
"Tidak," jawab Artha, dengan cepat dan begitu yakin.
Hal itu membuat Chalinda yang tadinya merasa curiga terhadap Artha seketika merasa bahwa laki-laki itu bukanlah seseorang yang ada di balik akun palsu tersebut.
Tidak mungkin juga menurut pemikiran Chalinda jika Artha adalah pelaku dibalik akun palsu tersebut, tapi Artha justru memberitahukan kepada Chalinda bahwa ada akun tersebut.
Sama halnya dengan Daphnie. Alasan Chalinda tidak mencurigai Daphnie adalah ketidakmungkinan dalam pemikiran Chalinda juga Daphnie yang melakukannya, namun Daphnie sendiri juga yang memberitahukannya pada Chalinda.
Kini tersisa dua orang yang masih Chalinda curigai. Tidak salah lagi keduanya adalah Martha dan Erina, guru yang melakukan penyekapan terhadap Chalinda id ruang musik itu sendiri.
"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih, Pak," ujar Chalinda, lantas dengan segera perempuan itu memutuskan sambungan teleponnya bahkan sebelum Artha kembali berbicara.
Chalinda menjauhkan ponsel dari telinga kanannya. Gadis itu kemudian membuka aplikasi perpesanan yang ada dalam ponselnya dan masuk ke dalam ruang obrolannya bersama dengan Daphnie yang berada di urutan paling atas.
Gadis itu kemudian mengirimkan sebuah pesan untuk teman baiknya itu.
[Da, kok aku curiga ya sama Martha?]
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, Chalinda mendapatkan pesan balasan dari Daphnie. Sepertinya perempuan itu juga masih sedang menggenggam ponselnya.
[Hah? Menurut aku bukanlah, Cha. Bayangkan aja, kita sudah berteman lama, selama dua tahun lebih kita bersama dan aku rasa kita sudah paham akan karakter masing-masing. Aku malah jadi kaya gimana gitu sama kamu karena kamu mencurigai Martha. Sahabat kita sendiri.]
Membaca pesan dari Daphnie, sebenarnya Chalinda sangat merasa bersalah. Namun entah kenapa hati Chalinda begitu yakin jika Martha yang telah melakukannya.
Apalagi isi dari unggahan yang diunggah oleh akun palsu yang mengatasnamakan Chalinda itu juga menceritakan bagaimana kejadian detail tentang hari ini yang menimpa Chalinda.
Tidak ada yang tahu kejadian sedetail itu selain Chalinda sendiri dan kedua teman baiknya. Chalinda hanya bercerita pada Martha dan Daphnie saja.
Untuk mencurigai Erina pun, Chalinda masih merasa tidak mungkin jika guru perempuan itu yang telah melakukannya. Dia tidak tahu bagaimana Chalinda bebas dari penyekapannya dalam ruang musik.
Tapi Chalinda juga tidak terlalu percaya jika ternyata Martha adalah pelakunya. Gadis itu masih berasam dengan Chalinda dan Daphnie saat postingan itu dibuat. Semua ini begitu membingungkan.
[Tapi, Da, kayanya nggak ada lagi yang bisa aku curigai selain Martha dan Bu Erina itu sendiri.]
KLUNG! KLUNG! KLUNG!
Beberapa pesan masuk secara bersamaan ke dalam ponsel Chalinda. Hal itu membuat Chalinda segera menyentuh tombol kembali untuk keluar dari ruang obrolannya bersama dengan Daphnie.
Rupanya beberapa pesan itu berasal dari sebuah grup kelas. Beberapa orang menandai nama Chalinda dalam pesan mereka sehingga Chalinda menerima pemberitahuannya.
[@Chalinda ini beneran sosial media kamu?]
[Hah? Jadi pas siang @Chalinda lagi disekap sama Bu Erina di ruang musik?]
[Iya, betul banget. Pas jam setelah istirahat kan ya?]
[Wah, nggak nyangka sih Bu Erina kejam banget kaya gitu. Jadi takut.]
[Hah? Seriously? Hamil sama siapa?]
[Hus! Jangan gitu, ah. Itu kan baru desas-desus aja. Jangan percaya gitu aja.]
[Tapi beneran kok katanya ada yang lihat Chalinda lagi muntah-muntah di toilet sekolah. Ada juga yang lihat katanya Chalinda masuk ke toilet terus nggak lama Pak Artha juga masuk ke toilet yang sama. Jangan-jangan ....]
[Iya juga ya, apalagi Chalinda juga udah aneh banget selama beberapa minggu terakhir. Dia selalu muntah-muntah dan berakhir di UKS. Apa jangan-jangan gosip itu benar? Tapi masa sama Pak Artha sih? Aku nggak terima banget kalau sama Pak Artha, sih, dia kan guru idola calon suami aku, hahaha.]
[Udahlah, gengs. Belum jelas juga kaya gimana pastinya. Jangan panas-panasin deh.]
Chalinda yang beberapa menit lalu masih bisa menggenggam ponselnya dengan salah satu tangan saja, kali ini dia membutuhkan dua tangan untuk bisa menggeggam ponsel dengan erat.
Kedua tangan Chalinda bergetar, begitu juga dengan seluruh tubuhnya. Air mata mulai mengalir dari kedua ujung netranya. Chalinda benar-benar merasa begitu sedih dan takut sekaligus dalam satu waktu.
Chalinda tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya kelak jika semua warga sekolah mengetahui tentang apa yang terjadi sebenarnya. Apalagi gosip perihal Chalinda yang hamil juga sudah tersebar tanpa tahu siapa yang memulai pertama kalinya.
Perasaan hati Chalinda begitu kalut. Rasanya Chalinda tidak lagi ingin membuka ponsel untuk beberapa hari. Gadis itu juga tidak ingin pergi kemana-mana untuk beberapa hari. Namun jika itu terjadi, maka akan membuat seluruh warga sekolah yang belum mengetahuinya berasumsi tentang Chalinda.
Gadis itu jadi merasa sangat bersalah. Dia juga merasa bahwa sekarang dirinya sudah begitu hina, meskipun seorang bayi yang dikandungnya adalah anak dari seorang guru idaman siswi di sekolah sekalipun.
Chalinda melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Membiarkan ponsel itu menyala dengan beberapa pesan lain yang terus masuk dalam grup kelas.
Meskipun itu hanyalah sebuah rumor, tapi Chalinda merasa semuanya telah mengetahui apa yang sudah terjadi terhadap dirinya.
Lebih parahnya lagi adalah bahwa fakta dari sebuah rumor yang sudah beredar di lingkungan sekolah itu adalah benar. Chalinda benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika dia kembali ke sekolah besok dan bertemu dengan banyak orang yang sudah tahu kebenarannya.
Pikiran Chalinda tidak bisa membayangkan segala kejadian pahit yang mungkin akan dialami gadis itu pada esok hari atau hari-hari selanjutnya.
"Semua ini salah kamu! Dasar bayi sialan! Artha sialan!" teriak Chalinda sembari memukul-mukul perutnya sendiri.
Kedua pipi Chalinda sudah banjir air mata, pelipisnya juga sudah banjir dengan keringat. Chalinda terus memukul perutnya sendiri sembari meluapkan amarahnya dengan kalimat yang terus dia ulang-ulang.
Meskipun sebenarnya Chalinda juga merasa sedikit takut dan merasa bersalah jika nantinya dia hanya akan membunuh bayi yang ada dalam kandungannya saja. Namun mau bagaimanapun, Chalinda sudah terlanjur kembali merasa benci dengan bayi yang ada dalam kandungannya dan juga ayah dari bayi tersebut.
Chalinda menangis sejadinya, meraung, berteriak sembari terus memukuli perutnya dengan kedua tangan.
Hanya satu yang ingin Chalinda rasakan saat ini adalah menjadi gadis normal seperti beberapa minggu yang lalu. Kala dirinya bisa dengan bebas berekspresi dan melakukan apa saja. Tanpa takut sesuatu terjadi dan tanpa ada yang dia sembunyikan dari dunia.
"TIDAK ADIL! DUNIA INI SANGAT TIDAK ADIL KEPADAKU! ARGH!!!"
Chalinda melemparkan kursi yang baru ia duduki ke sembarang arah. Kursi tersebut mendarat tidak jauh dari pintu kamarnya yang seketika terbuka dengan Liya yang nampak terkejut berdiri di sana.
"Cha, ada apa ini, Nak? Kamu kenapa?"