MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Pembahasan Hari Pernikahan



Liya yang masih merapikan belanjaannya di dalam kantong yang dia bawa menoleh ke arah Ibu Artha, kemudian ke arah Chalinda.


Tampaknya wanita itu tersenyum dengan sedikit terpaksa. "Benar, pernikahan akan dilakukan usai ujian nasional, tapi itupun hanya di KUA dan dengan syukuran yang biasa saja. Tidak ada pesta karena pasti perut Chalinda nanti akan sedikit terlihat buncit."


Ibu Artha menganggukkan kepalanya. "Kira-kira kapan ujian nasional itu, Bu, Cha?"


"Kapan ya, Cha?" tanya Liya, melempar pertanyaan.


"Sekitar dua bulan lagi," ujar Chalinda, berkata dengan lirih.


"Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya," ujar Ibu Artha.


Waktu terasa lebih lama selama Chalinda berada dirawat di rumah sakit. Biasanya gadis itu sedang bercanda dengan teman-temannya atau sedang mendengarkan penjelasan guru dengan seksama.


Namun sekarang semuanya berbeda. Chalinda hanya bisa merebahkan diri atau duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit. Meratapi nasib yang memang buruk seperti yang dikatakan oleh Ibu Artha, dengan segala kebosanan yang menyelimutinya.


Tidak jarang Chalinda akan tertidur begitu saja, lantas beberapa jam kemudian perempuan itu terbangun dan mendapati orang-orang yang menunggu di dalam ruangannya sudah berganti.


Namun selama di rumah sakit, apapun yang Chalinda inginkan segera dibelikan. Meskipun begitu Chalinda tidak meminta banyak, mungkin sekedar makanan yang dia inginkan saja.


Hari ini sudah hari ketiga Chalinda berada di rumah sakit. Kondisinya sudah sedikit baik daripada sebelumnya. Chalinda sudah bisa berdiri tanpa merasakan lututnya bergetar, Chalinda juga sudah bisa berjalan meskipun gerakannya masih begitu perlahan.


Siang itu, Chalinda sedang menyantap ubi rebus yang baru dibawakan oleh Ibu Artha. Gadis itu menyantapnya sembari menonton siaran kartun di televisi.


Meskipun usianya sudah menginjak angka tujuh belas tahun, tapi kebiasannya menonton kartun saat sarapan atau makan siang masih sering dia lakukan.


TOK!!! TOK!!! TOK!!!


Chalinda yang sedang serius menonton televisi itu menoleh ke arah Liya yang sedang membereskan ranjang Chalinda dan melipat selimutnya.


Tidak biasanya seseorang yang hendak masuk baik itu Juna, Artha maupun kedua orang tua Artha itu mengetuk pintu lebih dahulu. Namun kali ini, seseorang yang ada di depan ruangan mengetuk pintu kamar rawat inap tersebut.


"Siapa, Bu?" tanya Chalinda, dengan suara yang lirih.


Liya tampak menggelengkan kepalanya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Chalinda dengan kata-kaya, Liya segera melangkah ke arah pintu ruangan yang memang dalam keadaan tertutup rapat.


"Eh, Martha, Daphnie," ujar Liya, usai pintu dibuka.


Chalinda yang mendengar hal tersebut seketika beranjak dari tempat duduknya dan meletakkan potongan ubi rebus yang belum selesai dia makan di pinggir piring, terpisah dengan ubi yang masih utuh.


Gadis itu menyambut kedatangan kedua temannya. Martha dan Daphnie segera berhambur memeluk tubuh Chalinda.


"Cha, kok kamu nggak ngomong kalau ada di rumah sakit, sih?" tanya Martha.


"Iya, kan kita khawatir. Tanya-tanya kenapa kok kamu nggak berangkat udah tiga hari, padahal kan yang dekat dengan kamu itu kita. Beberapa guru juga tampak heran, kenapa aku dan Martha malah nggak tahu kenapa kamu nggak berangkat," ujar Daphnie, menambahi.


"Oh iya, Cha. Ini ada sedikit dari aku dan Daphnie," ujar Martha sembari menyerahkan sebuah parcel buah dengan ukuran kecil.


Chalinda tersenyum melihatnya. Kedua temannya itu sangat baik terhadapnya, begitu perduli dan bahkan khawatir dengan dirinya.


"Iya nggak apa-apa, lah. Lagian cuma sedikit kok, aku sama Daphnie juga belinya patungan. Iya kan, Da?" ujar Martha.


Daphnie tampak menganggukkan kepalanya. Kedua sahabat Chalinda itu terlihat biasa saja dan tidak ada ekspresi keberatan pada wajah mereka berdua.


"Terima kasih banyak loh, Tha, Da. Harusnya nggak usah repot gini. Tapi makasih banyak, ya," ujar Chalinda, tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada kedua sahabat baiknya itu.


"Iya, santai aja, Cha," ujar Martha.


"Duduk dulu, Da, Tha, aku mau taruh ini dulu, ya," ujar Chalinda mempersilahkan keduanya untuk duduk.


Chalinda sendiri menyerahkan parcel buah itu kepada Ibunya yang berada tidak jauh dari mereka bertiga.


"Sudah, biar Ibu yang menyiapkan minum dan cemilan untuk kamu, Martha dan Daphnie, Cha. Kamu ajak mereka bicara saja. Sepertinya mereka berdua udah kangen banget tuh sama kamu," ujar Liya, menerima parcel buah dan kemudian menyimpannya di lemari dekat ranjang rumah sakit.


Chalinda menurut saja. Gadis itu mendekat dan turut duduk di atas sofa yang diduduki oleh Martha dan Daphnie.


"Maaf ya, Tha, Da, kalau aku bikin kalian berdua khawatir. Aku tuh di sini nggak pegang handphone sama sekali, jadi ya nggak bisa ngabarin kalian. Jadi dari kemarin aku di alfa terus dong?" tanya Chalinda, khawatir jika alfa akan mempengaruhi nilai akademiknya.


"Iya, dua hari itu kamu di alfa. Tapi udah diganti, kok, pas Pak Artha ngasih surat dokter. Aku dan Daphnie juga tahu kamu sakit dari dia," ujar Martha, menjelaskan.


Chalinda seketika terdiam ketika mendengar nama Artha disebut. Ternyata laki-laki itu sedikit mengerti akan dirinya, meskipun itu sedikit terlambat tapi Chalinda seolah mengerti bahwa pekerjaan Artha itu cukup banyak.


"Oh iya, kamu udah sehat begini kapan pulang ke rumah, Cha?" tanya Daphnie, yang memang menyadari kondisi Chalinda sepertinya sudah lebih baik.


"Nanti sore, Da. Aku nunggu ayah aku pulang kerja dulu," ujar Chalinda.


Kedua sahabat baik Chalinda itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Nah, silahkan dinikmati, Martha dan Daphnie. Maaf ya, cuma air mineral sama satu biskuit saja," ujar Liya, sembari berjalan mendekat ke arah sofa.


Wanita itu juga memindahkan tiga gelas air mineral dan satu piring berisi biskuit dari atas nampan ke atas meja kecil yang ada di dekat sofa.


"Oh, iya, makasih loh, Bu," ujar Martha, tersenyum ramah.


"Sama-sama, Martha. Makasih juga buat Martha dan Daphnie udah mau menjenguk Chalinda di sini, mana pakai bawain parcel buah lagi. Terima kasih banyak, ya," ujar Liya.


"Iya, nggak papa, kok, Bu. Masa nggak bawa apa-apa kan kita berdua yang nggak enak sama Chalinda dan Ibu," ujar Daphnie.


"Hehe iya, terima kasih pokoknya. Kalian berdua emang baik banget sama Chalinda," ujar Liya.


"Chalinda juga baik kok, Bu, sama aku dan Daphnie. Berkali-kali sudah Chalinda sering mengajari kami pelajaran yang belum kamu mengerti. Pokoknya saling memberikan manfaat," ujar Martha, tersenyum ramah.


"Iya, kalian bertiga semoga tetap bareng-bareng ya selamanya. Jadi teman yang sejati," ujar Liya.


"Iya, Bu. Aamiin. Oh iya, nanti kalau Chalinda udah pulang dari rumah sakit, Chalinda bakal masuk sekolah lagi atau gimana?"