
Liya kembali duduk di tepi ranjang, tangannya kembali berada di lengan Chalinda. Wanita itu tersenyum, menunjukkan air wajah yang begitu ayu.
"Mana ada seorang Ibu yang membenci anaknya, Cha. Orang tua manapun tidak ada yang tega sampai membenci anaknya sendiri, apalagi anak itu adalah anak tunggal seperti kamu," jelas Liya.
Wanita itu terus mengusap lengan Chalinda saat berbicara. Sentuhan darinyalah yang membuat Chalinda merasakan ketenangan dalam hidupnya.
Setelah seharian tidak pernah tersenyum, akhirnya Chalinda menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
"Terima kasih, Bu," ucap Chalinda dengan nada suara yang begitu lirih.
"Sudah ya, habiskan buahnya, setelah itu kita istirahat," ucap Liya, wanita itu lantas beranjak dari duduknya dan keluar dari dalam kamar Chalinda.
Sembari menyantap buah yang telah diberikan oleh Liya, Chalinda merenungi setiap perkataan dari wanita itu beberapa menit yang lalu.
'Jika Ibu tidak membenciku, lantas kenapa dia berbicara buruk di belakangku dengan Ayah? Apa Ibu hanya pura-pura saja untuk membuat aku tenang?' batin Chalinda, penuh dengan tanya.
Perempuan itu menyantap buah lebih lama dari pada biasanya. Sekitar dua puluh menit, buah-buah itu baru habis tak tersisa dari atas piring.
Chalinda meletakkan buah tersebut di atas meja belajarnya. Rasanya begitu malas untuk keluar dari kamar, Chalinda tidak ingin mendengar pembicaraan antara ayah dan ibunya yang berbicara buruk tentang dirinya.
Maka dari itu, Chalinda memutuskan untuk kembali merebahkan diri dan sejenak mengistirahatkan tubuh yang beberapa menit lalu terasa tanpa tenaga.
Kali ini semuanya sudah lebih baik. Chalinda tidak perlu merasa mual untuk membuat perutnya terasa penuh.
Dengan buah-buahan, Chalinda tidak merasakan mual saat menyantapnya.
***
Pukul empat sore, Chalinda merasakan tubuhnya ditepuk beberapa kali oleh seseorang.
"Cha, ayo bangun dulu, Cha. Di luar ada Pak Artha," ucap seorang wanita.
Mendengar nama Artha disebut, entah kenapa Chalinda yang masih merasa nyaman untuk tidur itu seketika membuka kedua mata dan beranjak dari tidurnya.
"Hah? Pak Artha?" tanya Chalinda, sembari melihat ke arah Liya dengan serius.
Liya menganggukkan kepalanya. Jika dilihat dari air mukanya, terlihat Liya juga tidak terlalu terima dengan kehadiran Artha sore ini secara tiba-tiba.
"Ayo, cepat kamu siap-siap dan temui dia," ucap Liya.
"Tapi untuk apa dia ke sini, Bu?" tanya Chalinda, yang masih juga terkejut dengan kedatangan Artha.
Pasalnya Chalinda masih belum bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi. Setiap kali melihat wajahnya meskipun tidak sengaja, jantung Chalinda akan berdegup dengan kencang, bahkan rasa takut itu juga bisa membuat tubuh Chalinda sedikit bergetar.
"Sudahlah, Cha. Kita temui saja, Ibu juga belum tahu," ucap Liya, sembari menarik tangan Chalinda untuk segera beranjak.
"Ta--tapi, Bu," ucap Chalinda, menolak.
"Sudah, sudah, nanti Ibu temani kamu ya, Nak. Kamu jangan khawatir, yang tenang," ujar Liya, menenangkan putrinya.
Chalinda akhirnya menurut saja untuk beranjak dari duduknya dan bersiap menemui Artha yang sudah ada di ruang tamu.
Chalinda keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, nampak Liya yang masih berada di dalam kamar menunggu Chalinda selesai membersihkan diri.
"Ini, pakailah. Ibu sudah menyiapkannya," ujar Liya.
Chalinda melihat sebuah dress miliknya yang kini ada pada genggaman tangan Liya. Sebuah dress berwarna biru muda dengan hiasan bordiran bunga yang cantik.
Saat mengenakannya, Chalinda merasakan dirinya bak Princess Elsa yang ada di kartun kesukaannya. Tapi sekarang, rasa senang saat mengenakan dress itu bahkan tidak ada.
Liya menyisir rambut putrinya, sementara itu Chalinda duduk dengan tenang di meja belajarnya.
Meja belajar yang biasa digunakan untuk belajar kini beralih fungsi sebagai meja rias. Chalinda memandangi dirinya dalam pantulan cermin yang baru beberapa menit saja diletakkan di atas meja belajarnya.
"Kenapa harus seperti ini, Bu? Hanya untuk menemui guru tak berakhlak itu," kesal Chalinda.
"Bagaimanapun kamu harus tampil cantik, Cha," ujar Liya, masih terus merapikan rambut Chalinda.
Rambut panjang sebahu itu diambil beberapa helai pada bagian kanan dan kirinya, lantas diikat menggunakan ikat rambut berwarna hitam. Setelah itu, ikatan tersebut ditutup dengan jepit rambut bergambar mahkota. Cukup sederhana, tapi itu sungguh membuat Chalinda nampak berbeda.
"Nah, sudah. Sekarang ayo kita keluar dan temui mereka," ujar Liya tampak santai sembari membereskan peralatan kecantikannya.
"Tapi ...." Chalinda merasa begitu ragu.
"Tidak perlu cemas, Cha. Tenang, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan dengan perlahan," ujar Liya, sembari mempraktikannya.
Chalinda mengikuti arahan dari Ibunya. Memang dirinya merasa tenang, tapi ketenangan itu hanya berlaku selama beberapa detik saja. Selanjutnya Chalinda harus kembali menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan nafasnya kembali dengan perlahan.
Kedua tangan Liya menggandeng lengan kanan Chalinda dengan begitu erat. Liya begitu paham dengan apa yang Chalinda rasakan, apalagi perempuan itu baru berusia tujuh belas tahun.
Dahulu saat Juna melamarnya pun Liya begitu gugup. Meskipun acara lamaran itu sebelumnya sudah direncanakan oleh kedua belah pihak dan keduanya setuju, tapi Liya tetap saja merasa gugup.
Liya sengaja tidak memberitahukan bahwa kedatangan Artha sore ini secara mendadak itu memiliki tujuan untuk melamar Chalinda secepatnya. Mungkin jika Chalinda tahu, perempuan itu akan menolak lamaran tersebut dengan mentah-mentah tanpa memikirkan nasib janin yang ada dalam kandungannya terlebih dahulu.
Langkah kedua kaki Chalinda semakin pelan saja kala dirinya sudah hampir sampai di ruang tamu. Ruangan yang dulunya terdapat sebuah sofa dan meja kini kedua benda itu entah ada di mana.
Semua orang duduk di atas tikar yang digelar memenuhi lantai dalam ruangan tersebut. Begitu juga dengan Chalinda yang kemudian duduk di sebelah Juna dan diapit oleh Liya.
"Tenang, Cha.Tarik nafas dan keluarkan dengan perlahan, lakukan itu berulang kali," ujar Liya, berbisik memberikan perintah.
Chalinda hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa mengatakan apapun.
Entah kebetulan memang sudah direncanakan, Chalinda duduk berhadapan langsung dengan Artha. Laki-laki itu duduk tepat di hadapan Chalinda dan berjarak sekitar dua meter saja antara mereka.
Hal itu membuat Chalinda lebih gugup lagi, namun bagaimanapun dirinya sudah berada di ruang tamu, itu artinya Chalinda menyetujui pertemuan mendadak yang dilakukan oleh keluarga Artha.
"Baik, karena dari pihak perempuan juga sudah siap, kita mulai saja acaranya," ucap salah seorang laki-laki yang sudah sepuh.
Chalinda menoleh ke arah sumber suara, pikirannya bertanya-tanya perihal acara apa yang akan diadakan? Apakah dirinya hendak dinikahkan sore ini juga? Chalinda semakin gusar.
"Bu, ini acara apa? Apakah Chalinda akan dinikahkan dengan Pak Artha sore ini?"