
Liya yang mendengar pertanyaan dari putrinya itu segera menoleh. Wanita itu lantas mendekatkan tubuhnya pada Chalinda.
"Tidak tahu, Cha. Ibu juga belum tahu," ujar Liya, tentu saja dengan sedikit berbohong.
Laki-laki tua itu masih terus berbicara, mengucapkan terima kasih dan lain sebagainya hingga sekitar sepuluh menit lamanya dia masih saja berbicara.
"Jadi, Artha itu ingin melamar anak Pak Juna dan Bu Liya, tidak lain yaitu adalah Dek Chalinda. Artha sudah sangat yakin untuk mempersunting Chalinda, tapi ... apakah dari keluarga Chalinda mau menikah dengan Artha?" tanya laki-laki tua itu, sembari melihat ke arah Chalinda, Juna dan Liya secara bergantian.
Beberapa detik dalam ruang tamu yang ramai itu hening. Semua orang menunggu jawaban dari keluarga Chalinda. Sementara itu, keluarga Chalinda masih memerlukan waktu untuk menimbang-nimbang jawabannya.
"Ini ada apa, Yah?" tanya Chalinda, kini kepada ayahnya.
"Artha mau melamar kamu, Cha, bagaimana? Menurut Ayah sih ya diterima saja, biar bayi kamu itu ada ayahnya. Kan malu juga, Cha, kalau punya anak tapi ayahnya nggak ada," ujar Juna, tentu saja sembari berbisik.
"Ibu setuju dengan Ayah kamu, Chalinda. Sepertinya ini memang yang terbaik. Artha juga mau bertanggung jawab atas perbuatannya yang sudah dia lakukan, ini berarti Artha adalah seorang laki-laki dengan pribadi yang baik. Tidak perlu diragukan lagi, Cha. Selanjutnya kamu hanya perlu membiasakan diri," tambah Liya.
Kedua orang tua Chalinda setuju dengan lamaran yang dilakukan oleh Artha. Namun dalam hati Chalinda, perempuan itu masih belum siap untuk berumah tangga, mengingat usianya yang baru menginjak angka tujuh belas tahun.
Lagipula meskipun sudah memiliki anak pun, Chalinda ingin tetap mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Chalinda masih ingin mewujudkan cita-cita orang tua dan sekaligus cita-cita dirinya sendiri, yaitu bersekolah di luar negeri.
Chalinda sudah mempertimbangkan hal tersebut sebelumnya. Kedua orangtuanya masih sangat muda, masih memiliki tenaga untuk mengurus satu anak lagi. Apalagi penghasilan Juna setiap bulan hasil dari kerja di sebuah instansi milik pemerintah juga terbilang lumayan besar. Itu bisa digunakan untuk biaya perawatan anak Chalinda kelak hingga lulus sekolah.
Tapi jika dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan ayahnya barusan. Akan sangat memalukan bagi Chalinda jika harus mempunyai seorang bayi tanpa seorang ayah. Meskipun Chalinda bisa berdalih bahwa dia adalah seorang bayi yang diangkat menjadi anak oleh kedua orangtuanya, namun bagaimana jika rupa bayi itu sangat mirip dengan Chalinda sendiri?
'Ah! Ini sangat membingungkan! Lebih baik mengerjakan soal matematika satu papan tulis penuh daripada harus memikirkan keputusan seperti ini, apalagi dengan waktu yang sangat terbatas,' batin Chalinda.
"Jadi bagaimana dari pihak keluarga perempuan, apakah bersedia untuk menerima lamaran dari Mas Artha?" tanya laki-laki tua itu sekali lagi, setelah beberapa menit tidak juga mendapatkan jawaban.
"Oh, iya. Saya selaku ayah dari Chalinda, mewakilkan jawaban putri saya satu-satunya. Tentu saja kami menerima iktikad baik Mas Artha yang mau melamar putri tunggal saya, Chalinda. Tapi saya ada permintaan, pernikahan antara keduanya tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini," ujar Juna.
Chalinda yang mendengar keputusan sepihak yang dilakukan oleh ayahnya merasa begitu kecewa. Pasalnya Juna belum menanyakan kembali tentang kesiapan Chalinda untuk menerima lamaran tersebut.
Ingin rasanya segera menolak pun Chalinda malu melakukannya. Dari pihak keluarga Artha sudah banyak yang berucap syukur setelah Juna mengatakan jika keluarganya menerima lamaran dari Artha.
Tentu saja ini tidak adil. Sebelumnya Chalinda memang sudah tahu jika Artha mau bertanggung jawab, tapi bukan tanggung jawab seperti ini yang Chalinda mau, bukan dengan cara menikahinya.
"Baiklah kalau begitu, permintaan dari pihak keluarga Chalinda bisa ditolerir. Kami semua juga tidak mengharapkan pernikahan dilaksanakan dalam waktu dekat, itu akan sangat terburu-buru. Nantinya kita bisa bicarakan kembali kapan pernikahan dilaksanakan," ujar laki-laki tua itu dengan sopan.
"Keluarga Chalinda sudah menerimanya, sekarang waktunya memasangkan cincin pada jari manis kedua pasangan. Silahkan, Mas Artha, pasangkan cincinnya lada jari manis Dek Chalinda," lanjut laki-laki tersebut kembali. Bibirnya nampak tersenyum lebar, pandangan matanya melihat ke arah Artha dan Chalinda secara bergantian.
Rasanya jantung Chalinda berdetak begitu cepat, nafas perempuan itu tersengal-sengal, seperti seorang yang hendak meninggalkan dunia untuk selamanya.
Chalinda pun berharap begitu, ada rasa penolakan yang amat besar dalam dirinya. Namun Chalinda tidak bisa menemukan alasan bagaimana cara agar dia menolah lamaran ini. Di sisi lain, bayi yang ada dalam kandungannya juga membutuhkan sosok ayah seperti yang sudah dikatakan oleh Juna.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Kini Artha sudah berada tepat di hadapan Chalinda. Jarak keduanya hanya sekitar 10CM saja, itu bisa dilihat dari jarang kedua lutut Chalinda dan Artha.
Perlahan terasa jemari seseorang menyentuh sedikit jemari Chalinda. Di situ Chalinda segera memejamkan kedua matanya. Rasanya masih sangat tidak rela jika harus menerima lamaran itu sekarang juga.
Cincin yang diberikan oleh Artha terpasang dengan indah pada jari manis Chalinda. Entah bagaimana, ukuran cincin itu juga sangat pas di sana.
"Silahkan, Dek Chalinda gantian memasangkan cincin untuk Mas Arthanya," ujar laki-laki tua itu.
Chalinda dikuasai rasa gugup. Tangan kanannya bergetar seiring terangkat untuk mengambil cincin dari tempatnya dsn memasangkan pada jari manis Artha.
"Tenanglah, Chalinda. Setelah ini aku tidak akan menyakitimu lagi," ujar Artha, tentu saja dengan lirih.
Namun kata-kat pria itu tidak mampu membuat Chalinda merasa tenang sedikitpun. Justru jantung perempuan itu semakin berdegup dengan kencang.
Jari jemari Artha terlihat ada bayangannya, ditambah lagi Chalinda yang bergetar karena gugup dan takut, hal itu membuat perempuan tersebut sedikit sulit untuk memasukkan cincin pada jari manis wali kelas yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya.
Pandangan mata Chalinda sangat kabur, bayangan jari jemari Artha itu tidak hanya ada satu, jadi Chalinda bisa melihat ada tiga jemari di sana yang selalu bergoyang.
Hal itu membuat Chalinda merasa pusing. Tangan kanan yang memegang cincin seketika melepaskan cincin tersebut begitu saja, tidak perduli kemana jatuhnya.
Kedua tangan Chalinda kini sudah berada di kepalanya, gadis itu terus memegangi kepala yang semakin terasa pening dari detik ke detik.
Pandangan mata Chalinda semakin kabur, lantas semakin gelap dan Chalinda tidak bisa lagi melihat apapun di sekitarnya.
Sekelilingnya hanya ada kegelapan, ingin berkata untuk meminta tolong pun bibir Chalinda rasanya kelu sekali. Sementara itu rasa pusing kepalanya seperti tidak bisa tertahankan lagi.
Dalam kegelapan itu, Chalinda jadi tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Chalinda merasakan tubuhnya doyong ke belakang. Tapi perempuan itu sudah tidak lagi perduli jika nantinya jatuh, karena untuk berusaha tetap kuat pun rasanya sudah tidak lagi mampu.
"CHALINDA!!!"
"Chalinda kamu kenapa? Cha, bangun, Cha!!!"
***