MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Awal Desas-desus



Chalinda menoleh ke arah sumber suara. Tepat di sebelah kanannya kali ini sudah berdiri dua orang yang begitu baik kepada Chalinda.


Martha dan Daphnie ada di sana. Daphnie sendiri tampak melambaikan tangannya sembari tersenyum begitu ceria, tetapi Martha hanya berdiri sambil tersenyum memandang ke arah Chalinda.


Perempuan itu turut tersenyum, lantas dengan langkah yang sedikit berat melangkah ke arah kedua sahabatnya yang sudah menunggu.


"Kamu nggak papa kan, Cha? Tadi berangkat pakai apa?" tanya Daphnie, menyambut kedatangan kawan sebangkunya kembali.


"Pakai angkutan umum, Da. Eh kalian berdua ngapain di sini? Bukannya udah hampir bel, ya?" tanya Chalinda, pandangan mata perempuan itu melihat ke arah dua sahabat baiknya secara bergantian.


"Tadi kan kamu kirim pesan di grup. Jadi niatnya mau nyambut kamu gitu, sekalian lihat keadaan kamu sekarang gimana," jelas Daphnie.


Bel sekolah tanda jam pelajaran akan segera dimulai berbunyi. Seluruh murid yang masih berada jauh di luar gerbang segera berlari sebelum gerbang sekolah benar-benar ditutup. Sementara itu yang sudah ada di dalam lingkungan sekolah mulai berjalan dengan cepat menuju kelas masing-masing. Beberapa murid yang datang pada saat gerbang sudah ditutup harus menunggu selama beberapa saat sampai gerbang kembali dibuka dan mereka juga menerima hukuman sesuai dengan yang diinginkan oleh guru piket yang sedang berjaga.


"Eh, udah bel, ayo kita ke kelas," ajak Martha, yang sedari tadi lebih banyak diam.


"Ayo," ujar Chalinda dan Daphnie secara bersamaan.


Jam pelajaran pertama dan kedua dilalui tanpa ada kejadian apapun. Semuanya normal, Chalinda juga tidak lagi merasa mual ataupun pusing. Sepertinya janin yang ada dalam kandungannya kali ini sudah mau mendukung Chalinda untuk tetap melanjutkan pendidikannya.


Selanjutnya adalah jam pelajaran ketiga dan keempat yang diisi dengan pelajaran bahasa internasional. Chalinda menumpuk buku tulis dan buku paket yang dipinjamkan sekolah, kemudian mengambil tas ranselnya.


Kedua buku itu dimasukkan ke dalam tas yang kini berada di pangkuan Chalinda. Sebelumnya Chalinda sudah mengeluarkan bekal makan dan air minum sehingga ruang dalam tas lebih luas saat ini.


Sembari menunggu guru selanjutnya yang tidak lain adalah Pak Artha datang ke ruang kelas, Chalinda mengusap perutnya dari permukaan seragam dengan tas ransel yang menutupinya.


'Terima kasih karena kamu mengertiku saat jam pelajaran sedang berlangsung,' batin Chalinda, bibirnya tersenyum tipis.


"Apa kamu baik-baik saja, Cha?" tanya Daphnie, pandangan matanya melihat ke wajah Chalinda dan tangan perempuan itu yang sedang mengusap perutnya dengan perlahan.


Jujur saja Daphnie merasa begitu khawatir dengan kondisi Chalinda. Perempuan itu terlihat rapuh dan lemah saat ini, tidak seperti biasanya yang penuh energi dan ceria.


Karena ada calon manusia di dalam kandungannya, Chalinda saat ini lebih bainyak terdiam. Bahkan saat melakukan sesuatu pun dilakukan dengan sangat perlahan dan berhati-hati.


Daphnie tidak mempermasalahkan hal itu, justru itu bagus bagi Chalinda. Tapi Daphnie memikirkan bagaimana tanggapan dari teman-teman sekelasnya. Apalagi geng yang paling terkenal membuat onar ada dalam kelasnya.


Chalinda menoleh, tangannya segera menjauh dari permukaan perut dan tidak lagi mengusapnya sesaat setelah melihat Daphnie memperhatikan dirinya.


"Iya, aku nggak papa kok, Da," ujar Chalinda yang tampak begitu gugup.


Pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang seketika membuat suasana kelas yang pada awalnya begitu ramai menjadi hening. Menyadari hal tersebut, Chalinda dan Daphnie yang sedang berbicara pun menghentikan obrolannya dan melihat ke depan.


Di sana tampak Pak Artha yang sedang berjalan masuk dan menuju meja guru. Tas laptop yang sedari tadi berada pada genggaman tangan kanannya diletakkan di atas meja. Dan sembari membuka tas laptop tersebut untuk mengeluarkan isinya, guru laki-laki tampan yang menjadi idola murid perempuan di sekolah itu mendudukkan tubuhnya.


"Selamat pagi, anak-anak," ujar Pak Artha, menyapa anak muridnya tanpa sedikitpun melihat ke arah mereka.


"Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Pak Artha kemudian.


"Baik, Pak," jawab semua murid dalam kelas itu, masih dengan begitu kompak.


"Baik, kalau begitu kita mulai langsung saja pelajarannya, ya, tapi sebelum itu, Pak Artha mau tahu siapa yang hari ini absen terlebih dahulu," ujar Pak Artha, sembari mengambil buku absensi yang disimpan juga di dalam tas laptop miliknya.


"Nihil, Pak," ujar Martha sendirian dengan suara yang lantang.


Pak Artha nampak terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh ketua kelas. Pandangan mata yang sedari tadi fokus menyiapkan media pembelajaran kali ini mengedar ke seluruh ruangan.


Sama sekali tidak ada bangku kosong yang Artha lihat dalam kelasnya tersebut. Hal ini tidak begitu mengherankan karena memang kelas di bawah naungan Artha memang sudah terkenal sering nihil sedari dulu.


"Chalinda sudah berangkat?" tanya Artha, masih sembari mengedarkan pandangan. Hingga akhirnya kedua mata laki-laki itu menangkap keberadaan Chalinda yang duduk tepat di sebelah Daphnie dan dalam satu meja bersama.


"Sudah, Pak."


Alih-alih Chalinda yang menjawabnya, justru Martha yang kembali berbicara dengan lantang.


Artha nampak sedikit terkejut saat itu, apalagi kala melihat ke arah Martha yang segera membuang pandangan dan seakan begitu kesal terhadap perangai dirinya.


"Mungkinkah kedua teman Chalinda itu sudah tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya? Tapi bukankah Chalinda sendiri yang ingin masalah ini tetap tersembunyi? kenapa dia justru mengatakannya kepada dua sahabatnya itu?" pikir Artha.


"Baiklah kalau begitu, kita langsung mulai saja pelajarannya, ya. Buka buku paket kalian halaman 23," ujar Artha, seraya menyalakan laptop dan menyambungkannya ke proyektor.


Semua murid bisa melihat dengan jelas tampilan power point yang tepat berad di papan tulis.


Tulisan mengenai judul materi yang akan dipelajari mereka semua hari ini tampak begitu jelas, yaitu tentang teks deskripsi.


"Hari ini kita akan belajar tetang teks deskripsi, ya. Pasti kalian sudah tahu kan, apa itu teks deskripsi jika dalam bahasa Indonesia?" ujar Artha, sembari beranjak dari duduknya.


Laki-laki itu memang tipikal guru yang tidak suka bikin hanya duduk sembari mengarahkan kursor dalam laptopnya. Dia lebih memilih untuk berdiri sembari menjelaskan, lantas menunjuk ke tampilan yang dihasilkan dari mesin proyektor menggunakan laser.


"Tidak ada seorang pun yang menanggapi pertanyaan Artha. Meskipun semua murid nampak serius memandang ke depan memperhatikan materi yang hendak disampaikan oleh guru mereka.


"Baik, sama halnya seperti di bahasa Indonesia. Teks deskripsi adalah--"


HUEEKKK!!!


Semua murid yang sedang memperhatikan penjelasan dari Artha seketika menoleh ke arah sumber suara.


Tidak salah lagi, sumber suaranya adalah Chalinda. Perempuan itu nampak berlari keluar ruangan dengan tangan yang menutupi mulutnya.


Tanpa berpamitan atau meminta izin terlebih dahulu kepada guru yang sedang mengajar, Chalinda segera keluar dari ruangan sembari berlari.