
Kedua mata Chalinda terbelalak saat melihat siapa yang datang dan masuk ke dalam pintu ruang musik yang dikunci menggunakan gembok itu.
"Chalinda?!" tanyanya begitu heran kala melihat Chalinda dengan kondisi yang menyedihkan sedang berada dalam ruangan tersebut.
Kedua tangan dan kakinya diikat, mulutnya ditutup dengan lakban berlapis-lapis. Rambut dan seragam sekolah Chalinda juga begitu berantakan, hal itu segera membuat pikiran bahwa Chalinda telah mengalami penyiksaan dalam ruangan itu.
Netra Chalinda memandangi siapa yang datang. Meskipun mulutnya tidak dapat berkata-kata, Chalinda mengatakannya dengan pandangan matanya.
Perempuan itu benar-benar memohon untuk seseorang itu melepaskan ikatan yan ada pada kedua kaki dan tangannya. Tubuhnya sudah terasa begitu lelah dan sakit, Chalinda ingin segera bebas dari semua ini.
"Chalinda, siapa yang beran melakukan ini kepadamu?" tanyanya.
Meskipun dulunya seseorang itu adalah yang membuat hidup Chalinda seakan hancur saat itu juga, tapi kali ini justru dia menolong Chalinda.
Entah bagaimana ceritanya hingga Pak Artha sampai di ruang musik. Padahal guru laki-laki itu bukanlah guru seni musik. Dia hanyalah seorang guru bahasa yang merangkap sebagai wali kelas saja.
Artha melepaskan satu persatu ikatan tersebut dengan tangan kosong. Sesekali Chalinda merasa kesakitan ketika tali yang sedang ditarik begitu kuat itu menyentuh kulitnya.
Namun akhirnya Chalinda merasa begitu lega setelah ikatan pada kedua kakinya terlepas. Kini giliran kedua tangannya yang meraung meminta untuk segera dimerdekakan.
Selama hampir dua puluh menit lamanya, akhirnya Chalinda bisa bernafas dan bergerak dengan bebas. Meskipun disekitar bibirnya masih terasa perih akibat dari lakban yang menempel berlapis-lapis.
Chalinda masih duduk di atas satu-satunya kursi yang ada dalam ruangan tersebut. Gadis itu membutuhkan istirahat barang sejenak untuk bisa kembali ke kelas. Chalinda juga memanfaatkan waktu istirahatnya untuk memikirkan alasan apa yang akan dia berikan kepada guru dan teman sekelasnya saat kembali ke kelas.
"Siapa yang berani melakukan ini, Cha?" tanya Artha, laki-laki itu nampak begitu khawatir.
Kini Artha duduk tepat di hadapan Chalinda. Posisi laki-laki itu berdiri pada kedua lututnya, hal itu membuat Chalinda harus melihat wajah Artha setiap kali perempuan itu menundukkan kepala.
Chalinda memilih untuk menggelengkan kepala daripada memberitahukan kepada Artha perihal siapa yang sudah menyekap dirinya dalam ruang musik.
Perkataan dan ancaman dari Erina masih teringat dengan jelas dalam kepala Chalinda. Gadis itu sangat takut jika nantinya semua warga sekolah mengetahui jika dirinya tengah hamil dan siapa yang menghamilinya.
Hal itu akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi masa depan Chalinda. Gadis itu bisa tidak mendapatkan ijazah dan itu bisa mempersulit dirinya dalam mencari pekerjaan nantinya.
Tidak hanya itu, Chalinda juga mengkhawatirkan Artha. Jika saja semua warga sekolah tahu siapa yang sudah menghamilinya, mungkin nantinya laki-laki itu akan dicopot jabatannya dan itu membuat Chalinda semakin pasrah untuk menjalani hidup.
"Nggak papa, Cha. Katakan saja," ujar Artha, membujuk Chalinda untuk segera mengatakan kebenarannya.
Lagi-lagi Chalinda hanya menggelengkan kepalanya. Kali ini bahkan lebih tegas dan Chalinda segera beranjak dari kursinya.
Entah kemana tujuan gadis itu pergi, namun sebaiknya memang Chalinda pergi saja daripada terus-menerus di ruang musik bersama Artha, dia hanya terus mendapatkan pertanyaan dari laki-laki itu.
"Chalinda ... Chalinda tunggu aku!" teriak Artha.
Chalinda menoleh ke belakang, terlihat Artha yang nampak berlari untuk mengejar Chalinda. Melihat hal tersebut, Chalinda semakin memperkencang langkah kedua kakinya.
Seperti biasanya, Chalinda bersembunyi di tempat andalan. Dengan segera Chalinda masuk ke dalam salah satu toilet perempuan dan mengunci pintunya dari dalam.
Selain mengunci pintunya, Chalinda juga menyalakan keran air. Chalinda tidak ingin jika Artha berhasil menemukannya dan masuk ke dalam toilet perempuan yang sempat terjadi beberapa hari yang lalu.
Sekitar sepuluh menit Chalinda bersembunyi di dalam toilet tersebut, Chalinda tidak mendengar suara seseorang atau bahkan langkah kakinya sekalipun.
Ingin rasanya Chalinda keluar dari toilet tersebut saat itu juga, namun perempuan itu merasa bahwa dirinya belum begitu aman kali ini.
Chalinda memutuskan untuk menunggu selama beberapa menit lagi hingga akhirnya gadis itu mendengar suara seseorang yang saling berbicara.
"Kok Chalinda belum balik ke kelas ya? Katanya dia bawa bekal, tapi tadi aku lihat bekal makanannya juga masih utuh," ujar seseorang dengan suara yang sama persis dengan Daphnie, dan Chalinda juga sangat yakin jika itu adalah sahabatnya.
"Nggak tahu juga, coba kita lihat ke UKS," ujar seseorang lain yang menimpali. Kali ini suaranya begitu mirip dengan Martha.
Chalinda sangat yakin jika yang ada di luar itu adalah kedua sahabatnya. Ingin rasanya Chalinda keluar dari toilet saat ini juga, tapi Chalinda juga memikirkan apa alasan yang akan dia berikan.
Akankah Chalinda mengatakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya? Chalinda begitu bingung dan dilema dalam toilet tersebut.
Hingga akhirnya Chalinda merasa dia harus keluar saat ini juga dan bertemu dengan kedua sahabatnya. Lebih baik dia mengatakannya saat ini juga barangkali kedua sahabatnya itu juga bisa membantunya.
Chalinda mematikan keran air, lantas membuka kunci pintu dan menarik pintu tersebut ke arahnya sehingga terbuka.
Namun aneh, saat Chalinda keluar dari toilet sudah tidak ada seorang pun selain Chalinda dalam toilet tersebut.
Hal itu membuat Chalinda bergidik ngeri sekaligus merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi beberapa detik yang lalu.
Chalinda merasa belum lama dirinya keluar saat mendengar perbincangan antara Martha dengan Daphnie itu, namun anehnya Chalinda tidak melihat keberadaan mereka di sekitarnya.
Gadis itu bahkan membuka ketiga bilik toilet dan berjalan keluar barangkali melihat adanya keberadaan mereka yang sudah pergi dari toilet dan belum berjalan jauh, namun Chalinda tetap tidak menemukan kedua sahabatnya itu.
Seketika Chalinda merasa merinding. Entah siapa dua suara yang Chalinda dengar di toilet barusan.
Chalinda teringat dengan perkataan Martha yang mengatakan jika dia menyarankan untuk melihat ke UKS. Dengan segera Chalinda berjalan ke arah UKS, langkah kakinya berjalan dengan sedikit cepat berharap Chalinda bisa mengejar langkah kedua sahabatnya.
Namun lagi-lagi hanyalah keanehan dan rasa merinding yang didapatkan oleh Chalinda. Sepanjang jalan menuju koridor Chalinda tidak mendapati Martha dan Daphnie, begitu juga di dalam ruang UKS.
"Cari siapa, Kak?" tanya seseorang yang sedang berjaga dalam UKS.
Chalinda hanya menggelengkan kepalanya saja. Rasanya begitu takut, aneh dan tidak sesuai nalar logikanya.
Gadis itu ingin segera menuju kelas dan menanyakan hal tersebut langsung kepada Daphnie dan Martha untuk mengurangi rasa penasaran serta takutnya.
"Kamu habis darimana aja, Cha?"
"Apa kamu tadi pergi ke toilet?"