MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Perjalanan Panjang



Kedua tangan Chalinda kini berada tepat di depan mulutnya. Kedua tangan itu berusaha untuk menahan apa saja yang hendak keluar dari dalam mulut tersebut.


Rasanya tidak begitu enak menahan rasa tersebut. Hendak dikeluarkan pun rasanya bukan saatnya karena Chalinda sedang berada dalam kendaraan umum dan banyak orang yang turut menumpang kendaraan tersebut bersamaan dengannya.


Chalinda terus berusaha menahan rasa ingin muntah. Sementara tangan kirinya menutupi mulut, tangan kanannya meremas perutnya yang terasa begitu mual.


"Nak, kenapa?" tanya seorang penjual sayur itu nampak khawatir setelah melihat gelagat Chalinda.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala. Dengan menggunakan tangan kanannya, dia mengarahkannya ke arah supir, meminta supir angkutan umum itu untuk menepikan kendaraannya.


Untung saja supir kendaraan tersebut mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Chalinda. Kendaraan segera menepi ke kiri dan Chalinda menyerahkan uang sebelum benar-benar turun dari angkutan umum tersebut.


Baru saja kedua kaki Chalinda menyentuh trotoar di jalanan yang sepi itu, Chalinda segera berjalan ke arah semak belukar yang ada di pinggir trotoar itu dan mulai mengeluarkan segala yang ingin dia keluarkan.


Selama sepuluh menit berlalu, Chalinda beristirahat di trotoar tersebut. Semakin lama semakin banyak pejalan kaki yang melintas dan mereka semua memandang aneh ke arah Chalinda.


Gadis itu tidak lagi perduli. Keadaan tubuhnya kini yang lebih penting. Dalam kondisi kepala yang penting dan perut yang masih sedikit terasa mual, Chalinda tidak sedikitpun berniat untuk kembali lagi ke rumah.


Chalinda tidak habis pikir, hanya karena bawang goreng saja dirinya sampai seperti ini. Padahal Chalinda hanya melihatnya saja, bukan mencium atau bahkan menyantap bawang goreng itu.


'Aneh sekali, semua ini hanya karena bawang goreng,' pikir Chalinda.


Dengan segera Chalinda membuka tasnya. Mengambil botol minum dan mulai membukanya. Air putih di dalam botol minum itu masih hangat dan Chalinda segera meneguknya.


Rasanya sedikit lebih baik setelah meminum air putih hangat itu. Tidak hanya itu, Chalinda juga mengambil minyak kayu putih yang sudah dia bawa dari rumah untuk kemudian dibalurkan pada perut, dada dan leher.


Setelah itu, sembari menunggu tubuhnya sedikit membaik, Chalinda mengambil ponsel yang juga sudah dia simpan di dalam tas ranselnya.


Tanpa membuka apapun terlebih dahulu, Chalinda segera masuk ke aplikasi perpesanan dan masuk ke ruang obrolan persahabatan dengan anggota dirinya sendiri, Martha serta Daphnie.


Tampak tidak ada pesan dari dalam grup itu selama satu hari yang lalu. Pesan terakhir terjadi pada dua hari yang lalu ketika Chalinda baru absen dari kelas.


Chalinda mengirimkan pesan:


[@Martha @Daphnie Kalian udah berangkat?]


Beberapa saat Chalinda tidak kunjung mendapat balasan. Jika melihat info dari pesan yang dikirimkan oleh Chalinda tersebut juga masih belum diterima oleh Martha dan Daphnie. Kedua sahabat baik Chalinda itu tidak sedang dalam garis nyala.


Melirik ke arah jam yang ada di bagian ujung kiri layar, Chalinda melihat jam masuk sekolah akan tiba dalam lima belas menit lagi.


Mungkin jika Chalinda berjalan juga akan membutuhkan waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit lamanya. Namun itu pun jika Chalinda berjalan dengan cepat.


Gedung sekolah yang berlantai tiga itu juga belum terlihat dari pandangan mata Chalinda. Sementara itu dalam pikiran Chalinda membayangkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi jika Chalinda melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki.


Tapi daripada tidak sampai di sekolah, akhirnya Chalinda mulai beranjak dari duduknya. Gadis itu kembali menggendong tas ransel yang sudah kembali ditutup resletingnya.


Drrrtttt ....


Chalinda segera melihat ke arah ponsel yang ada dalam genggaman tangan kanannya dan mengurungkan langkah kedua kakinya.


Pandangan matanya segera melihat ke grup persahabatan yang berada di urutan teratas.


Daphnie membalas pesan:


[Baru sampai nih, Cha. Kenapa?]


Chalinda membalas pesan:


Daphnie membalas pesan:


[Eh, kamu jadi berangkat hari ini, Cha?]


Chalinda membalas pesan:


[Iya, udah dulu, ya.]


Usai mengakhiri obrolan dalam pesan grup persahabatan itu, Chalinda segera mematikan layar ponselnya.


Gadis itu tidak ingin membuang lebih banyak waktunya di jalanan untuk segera beristirahat atau berkirim pesan dengan sahabatnya, yang ingin Chalinda lakukan sekarang adalah berusaha agar lebih cepat sampai di sekolah.


"Neng, mau ngojek?" tawar seseorang.


Chalinda menoleh ke arah sumber suara. Di sebelah kanannya kini terdapat seorang penunggang motor dengan menggunakan jaket parasit berwarna hitam.


Pandangan mata laki-laki yang sedang duduk di atas motor dengan keadaan mesin menyala itu mengarah ke Chalinda.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang ini, Chalinda segera menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pak," ujar Chalinda bersemangat.


Laki-laki yang merupakan seorang tukang ojek itu tampak menganggukkan kepalanya. Lantas setelah itu membenarkan posisi duduknya di atas kuda besi yang dia tunggangi.


Dengan begitu perlahan dan hati-hati, Chalinda naik ke atas kuda besi itu dan duduk di belakang laki-laki tersebut dengan kedua kaki yang semuanya berada di sisi kiri.


"Ayo, Pak," ujar Chalinda, memberitahukan bahwa dirinya sudah siap.


"Jalannya pelan-pelan aja ya, Pak," tambah Chalinda, setelah tukang ojek tersebut melajukan kendaraannya.


Ini lebih baik daripada Chalinda harus berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanannya sampai ke sekolah. Meskipun dengan begini artinya Chalinda harus memberikan ongkos untuk jasa yang sudah gadis itu gunakan dua kali.


Untung saja Chalinda dibawakan bekal oleh Liya. Itu sedikit membantu karena nanti Chalinda tidak perlu bingung saat jam istirahat karena sudah tidak lagi memiliki banyak uang.


Perjalanan ditempuh dan memakan waktu yang begitu sedikit. Hanya sekitar lima menit saja, sepeda motor matic itu sudah sampai di depan gerbang sekolah.


Sudah banyak murid yang hendak masuk dan gerbang juga sudah ditutup setengah. Usai membayar tukang ojek tersebut dengan selembar uang bernilai lima ribu, Chalinda segera melangkah menuju gerbang sekolahnya.


"Cha, sudah lebih baik?" tanya guru BK yang sudah siap berjaga di belakang gerbang.


"Sudah mending kok, Bu. Terima kasih," ujar Chalinda sembari mencium tangan guru BK tersebut.


Di belakang Chalinda sudah banyak mengantri murid-murid yang juga hendak bersalaman dengan guru BK di sekolahnya sehingga Chalinda tidak bisa berlama-lama berada di sana.


Chalinda melanjutkan langkah kedua kakinya untuk menuju kelas. Jam masuk sekolah akan tiba sekitar dua menit lagi. Untung saja Chalinda sudah berada dalam lingkungan sekolahnya.


Tukang ojek yang baru saja mengantarnya itu seakan sengaja dikirim oleh Tuhan untuk membantu Chalinda, dan saat mengingatnya kembali, Chalinda tersenyum.


"Terima kasih, Tuhan," ujar Chalinda dengan suara yang lirih dan bibir yang tersenyum tipis.


"CHALINDA ... CHALINDA, CHA, SINI."