap Martha dengan sedikit berteriak.
Chalinda menggelengkan kepalanya. "Toilet depan."
Suara Chalinda yang begitu lirih dapat dipastikan tidak bisa didengar oleh Martha karena jarak perempuan itu masih sekitar dua meter dari Chalinda, berbeda dengan Daphnie yang memang berada di sebelahnya.
"Toilet depan aja katanya, Tha," ucap Daphnie mengulang perkataan Chalinda.
Ketiga siswi itu kembali melangkah, namun lagi-lagi saat sudah sampai di dekat toilet perempuan, Chalinda justru terus melanjutkan langkah kakinya.
"Eh, Cha, kan di sini toiletnya." Kali ini Daphnie yang protes.
Chalinda kembali menggelengkan kepala. "Pulang aja."
"Apa katanya, Daphnie?" tanya Martha yang baru sampai di dekat dua sahabatnya.
"Dia mau pulang, Tha. Gimana? Mobil sekolahnya udah siap belum sih?" tanya Daphnie sembari celingukan karena belum melihat ada mobil di halaman sekolah.
"Kamu kenapa sih, Cha? Ini kita udah usahain yang terbaik buat kamu loh, kok kamu malah kayak gini? Kesannya nggak menghargai aku dan Daphnie banget," kesal Martha.
"Tha," panggil Daphnie memperingati.
"Aku nggak mau pakai mobil sekolah!" Chalinda berkata dengan tegas.
Chalinda kembali melanjutkan langkahnya, kali ini perempuan itu berusaha untuk bisa melangkah lebih cepat daripada sebelumnya. Meskipun kepalanya terasa begitu pusing dan pandangan matanya tidak fokus saat melihat sekitar.
Perempuan itu tidak lagi perduli jika nantinya dia tidak sadarkan diri di tengah jalan sendirian. Itu biar menjadi urusan nanti, yang terpenting sekarang Chalinda pulang dari sekolah tanpa harus diantar oleh Artha menggunakan mobil sekolah.
Sementara itu Daphnie masih terus berusaha untuk membujuk Martha agar mau menyusul Chalinda yang sudah semakin menjauh.
"Tha, ayolah, dia pasti butuh kita." Daphnie memohon.
Martha masih tetap pada egonya. "Orang dia sendiri yang mau pulang sendiri kok, Da. Untuk apa membantu kalau yang dibantu juga menolak."
"Tha, nggak boleh gitu. Bagaimanapun Chalinda juga sahabat kita. Aku dan kamu pernah bahagia bareng-bareng sama dia, aku dan kamu kalau lagi nggak bisa ngerjain pelajaran tertentu juga minta tolongnya ke dia, kan? Udahlah, Tha, masa gara-gara omongan dia yang aku yakin juga ngomongnya nggak sengaja kamu udah baper gini," ucap Daphnie.
Terdengar suara hembusan nafas Martha dengan kadar sebelum akhirnya dia menyetujui perkataan Daphnie.
"Iya deh iya, ayo buruan keburu semakin jauh," ucap Martha sembari melangkah meninggalkan Daphnie begitu saja.
Martha masih membawakan tas ransel milik Chalinda. Ketua kelas itu berjalan sedikit lebih lamban daripada Daphnie yang sudah berada dekat dengan Chalinda.
Chalinda tampak menghentikan langkah kakinya. Kedua tangannya memegangi kepala.
"Cha, pusing?" tanya Daphnie.
Chalinda menganggukkan kepalanya sembari terus memegangi kepala. Kedua matanya dipaksa untuk terpejam.
"Ayo duduk dulu, di bawah pohon itu," ucap Daphnie sembari berusaha menuntun Chalinda ke bawah pohon rindang di pinggir jalan.
"Tuh, kan, makannya kalau dibilangin pakai mobil ya nurut," kesal Martha lagi-lagi sembari mengikuti langkah kedua sahabatnya.
Di bawah pohon rindang tersebut, Daphnie menyandarkan tubuh Chalinda pada batang pohonnya. Dengan menggunakan satu buku pelajaran yang dia ambil dari dalam tas, Daphnie mengipasi Chalinda yang mulai berkeringat.
"Mau minum, Cha?" tawar Daphnie saat melihat wajah Chalinda yang semakin pucat.
Chalinda nampak menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lemah.
"Tha, coba lihat di dalam tas Chalinda ada botol minumnya nggak? Punyaku habis," ujar Daphnie.
Martha segera membuka tas Chalinda yang ada di pangkuannya. Dia menemukan botol minum yang masih utuh belum diminum setetes pun.
"Nih," ucap Martha, sembari tangan kanannya terulur memberikan botol minum tersebut kepada Daphnie.
Dengan cepat Daphnie membuka penutupnya dan membantu Chalinda untuk meneguk air mineral dari dalam botol minum tersebut.
Hanya beberapa teguk saja, Chalinda menyudahi minumnya dan kembali menyandarkan tubuh pada batang pohon.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Cha? Sakit apa? Udah coba diperiksa?" tanya Daphnie sembari menutup botol minum setelah digunakan.
"Nggak papa kok, Daphnie," ujar Chalinda, suaranya begitu lemah.
"Nggak papa gimana? Kamu mikirnya nggak papa, tapi aku sama Daphnie itu khawatir tahu nggak?!Coba aja kalau tadi pakai mobil sekolah, pasti kita udah sampai di rumah kamu. Terus kamu juga nggak kecapekan kaya gini. Kan yang sudah kamu sendiri, Cha. Kalau aku sama Daphnie sih nggak masalah, kita sehat aja, kuat aja buat anterin kamu jalan kaki pulang ke rumah. Tapi kamu ... kenapa sih kamu nggak pakai mobil sekolah aja? Kan jadinya--"
"Tha," panggil Daphnie, memotong perkataan Martha yang belum selesai.