MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Teman Baik



Chalinda merasa bingung sendiri dengan banyaknya murid yang kini mengerubungi dirinya. Mereka semua bagaikan seorang wartawan yang sedang mencari sebuah berita gosip yang sedang hangat-hangatnya.


Beberapa dari mereka ada yang hanya melayangkan pertanyaan saja, tapi kebanyakan sembari merekam dengan ponsel mereka atau hanya merekam saja tanpa bertanya.


Chalinda hanya bisa bungkam. Dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang hendak dia katakan. Rasanya, jika bisa Chalinda ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini saja. Tapi pahitnya, semua ini terjadi secara nyata saat dua jam setelah Chalinda bangun dari tidurnya.


"Cha, ayo jawab dong jangan diam aja."


"Kalau kamu nggak bisa jawab berarti semua ini benar? Kamu disekap oleh Bu Erina dan dihamili sama Pak Artha?"


"Fix ini mah emang benera. Tapi kenapa harus Pak Artha sih, Cha? Sengaja banget ya mau bikin kita semua iri?"


"Iya ih, padahal harusnya dia kan sama aku, hahaha."


"Kenapa kamu nggak seneng gitu sih, Cha, udah hamil anak Pak Artha? Kan harusnya kamu juga merasa senang karena berhasil merasakan kebahagiaan bersama dia. Satu keringat dalam dua tubuh yang berbeda, hahaha."


Telinga Chalinda begitu terasa panas mendengar celotehan dari beberapa murid yang justru menganggap apa yang dialami oleh Chalinda adalah hal yang biasa. Padahal Chalinda juga tidak ingin dia hamil karena guru yang diidolakan seluruh murid perempuan seantero sekolah.


Jika bisa memilih takdir pun, Chalinda ingin menjadi murid biasa saja yang berprestasi dan bisa mewujudkan keinginan dirinya dan orang tua untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.


Sama sekali Chalinda tidak ingin jika dirinya menjadi seorang istri dari Artha, seperti yang diidam-idamkan oleh banyaknya murid perempuan dalam sekolah tersebut.


Chalinda merasa ingin berteriak, namun bibirnya begitu kelu. Gadis itu juga ingin segera pergi menembus kerumunan itu, namun tubuhnya bak berada dalam kutub selatan tanpa menggunakan pakaian hangat.


"Kalian ngapain sih pada ngerubungi Chalinda gini? Emangnya Chalinda salah apa, hah?!" ujar Daphnie.


Tiba-tiba saja salah satu dari sahabat Chalinda itu datang menghampiri. Jika tidak, mungkin Chalinda bisa mati berdiri di tengah kerumunan mereka.


"Udah sana pergi! Ke sini itu buat sekolah, bukan ngegosip!!!" bentak Daphnie lagi.


Perkataan perempuan itu membuat semua murid yang sedari tadi mengerubungi Chalinda mulai membubarkan diri satu persatu. Tentu saja sembari berbisik-bisik membicarakan Daphnie dan Chalinda.


Tapi Chalinda benar-benar sudah tidak lagi perduli dengan hal tersebut. Kehadiran Daphnie seolah bagai pahlawan penyelamat yang datang di waktu yang sangat tepat saat sedang dibutuhkan.


Semuanya sudah kembali ke bangku dan kelas masing-masing saat bel masuk berbunyi dengan begitu nyaring. Membuat murid-murid yang masih berjalan jauh dari gerbang sekolah mempercepat langkah kaki mereka sebelum gerbang sekolah benar-benar ditutup.


"Makasih ya, Da. Aku nggak tahu deh kalau kamu nggak datang aku bakalan kaya gimana nantinya," ujar Chalinda, tersenyum simpul.


Gadis itu sangat bersyukur karena sahabat baiknya itu seakan mengerti saat dirinya sedang kesulitan. Ini tidak akan Chalinda biarkan begitu saja, Chalinda akan membalas kebaikan Daphnie suatu saat nanti.


"Santai aja lah, Cha. Lagian aku juga nggak sengaja lewat dan lihat kamu lagi dikerubungi banyak murid. Otomatis aku tahu dong permasalahannya di mana? Semalam kan juga aku ikut nyimak di grup chatt, walaupun nggak ikutan nimbrung buat belain kamu. Maaf ya, Cha," ujar Daphnie, kini wajahnya tampak memelas setelah beberapa menit yang lalu terlihat begitu tegas dan ceria.


"Iya nggak papa lah, Da. Aku juga nggak ikut nimbrung di grup. Kita pasti akan kalah buat melawan semua yang ada di grup tadi malam," ujar Chalinda, tersenyum simpul.


"Tapi kamu masih baik-baik aja kan, Cha?" tanya Daphnie, air mukanya kini berubah menjadi terlihat begitu khawatir.


Daphnie hanya tersenyum untuk membalas perkataan dari Chalinda. Keduanya kemudian berjalan menuju kelas bersama-sama karena bel masuk juga sudah berbunyi dan jam pelajaran pasti akan dimulai sebentar lagi.


Hari ini, Chalinda tidak merasakan morning sickness seperti biasanya. Ditambah lagi, rumah yang bersebelahan langsung dengan sekolah juga nampaknya tidak memasak apapun pagi ini, jadi tidak ada aroma wangi masakan atau bawang goreng yang bisa memicu mual dalam perut Chalinda.


Hingga jam pelajaran tiba, Chalinda membuka bekal makannya. Sementara seperti biasa, Martha dan Daphnie beranjak dari duduknya untuk membeli makanan di kantin.


"Kita ke kantin dulu ya, Cha. Lupa nih nggak bawa bekal. Nanti kalau udah selesai beli kita ke kelas, kok. Kita makan bareng-bareng di kelas," ujar Daphnie, sembari beranjak dari duduknya dan merapikan seragam sekolah yang sudah nampak lusuh.


Chalinda menganggukkan kepala sembari tersenyum.


"Mau nitip sesuatu nggak?" tanya Martha, yang sedari tadi sudah berdiri di sebelah meja Chalinda.


Kali ini Chalinda menggelengkan kepalanya. Perempuan itu masih mempunyai banyak air mineral dalam botol minumnya dan sepertinya juga tidak ada sesuatu yang perlu Chalinda beli.


"Yakin?" tanya Martha, meyakinkan Chalinda.


Untuk memastikan bahwa dirinya tidak membutuhkan apapun, Chalinda melihat ke arah botol minum dan kotak bekalnya. Benar-benar belum ada yang berkurang.


"Iya nggak ada kok, Tha. Makasih ya," ujar Chalinda, tersenyum simpul.


"Ya udah, kalau gitu aku sama Martha pergi dulu ya, Cha. Kamu di kelas juga nggak sendirian kok, tuh banyak yang nggak jajan," ujar Daphnie, sembari mengarahkan pandangannya ke berbagai arah dalam kelas tersebut.


Chalinda juga melihat banyak murid yang masih ada dalam kelasnya. "Tenang aja."


Setelah Daphnie dan Martha pergi, Chainda terlebih dahulu membuka bekal makan siangnya.


Nasi dengan telur ceplok yang dibumbui dengan kecap dan ada juga beberapa potongan cabai yang terlihat di sana, tapi tentu saja tidak ada sedikitpun potongan bawang goreng yang terlihat di sana.


Chalinda tersenyum memandangi bekal makanan yang disiapkan oleh ibunya itu. Dia adalah seseorang yang begitu pengertian.


Sebelum makan, Chalinda terlebih dahulu menyiapkan air mineral untuk minum dan berdoa.


Gadis itu mulai menikmati bekal makanannya sendirian. Ada perasaan sepi yang Chalinda rasakan, namun Chalinda sadar bahwa itu tidak akan terjadi lama. Hanya beberapa menit saja hingga Martha dan Daphnie kembali dari kantin.


DRRRTTT ... DDDRRRTTT ....


Chalinda mendengar ada suara ponsel yang bergetar. Namun Chalinda paham betul jika itu bukan berasal dari ponselnya karena suara getarannya berbeda dan lebih lama.


Melihat ke arah kolong meja milik Daphnie, Chalinda menemukan ponsel milik gadis itu ada di sana.


Secara tanpa sadar, Chalinda mengambil ponsel itu dan membaca notifikasi dalam ponsel tersebut yang menyebabkan ponsel bergetar.


Rupanya sebuah pesan telah masuk ke dalam ponsel milik Daphnie. Namun yang lebih mengejutkan Chalinda adalah saat Chalinda membaca siapa yang telah mengirimkan pesan tersebut.