MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Dia Mengakuinya



"Lalu siapa gadis itu, Bu? Dan ... kenapa Ibu tidak terlihat mirip dengan Artha, begitu juga dengan Ayah?" tanya Chalinda, bersikeras ingin mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.


Padahal dalam diri Chalinda juga merasa sedikit tidak enak terhadap Ibu Artha. Dirinya dan wanita itu baru bertemu tadi malam. Tapi sama sekali Chalinda tidak perduli jika citra baiknya akan rusak di hadapan calon ibu mertuanya.


Chalinda menatap ke arah wanita tersebut yang nampak gelisah. Mungkin sedang mencoba untuk mencari kalimat pengganti untuk beralasan.


Namun sayang, dunia kini tidak berpihak kepada wanita tersebut. Dia sudah keceplosan mengatakan anak gadis dihadapan Chalinda, dan dia juga sudah tidak bisa menarik kata-katanya lagi.


"Bu?" panggil Chalinda, mengharapkan sebuah jawaban setelah sekian detik wanita tersebut tidak kunjung mengucapkan sedikitpun kalimat.


"Hm, ja--jangan salah paham atau bagaimana, Cha. Tapi sebenarnya ... sebenarnya Artha itu adalah anak angkat kami," ujar Ibu Artha.


Chalinda menghembuskan nafasnya. Rasa penasarannya akhirnya terjawab oleh Ibu Artha. Keduanya, baik Ibu ataupun Ayah Artha, sama sekali tidak ada yang terlihat mirip dengan Artha.


"Kamu jangan mikir yang gimana-gimana ya, Cha," ujar Ibu Artha lagi.


Chalinda hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Lalu ... dimana orang tua Pak Artha yang sebenarnya?"


Wanita tersebut kembali terdiam. Pandangan matanya yang beberapa menit lalu sudah berani melihat ke arah Chalinda kini justru dialihkan lagi dengan memandang jauh ke depan.


Seperti sebelumnya, dengan sabar Chalinda tetap menunggu jawaban dari wanita tersebut. Rasa penasarannya akan guru bahasa dan wali kelas sekaligus ayah dari janin yang dikandungnya itu semakin menjadi-jadi.


Ingin rasanya Chalinda mengetahui segala seluk-beluk mengenai Artha dan keluarganya. Selama ini yang Chalinda tahu hanya sebatas Artha seorang guru tampan berusia masih cukup muda dengan perangai yang tampan.


Ibu Artha bergumam. "Aku dan Ayah Artha tidak tahu pasti, Cha. Karena aku dan Ayah Artha menemukan dia dalam sebuah panti asuhan. Ya, aku mengadopsinya dan mengangkat Artha sebagai anak setelah aku kehilangan anak gadisku."


"Maaf, Bu. Kalau saya membangkitkan memori kelam dalam ingatan Ibu," ujar Chalinda, merasa tidak enak hati.


Ibu Artha nampak tersenyum. "Jangan khawatir, tidak masalah, aku justru merasa senang saat mengingatnya. Dia adalah perempuan yang kuat, sedari lahir sudah mempunyai penyakit langka yang diturunkan dari ayahnya yang suka main perempuan."


"Ayah? Maksud Ibu itu Ayah Artha?" tanya Chalinda, semakin penasaran.


Ibu Artha menganggukkan kepala, wanita itu tersenyum getir. "Ya, dia suka bermain perempuan sebelum dan bahkan setelah menikah denganku. Sekarang dia ada penyakit kelamin dan serangan jantung. Dia juga yang menurunkan penyakitnya pada anak perempuan kami. Anak perempuan kami itu adalah gadis yang ceria meski harus berjuang melawan penyakitnya. Hingga akhirnya menyerah satu minggu setelah pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas diadakan."


Chalinda terdiam, tidak menyangka jika ternyata kisah hidup wanita yang duduk tidak jauh di sampingnya itu begitu kelam.


Beberapa detik di antara keduanya hanya ada keheningan. Chalinda merasa bersalah karena sudah menanyakan hal tersebut, akhirnya dia memilih untuk tetap kembali bungkam.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi," ujar Ibu Artha, sembari mengusap bagian bawahnya dengan kedua tangan.


Sepertinya air mata sudah hendak menyeruak mengalir keluar dari tempatnya, namun dengan segera kedua tangan wanita itu mengusapnya sehingga tangisnya tidak terlihat oleh Chalinda maupun orang lain yang juga sedang ada dalam taman rumah sakit itu.


Chalinda diam saja, memperhatikan wanita itu dengan tatapan sedih.


"Sudah jam 9, ayo kita ke ruangan. Matahari semakin naik, hari semakin panas," ujarnya, beranjak dari kursi taman sembari tersenyum simpul.


Chalinda menurut saja kala kursi rodanya kembali didorong oleh wanita tersebut. Meskipun dalam diri Chalinda belum puas menikmati pemandangan yang ada di taman, walaupun hanya melihat puluhan ikan koi berenang memutari kolam tempat tinggalnya saja.


Perutnya yang terasa lapar membuat Chalinda meminta untuk disiapkan sarapan untuk dirinya.


"Bu, bisa tolong buatkan sarapan untukku?" tanya Chalinda.


"Oh, boleh banget dong, Nak. Tentu saja. Kamu mau sarapan dengan nasi langsung atau mau makan buah dulu?" tanya Ibu Artha.


"Buah dulu," ujar Chalinda dengan segera.


Perutnya merasa lapar, tapi di sisi lain juga merasa sedikit mual. Mungkin jika dipancing terlebih dahulu menggunakan buah itu akan sedikit lebih baik.


"Sebentar, ya, Ibu kupasin dulu. Kamu mau buah apa aja, Cha? Ada apel, pir, anggur, pepaya, melon," ujar Ibu Artha.


"Apel saja, Bu. Apel yang merah," jawab Chalinda tanpa pikir panjang.


Di atas meja kecil dekat sofa memang terdapat beberapa buah yang sudah dikeluarkan oleh Ibu Artha dari plastik pembungkusnya. Chalinda bisa melihat dengan jelas buah apa saja yang ada di atas meja tersebut.


Kebetulan ada dua apel yang tersedia di sana. Salah satunya berwarna hijau dan berukuran lebih kecil.


Chalinda memilih apel merah karena dirasa apel merah akan yang gadis itu pilih akan terasa lebih manis dan juga ukuran buahnya yang besar.


Tidak sampai satu menit, buah sudah dikupas dan siap disantap. Dengan menggunakan piring kecil lengkap dengan sebuah garpu, Ibu Artha menghidangkannya.


"Ini, Cha, silahkan. Dihabiskan ya," ujarnya, sembari menyerahkan piring dengan buah apel yang sudah dikupas dan dipotong dadu di atasnya.


"Terima kasih, Bu," ujar Chalinda, menerimanya.


Chalinda mengambil satu potong apel dan menyuapkannya ke dalam mulut. Rasanya begitu segar meskipun manisnya sedikit tidak sesuai dengan yang sudah Chalinda bayangkan.


Satu piring kecil berisi satu buah apel yang dipotong dadu saja rasanya sudah sangat mengenyangkan bagi Chalinda.


"Sudah habis?" tanya Ibu Artha setelah melihat ke arah piring kecil yang diletakkan di atas kedua paha gadis yang sedang setengah terbaring di atas ranjang.


Chalinda menganggukkan kepala, mulutnya masih penuh dengan potongan apel yang belum selesai dia kunyah.


"Mau apel lagi atau mau makan nasi?" tanya wanita itu, menawarkan.


Chalinda menggelengkan kepala. "Makan satu apel saja rasanya sudah kenyang sekali, aku jadi tidak ingin makan nasi atau apapun lagi."


"Tapi kamu tetap harus makan nasi, Cha. Barang satu dua sendok saja, biar ada sedikit karbohidrat yang masuk ke dalam tubuhmu," saran Ibu Artha.


Wanita itu lantas mengambil piring kecil yang sudah kosong di atas kedua paha Chalinda.


"Ibu ambilkan nasinya sedikit saja, ya, kamu harus makan, Cha," ujar Ibu Artha, sembari melangkah kembali mendekat ke arah meja.


TRIINGGG ... TRRIIINNGGG ....