
Semakin penasaran lagi dengan pesan apa yang telah dikirimkan oleh Erina kepada Daphnie, Chalinda lantas mengambil ponsel tersebut dari dalam kolong meja.
Ponsel milik Daphnie yang tertinggal dalam kelas kini sudah berada dalam genggaman tangan Chalinda. Saat Chalinda mengusap layar ponsel tersebut ke atas, kunci ponsel segera terbuka.
Ini aneh, tidak biasanya Daphnie tidak mengunci ponselnya. Mungkin saja karena ponsel itu belum ditinggal lama oleh pemiliknya sehingga kunci ponselnya juga belum terkunci secara otomatis.
Tapi ini merupakan keberuntungan bagi Chalinda. Perempuan itu kemudian masuk ke dalam aplikasi perpesanan yang ada dalam ponsel Daphnie, lantas dengan segera masuk ke dalam ruang obrolan sahabat baik Chalinda itu dengan seorang guru yang siang hari kemarin sudah menyekap dan mengancam Chalinda dari dalam ruang musik.
Ada dua pesan masuk dari Erina yang diterima oleh ponsel Daphnie.
[Terima kasih ya kamu udah mau bantu. Nilai kamu juga sudah saya naikkan. Sesuai dengan perjanjian kita.]
[Nanti ke ruang guru ya, ada yang mau aku bicarakan sekaligus berikan kepada kamu.]
Chalinda mengernyitkan dahi saat membaca dua pesan itu. Perempuan itu merasa penasaran dengan apa yang telah dilakukan oleh Daphnie terhadap Bu Erina sehingga dia harus menerima beberapa hadiah itu.
Rasa penasaran tersebut membuat Chalinda ingin melihat pesan mereka mulai dari awal. Chalinda menggeser ke bawah pesan-pesan dalam ruang obrolan mereka.
Rupanya belum banyak pesan yang terkirim dan diterima di sana. Awal percakapan adalah jam empat sore kemarin.
Hal itu membuat Chalinda semakin mengernyitkan dahi. Rasa penasaran dalam diri Chalinda juga semakin besar.
Tidak menunggu lama lagi, Chalinda mulai mmebaca pesan-pesan yang ada dalam ruang obrolan mereka dari awal.
Pengirim pesan pertama adalah Erina. Dia nampak menyapada Daphnie dan memastikan bahwa pemilik nomor ponsel tersebut yang sebenar-benarnya adalah Daphnie.
Selanjutnya mereka nampak membuat sebuah kesepakatan. Dan sampai pada hal yang membuat Chalinda begitu terkejut adalah pada saat dia mengetahui bahwa Daphnie memberitahukan cerita yang baru saja dia dengar dari Chalinda kepada Erina.
Guru perempuan itu nampak ceria terlihat darimana dia membalas pesan dari Daphnie dengan penuh emoji. Sementara itu, Chalinda merasa begitu emosi.
Seseorang yang dia curigai bukanlah Daphnie, melainkan Martha. Padahal jelas Martha tidak melakukan apapun dan yang munafik di sini adalah Daphnie.
Nafas Chalinda memburu, gadis itu tidak lagi dapat menahan emosinya saat sedang membaca pesan Daphnie yang menceritakan bagaimana Chalinda berhasil kabur dari penyekapan yang dilakukan oleh Erina.
Jelas Daphnie dapat dengan jelas memberikan kesaksian karena baru beberapa menit saja dia mendengar cerita nyatanya dari Chalinda.
"Cha!"
Chalinda mendengar suara Daphnie memanggil namanya dengan begitu jelas. Saat perempuan itu menoleh ke arah sumber suara, nampak Daphnie yang sedikit berlari ke arahnya.
Dengan segera Daphnie mengambil alih ponselnya yang sedang berada dalam genggaman tangan Chalinda.
Tentu saja, Chalinda juga merasa begitu terkejut atas kejadian yang terjadi dengan sangat cepat. Chalinda terdiam, memperhatikan ekspresi Daphnie yang sedang memeriksa ponselnya.
Perempuan itu sudah tidak lagi punya selera makan pada jam istirahat ini. Tidak perduli jika jam istirahat akan berakhir dalam beberapa menit lagi, Chalinda keluar dari kelas sembari menahan air matanya.
Chalinda tidak perduli dengan bagaimana teman-teman kelasnya memandang ke arah dirinya dan Daphnie. Chalinda juga tidak lagi perduli dengan tatapan-tatapan mata penuh keheranan yang selalu Chalinda jumpai di sepanjang jalan.
Lima menit berlalu sekarang Chalinda sedang berada di halaman belakang sekolah. Tepat di belakang kantin yang ramai, Chalinda duduk sendirian di atas rumput liar.
Kedua tangannya mencabuti rumput tersebut dengan kedua netranya yang terus mengalirkan air mata.
Telinganya mendengar suara murid-murid yang sedang bercanda di kantin ataupun sedang membeli sesuatu. Mereka semua terdengar begitu ceria, hanya Chalinda saja yang sedang bersedih.
"Cha," panggil Martha.
Chalinda menoleh perlahan ke arah datangnya Martha. Perasaan Chalinda begitu campur aduk. Chalinda ingin bersandar dan menenangkan diri dengan dia, namun di sisi lain juga Chalinda merasa bersalah karena kemarin sore Chalinda sudah mencurigainya.
Perempuan itu hanya diam saja. Sementara itu, Martha turut mendudukkan dirinya di samping Chalinda dengan kedua lutut yang ditekuk dan kedua tangannya melingkar pada kedua lututnya itu.
"Kamu lagi ada masalah sama Daphnie?" tanya Martha.
Mendengar Martha bertanya seperti itu, Chalinda menoleh ke arah sahabat yang ternyata paling baik itu.
"Maafkan aku, Tha," ujar Chalinda, tanpa menjawab pertanyaan dari Martha sebelumnya.
"Maaf, untuk apa?" tanya Martha dengan dahi yang mengerut. Tentu saja perempuan itu merasa heran dengan apa yang sebenarnya sedang ingin dibicarakan oleh Chalinda.
Merasa perlu mengatakan yang sebenarnya, Chalinda akhirnya mengatakan jika dia sempat mencurigai Martha yang ada di balik akun palsu yang mengatasnamakan dirinya itu.
Tanggapan dari Martha begitu berbeda dengan apa yang telah dipikirkan oleh Chalinda. Martha begitu tenang dalam menyikapi perkataan dari Chalinda.
"Aku bahkan tahu tentang akun itu saat tadi pagi buka sosial media. Kok ada yang nandai akun aku, pas aku lihat nama akunnya kaya nama kamu. Malah aku kira itu memang kamu yang pengin cerita tanpa menunjukkan identitas. Ya aku nggak terlalu perduli sih, Cha, soalnya aku nggak mengira kalau itu bahkan akun palsu yang ternyata begitu. Apalagi pas aku denger tadi, ternyata yang di belakang akun palsu itu Bu Erina sendiri dan parahnya lagi Daphnie juga turut andil," ujar Martha. Pandangan mata gadis itu melihat jauh ke depan.
"Terus aku harus gimana, Tha? Aku nggak siap buat masuk ke kelas dan duduk satu meja sama dia. Secara aku masih emosi, aku takut malah nanti aku bongkar aib aku sendiri. Makannya tadi aku juga langsung pergi dari kelas. Aku nggak mau lama-lama ada di dekat Daphnie, aku takut nantinya malah jadi tambah emosi," ujar Chalinda, ditengah kebimbangannya.
Sementara itu bel masuk mulai berbunyi. Murid-murid yang sedari tadi ada di kantin perlahan mulai meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran.
"Kayaknya di belakang itu ada bangku kosong deh, Cha. Kamu bisa pakai itu dulu buat hari ini," ujar Martha, memberikan saran.
"Tapi ... gimana kalau teman-teman kelas--"
"Nggak usah pikirkan mereka, Cha. Lagipula beberapa dari teman kelas kita juga udah lihat kejadian pas tadi. Mereka juga pasti ngerti. Kamu juga kan belum ngomong di depan mereka semua kalau ternyata yang ada di belakang akun palsu itu adalah Bu Erina dan Daphnie. Mereka nggak tahu permasalahannya, santai aja," potong Martha.
Chalinda menganggukkan kepalanya dengan perlahan dan sedikit ragu. "Tapi gimana dengan Daphnie?"