
"Chalinda, Cha ...," panggil Daphnie yang kemudian berlari mengejar langkah Chalinda.
Sama dengan Chalinda sebelumnya, Daphnie juga sama sekali tidak meminta izin atau berpamitan terlebih dahulu kepada Pak Artha selaku guru yang sedang mengajarnya.
Hal itu terjadi bukan karena disengaja, namun memang karena panik dan khawatir yang dirasakan oleh kedua gadis yang baru berusia belasan tahun itu lebih menguasai diri mereka.
Chalinda berlari menuju toilet perempuan yang berada dekat dengan kelasnya. Di dalam sana perempuan itu bisa dengan puas melakukan apa yang hendak diinginkan tubuhnya.
Gadis itu tidak lagi perduli tidak seperti beberapa hari sebelumnya. Meskipun di dalam toilet tersebut ada dua orang murid perempuan yang sedang menggunakan salah satu bilik, hal itu tidak membuat Chalinda berhenti dan menunda sejenak sampai mereka keluar dari toilet.
Dapat dilihat dari pantulan cermin yang ada dalam toilet, meskipun sudah begitu kotor dan penuh dengan bekas percikan air yang sudah kering, kedua murid perempuan itu nampak berbisik dan saling bertanya perihal apa yang mungkin terjadi terhadap murid perempuan yang sedang muntah-muntah di dekat mereka berdua.
"Dia kenapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Nggak tahu, masuk angin kali. Udah ah yuk ke kelas lagi," ujar salah satu yang lain.
Mereka berdua lantas keluar dari dalam toilet dan bersamaan dengan itu, Daphnie masuk ke dalam.
Gadis itu segera mendekat ke arah sahabat baiknya yang nampak tidak sedang baik-baik saja di depan westafel.
Air kerannya menyala dan berkali-kali sudah Chalinda membasuh mulutnya. Kedatangan Daphnie seakan sebagai malaikat penolong bagi Chalinda.
Kapanpun Chalinda merasa tidak baik-baik saja, sahabat Chalinda itu selalu ada dan datang membantunya. Meskipun sebenarnya Chalinda merasa sedikit tidak enak karena hal itu.
Daphnie dengan telaten membantu Chalinda dengan mengurut bagian tengkuk lehernya. Gadis itu merasa begitu kasihan dengan Chalinda, apalagi saat mengetahui bahwa perempuan itu hamil karena Artha, guru yang begitu menjadi primadona di sekolah.
Setelah mendengar hal itu dari Chalinda, Daphnie dan Martha segera merasa kehilangan respect terhadap Artha. Guru yang dulu menjadi idola mereka bertiga kini justru dibenci oleh ketiganya juga.
Daphnie benar-benar belajar banyak hal atas kejadian ini. Apalagi itu menimpa sahabatnya sendiri. Dari Chalinda, Daphnie belajar menjadi seorang yang sabar dan mau menerima keadaan dengan ikhlas, seburuk apapun keadaan tersebut.
Sepertinya Chalinda sudah merasa sedikit lebih baik. Kepala yang sedari tadi menunduk dan mengarah ke westafel kini sudah diangkat.
Chalinda memandangi wajahnya sendiri dari pantulan kaca cermin. Dilihatnya wajah yang pucat pasi dengan bekas percikan air di sekitar mulutnya.
Nafasnya tidak beraturan dan rasa mual itu masih saja ada meskipun Chalinda sudah mengeluarkan kembali sarapan paginya.
Beruntungnya Daphnie membawa minyak angin aroma terapi yang turut dia bawa ke toilet. Sahabat baik Chalinda itu membalikkannya pada tengkuk, leher, dada dan perut Chalinda hingga gadis itu merasa lebih baik.
Aroma minyak angin terasa begitu menyegarkan dan membuat rasa mual yang dirasakan Chalinda sedari tadi berangsur-angsur menghilang.
"Terima kasih, Da," ujar Chalinda, dengan suara yang lirih dan lemas.
"Mau minum?" tawar Daphnie.
Chalinda menganggukkan kepalanya. Kerongkongannya terasa begitu kering saat ini, dan sesaat setelah menerima botol minum dari Daphnie, Chalinda segera meneguknya.
Air mineral yang ada dalam botol minum milik Chalinda sendiri itu hanya tersisa sedikit kali ini setelah sebelumnya diminum saat di perjalanan.
Sembari duduk di lantai toilet yang kering, Chalinda mengatur nafasnya. Perempuan itu juga meminta lebih banyak minyak angin kepada Daphnie untuk kemudian dia balurkan sendiri pada area tubuh yang dirasa membutuhkannya.
"Kenapa seperti ini lagi, Cha?" tanya Daphnie dengan begitu lembut, gadis itu turut duduk di sebelah Chalinda sembari memegangi botol minum milik temannya itu.
Daphnie menganggukkan kepalanya merasa paham dengan apa yang sudah dikatakan oleh Chalinda. "Jadi kamu paling nggak bisa kalau cium aroma bawang goreng ya, Cha?"
"Sebenarnya nggak hanya itu sih, Da. Bahkan melihatnya pun aku sudah mual dan muntah-muntah," ujar Chalinda.
"Benarkah? Jadi kamu benar-benar tidak bisa mencium aromanya dan bahkan hanya melihatnya saja?" tanya Daphnie, memastikan.
Chalinda menganggukkan kepala. Pandangan matanya masih menuju ke satu arah yang sama.
"Padahal baru tadi aku berterima kasih kepada janin ini karena tidak cari gara-gara di jam pertama dan kedua," ujar Chalinda.
"Ini sepenuhnya bukan salah dia, Cha," ujar Daphnie, sembari melihat ke arah perut Chalinda.
"Ya, kamu emang benar, Da. Semua ini salah Artha," ujar Chalinda.
Pandangan mata yang tadi terlihat begitu lemah sekarang berubah menjadi tajam dan seakan penuh dengan kekuatan. Perempuan itu terlihat masih menyimpan dendamnya terhadap Artha.
Daphnie hanya bisa terdiam. Ada perasaan takut dalam diri perempuan itu. Apalagi saat Daphnie melihat perubahan tatapan Chalinda. Gadis itu tidak lagi mampu berkata-kata lagi.
Jelas Daphnie melihat ada amarah dalam diri Chalinda, ada kemarahan yang belum tersampaikan, ada dendam yang harus tertuntaskan. Tapi Daphnie sama sekali tidak ingin jika hanya karena hal ini saja Chalinda nekad untuk berbuat bodoh tanpa berpikir dengan sebaik mungkin terlebih dahulu.
Beberapa detik Daphnie terdiam menemani Chalinda yang rupanya masih mengistirahatkan diri. Hingga tidak terasa, jam pelajaran pergantian dari jam ketiga dan jam keempat mulai terdengar.
"Da, minta minum aku," ujar Chalinda, sembari menoleh ke arah Daphnie.
"Oh, i--ini, Cha," ujar Daphnie segera menyerahkan botol minum milik Chalinda yang tadi dia bawa.
"Kamu udah mendingan belum, Cha?" tanya Daphnie kemudian.
Chalinda yang ditanyai saat dirinya sedang meneguk air mineral dari dalam botol minumnya hanya dapat mengangguk pelan hingga gadis itu menyelesaikannya.
"Lebih baik dari sebelumnya. Makasih ya, Da, kamu udah selalu ada buat aku akhir-akhir ini," ujar Chalinda, tersenyum sembari kedua tangannya menutup kembali botol minum tersebut.
"Santai aja kali, Cha. Kan emang harus begitu. Kamu udah baik sama aku, ya aku juga harus baik saja kamu," ucap Daphnie, tersenyum simpul.
"Oh iya, Cha, terus ini kamu mau istirahat aja di UKS apa gimana?" tanya Daphnie kemudian.
"Hmmm," gumam Chalinda, gadis itu tampak berpikir sejenak.
Beberapa detik kemudian, Chalinda melanjutkan kalimatnya, "Ke kelas aja yuk, Da, sekarang. Mumpung jam keempat belum selesai dan baru dimulai. Kan mending bisa ikut pelajaran selama satu jam daripada nggak sama sekali."
"Tapi ... gimana kalau kamu mual lagi, Cha?" tanya Daphnie, ragu.
"Aku mual karena ada bau bawang goreng. Ini udah hampir satu jam, katanya udah nggak bakal bau lagi," ujar Chalinda.
Pada saat beranjak dari hendak keluar dari toilet, seorang teman sebangku Martha masuk ke dalam toilet tersebut.
"Enak banget ya, pura-pura mual biar bisa bolos. Lagian lu mual terus dari kemarin kenapa sih? Jangan-jangan hamil lu ya?!"