
Ibu kantin yang dari tadi sudah nampak pergi dari sekitar Chalinda kali ini kembali lagi. Pada tangan kanannya terdapat satu cangkir besar berisi teh yang belum luntur sepenuhnya sehingga warna airnya masih belum terlalu merah.
"Ini, silahkan diminum dulu, Nak. Barangkali bisa lebih tenang," ujar penjaga kantin tersebut sembari menyerahkan cangkir besarnya kepada Chalinda.
Aroma tehnya benar-benar menenangkan hati Chalinda. Gadis itu mulai mendekatkan bibirnya ke lingkaran cangkir untuk menyesap air teh di dalamnya.
Teh dengan rasa manis yang begitu pas dengan aroma yang menyruak keluar dan sangat segar serta menenangkan saat dihirup. Chalinda mneyerahkan cangkir tersebut usai merasa cukup meneguk isinya kepada Liya.
Chalinda menghirup nafasnya dalam-dalam dan perlahan menghembuskannya. Kali ini gadis itu sudah cukup tenang, tidak lagi meraung dan memukuli perutnya sendiri.
Setelah dipikir kembali, apa yang baru saja diingin oleh Chalinda cukup jahat juga, Tangan kanan yang tadi turut memukul perutnya untuk membuat bayi dalam kandungan itu gugur justru sekarang mengusap perut tersebut dari permukaan luar seragam sekolahnya.
'Maafkan Ibu, Nak,' batin Chalinda dengan tangan kanan yang masih terus mengusap perutnya tersebut.
Beberapa detik tidak ada perbicangan antara Chalinda dan Liya. Chalinda masuk ke dalam pikirannya sendiri, sementara Liya memahami Chalinda dan bersyukur karena gadis itu sudah sangat tenang kali ini.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang, Cha?" Liya memberanikan diri untuk bertanya.
Chalinda menganggukkan kepalanya. "Maafkan Chalinda, Bu."
Kedua tangan Liya segera melingkar ke tubuh anak gadisnya kembali. Chalinda jatuh ke pelukan ibunya lagi. Kali ini rasanya begitu tenang.
Chalinda sedikit merasa bahwa perkataan dari ibunya itu benar, meskipun dalam hatinya juga masih ada sedikit keinginan untuk tetap menggugurkan janin dalam kandungannya agar hidupnya kembali normal.
Tapi setelah dipikir ulang, hal itu akan membuat Chalinda semakin dibenci oleh dunia. Chalinda memang ingin menggugurkan janin itu agar dirinya bisa hidup selayaknya anak gadis yang sedang bersekolah dan mengejar cita-cita, namun semua itu rasanya percuma jika semua orang sudah tahu tentang kehamilannya.
Hal itu sudah terjadi. Meskipun baru sebagai desas-desus dan rumor yang tersebar di seantero sekolah. Entah siapa yang menyebarkannya terlebih dahulu, tapi hari ini, semenjak unggahan akun sosial media bernama Cha Cha itu muncul, hampir semua warga sekolah tahu tentang kehamilan yang sedang coba disembunyikan oleh Chalinda.
Jika Chalinda sampai menggugurkan janin dalam kandungannya tersebut, mungkin akan lebih banyak kecaman yang dia terima.
Terlebih dari para ibu-ibu yang sangat tidak setuju dengan tindakan aborsi. Chalinda juga merasa khawatir jika piihannya itu kembali tersebar dan diketahui oleh banyak orang.
"Chalinda ... Chalinda, kamu baik-baik aja, kan?"
Chalinda segera menoleh ke arah sumber suara. Ada Martha di sana beserta beberapa teman kelas lain yang tidak terlalu dekat dengan Chalinda. Jika dengan Martha, hal itu tidak perlu diragukan lagi karena perempuan itu adalah ketua kelas. Pastinya dia lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang di dalam kelas sehingga dia masih bisa berteman cukup akrab dengan mereka.
"Martha, ada apa ini?" tanya Chalinda, sembari melihat ke arah Martha dan beberapa orang lain yang datang bersama perempuan itu.
"Cha, tentang Daphnie, semua teman kelas sudah tahu jika dia yang ada di balik akun palsu itu," ujar Martha sembari tersenyum.
"Hah? Kenapa bisa gitu? Tadi di ruang kepala sekolah dia nggak mau ngaku kalau dia yang udah ngelakuin semua itu," ujar Chalinda merasa tidak percaya.
Martha menganggukkan kepala dengan begitu antusias. "Ya, jadi ada teman kita yang melihatnya juga saat kamu mleihat itu. Meskipun kita juga nggak ada buktinya sih, Cha, tapi Daphnie sekarang udah nggak lagi dianggap ada sama temen-temen."
"Eh, kok gitu sih? Kan kasihan Daphnie nggak ada temennya di kelas," ujar Chalinda.
"Udahlah, Cha. Nggak usah pikirin orang lain, yang penting sekarang itu kamu. Kita bakalan pertahanin kamu sampai berhasil ikut ujian nasional. Tadi gimana di ruang kepala sekolah?" ujar Martha.
"Aku nggak bisa menang di sana, Tha. Aku nggak ada bukti yang bisa aku kasih lihat ke kepala sekolah dan semua orang yang ada di sana. Waktu Daphnie datang juga percakapan dia sama Bu Erina udah nggak ada lagi di ponselnya. Jadi aku nggak bisa ngomong gitu aja kalau di balik akun Cha Cha itu nggak lain Bu Erina sama Daphnie. Kepala sekolah ngasih aku waktu dua hari buat ngumpulin bukti. Kalau berhasil, Bu Erina bakalan dapat konsekuensi yang setimpal, tapi kalau aku nggak bisa kasih bukti apapun ya ...," ujar Chalinda, ucapannya terhenti dan menggantung begitu saja.
"Gimana, Cha?" tanya Martha, begitu penasaran dan tidak sabar untuk mengetahui informasinya secara detail.
"Kalau nggak ya aku yang harus menerima konsekuensinya, Tha. Sekarang semua orang di sekolah ini juga kayanya udah ngerti kalau aku lagi hamil anak dari Pak Artha, meskipun yang mereka tahu itu bar gosip, tapi pasti kebenarannya juga akan segera terungkap. Kalau berita ini sampai ke luar sekolah, aku pasti langsung dikeluarkan begitu saja," ujar Chalinda, kepalanya terus menunduk.
Chalinda merasakan ada sebuah tangan yang mendarat dipundaknya, lantas tangan itu bergerak mengusap pundak tersebut memberikan ketenangan. Tidak lain tangan itu adalah tangan Martha.
"Kamu tenang ya, Cha. Kita semua pasti akan bantuin kamu, kok, minimal sampai kamu berhasil melakukan ujian nasional. Aku sama yang lain pasti akan mengusahakannya. Kita masuk ke sekolah ini bareng-bareng dan dalam jumlah yang lengkap, sebagai ketua kelas aku juga mau kalau kita keluar bareng-bareng kaya pas awal kita masuk. Kita nggak mau kehilangan kamu sebelum waktu kelulusan tiba, Cha," jelas Martha.
"Makasih banyak ya, Tha. Kamu memang sebenar-benarnya teman baikku. Padahal aku udah percaya banget sama Daphnie, tapi dia malah kaya gitu," sesal Chalinda.
"Udah, nggak usah pikirin dia lagi, Cha. Cukup jadikan pelajaran aja biar nggak mudah percaya sama orang. Luarnya kelihatan baik dalamnya belum tentu baik juga," ujar Martha.
Chalinda hanya menganggukkan kepala.
"Terima kasih ya, Martha dan teman-teman sudah mau mendukung Chalinda. Ibu harap kalian semua bisa menjadi teman biak Chalinda untuk waktu yang lama," ujar Liya, tersenyum simpul.
"Iya, sama-sama, Bu. Sudah seharusnya kami sebagai teman Chalinda yang berbuat baik ke Chalinda. Lagipula seperti yang sudah sering aku katakan, Chalinda juga sangat baik sama aku dan teman-teman," ujar Martha, tersenyum, begitu juga dengan tiga orang lain yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan pembicaraan Martha dan Chalinda serta ibunya.
"Chalinda ... lu yang namanya Chalinda, kan? Yang katanya hamil sama Pak Artha?"