
Chalinda terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Martha. Pemikiran perempuan itu tidak lain sedikit sama dengan pemikiran Ayah Artha yang menginginkan dirinya untuk tidak melanjutkan pendidikannya kembali.
"Iya dong, Tha. Aku udah kangen banget pengin pergi ke sekolah lagi," ujar Chalinda, dengan cepat membalas pertanyaan Martha sebelum Liya mendahuluinya.
Liya hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Wanita itu menyadari jika anak perempuannya masih memiliki semangat yang besar untuk terus menempuh pendidikan. Mungkin jika Liya yang akan mengasuh anak itu dan membiarkan Chalinda mengejar impian dan cita-citanya, anak gadis itu juga tidak akan merasa keberatan.
Dalam hati Liya berinisiatif untuk melakukan hal tersebut, namun sebelumnya tentu saja perempuan itu akan membicarakannya terlebih dahulu dengan suaminya.
"Oh gitu, tadi pagi dapat kabar sih dari Pak Artha katanya jam tambahan akan dilakukan Minggu depan," ujar Martha, memberikan informasi.
"Benarkah? Bukannya ujian nasional masih lama ya, sekitar dua bulanan lagi?" tanya Chalinda, kedua matanya terbuka sedikit lebih lebar dengan bibir yang juga membentuk huruf o kecil.
Kali ini Daphnie yang menganggukkan kepala. "Iya, katanya sih biar nanti selesainya nggak mepet banget sama hari ujian. Biar kita juga ada waktu untuk sejenak bersantai sebelum menghadapi ujian nasional."
Chalinda menganggukkan kepalanya. "Jam tambahannya setiap hari?"
"Iya, Cha. Katanya sih selama dua minggu pertama jam tambahan dilakukan di akhir jam pelajaran. Tapi nanti kalau udah dekat sama hari ujian jam tambahan kita ada dua, di awal sama akhir. Jadi kita diharuskan berangkat satu jam lebih awal dan pulangnya juga satu jam lebih terlambat daripada biasanya," jelas Martha.
"Padahal kan harusnya jam tambahan nggak usah begitu, tinggal dua jam di akhir aja," ujar Daphnie, menambahkan kalimat Martha dengan apa yang ada dalam kepalanya.
"Benar juga ya, Da. Kan repot banget kalau harus bangun pagi-pagi dan berangkat satu jam lebih awal. Mana angkutan umum juga jalannya pelan banget," ujar Chalinda, membenarkan apa yang dirasakan oleh Daphnie.
"Yah nggak tahu juga sih, Cha, Da. Kita hanya bisa nurut, mau protes pun barangkali aturan dari sekolah sejak dulu udah begitu. Nanti dikiranya kita yang lemah dan pemalas karena kakak kelas kita juga dulu bisa melakukan hal tersebut," ujar Martha, pasrah dengan apa yang telah diinfokan oleh Artha.
"Iya juga sih, yaudah lah kita mah murid nurut aja apa yang dikatakan oleh guru," ujar Daphnie, turut pasrah.
"Ya sudah, ya sudah, dimakan dulu tuh biskuitnya, diminum juga air mineralnya. Maaf ya, cuma ada ini untuk kalian," ujar Chalinda.
"Nggak papa kok, Cha, ini juga udah enak banget. Makasih ya, Cha," ujar Martha, mulai mengambil air mineral dan menyesapnya menggunakan sedotan kecil yang sudah disediakan.
Ketiganya saling berbincang kesana-kemari hingga tidak terasa hari semakin sore.
Kedatangan Martha dan Daphnie benar-benar menghibur Chalinda, juga membuat perempuan itu merasa bahagia dan kembali bisa tertawa.
Tidak seperti halnya dua hari sebelumnya ketika yang bisa Chalinda lakukan adalah berbaring di ranjang, duduk di sofa, berjalan-jalan keluar dari ruangan sejenak dan semuanya terasa hambar karena Chalinda melakukannya sendirian.
Kali ini walaupun ketiganya hanya berada di dalam ruang kamar inap, tapi kedua sahabat Chalinda itu berhasil membuat Chalinda kembali ceria.
***
Chalinda sudah beristirahat selama semalaman setelah kepulangannya dari rumah sakit sore hari kemarin.
Pagi hari ini, Chalinda bangun pada pukul setengah lima lagi. Perempuan itu sudah berniat untuk kembali berangkat sekolah hari ini.
Apalagi semalam juga Chalinda sudah menata buku-buku pelajaran yang akan hari ini dia butuhkan dan memasukannya ke dalam tas.
Dengan segera Chalinda menyambar handuk yang ada di gantungan baju dalam kamarnya, perempuan itu lantas membersihkan diri di pagi hari dengan udara dan air yang masih begitu sejuk.
Semuanya sudah siap. Pukul enam pagi, Chalinda sudah mengenakan seragam lengkap dengan sepatu dan tas ransel yang menggantung pada pundaknya.
Menyadari ada suara langkah kaki mendekat yang artinya ada seseorang yang sedang mendekat, Liya yang sedang sibuk menggoreng kentang menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, Nak, kamu mau berangkat sekolah hari ini juga?" tanyanya.
Chalinda menganggukkan kepala sembari mendekat ke arah meja makan yang letaknya tidak jauh dari dapur. "Ya, Bu. Lagipula bingung juga di rumah nggak ada kerjaan. Aku juga udah lebih baik sih, Bu, nggak sering mual lagi, kan?"
"Iya juga sih, Cha. Ya sudah nanti Ibu buatkan bekal sarapan buat kamu ke sekolah, ya, jadi kamu nggak perlu ke kantin. Nanti ibu siapkan juga botol minum buat kamu."
Selagi Chalinda menikmati sarapannya berupa teh manis hangat dan kentang goreng yang dicocol dengan saus sambal, Liya tampak sibuk membuat menu makanan lain.
Tidak terlalu lama, makanan itu selesai dimasak. Dengan begitu luwes, ibu anak satu itu menyiapkan bekal sarapan untuk anak gadis satu-satunya yang dia punya.
"Nih, bekal dan minumnya Ibu taruh di dalam tas ya, Nak," ujar Liya, sembari membuka tas ransel milik Chalinda dan mulai memasukan kotak makan serta botol minum yang sudah dia siapkan ke dalamnya.
Chalinda menganggukkan kapalnya. "Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Cha. Habiskan dulu kentang gorengnya, baru berangkat sekolah," ujar Liya.
Perempuan itu berjalan begitu saja melewati Chalinda yang sedang menyantap sarapan paginya. Dia masih saja sibuk dengan alat dapur yang kotor.
Selagi menunggu Chalinda menghabiskan sarapannya, Liya membereskan dapur yang sudah dipakai dan tampak kotor serta berantakan.
"Bu, Chalinda berangkat," ujar Chalinda, sembari beranjak dari duduknya.
"Eh, mau berangkat sekarang, Nak?" tanya Liya, menoleh ke arah Chalinda.
"Iya, udah setengah tujuh kurang lima menit," ujar Chalinda.
Gadis itu menyalami tangan ibunya, mencium punggung tangan itu dan lantas tersenyum.
"Hati-hati, Cha," ujar Liya, kalimatnya mengiringi langkah kaki Chalinda yang mulai keluar dari rumahnya.
"Iya, Bu," ujar Chalinda, dengan sedikit berteriak.
Seperti biasanya, Chalinda akan menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke sekolah.
Pagi ini, Chalinda berangkat lebih pagi daripada biasanya. Harapan Chalinda adalah tidak banyak orang yang akan menumpang angkutan umum bersama dengan dirinya.
Chalinda memilih angkutan umum yang bahkan belum ada penumpangnya satupun. Hanya ada dirinya dan supir yang ada dalam angkutan umum tersebut.
Angkutan berjalan perlahan sembari mencari penumpang. Namun tidak seperti yang Chalinda harapkan, ternyata cukup banyak orang yang menghentikan angkutan umum tersebut dan turut naik ke dalamnya.
Beberapa adalah anak sekolah lain, ada juga beberapa ibu-ibu, namun yang membuat Chalinda merasa kesal adalah kehadiran penjual sayur yang hendak menjajakan dagangannya dengan cara digendong.
Perempuan itu melihat ada bawang goreng di dalam keranjangnya dan pada saat itu pula Chalinda merasa seakan hidupnya akan segera berakhir di dalam angkutan yang dia tumpangi pagi ini.