
Alih-alih berhenti dan menunggu, Chalinda justru mempercepat langkah kedua kakinya. Chalinda tidak ingin kembali berhadapan dengan Artha, apalagi hanya berdua saja.
Trauma yang ada dalam diri Chalinda masih sangat terasa. Tubuhnya akan bergetar dan jantungnya berdegup dengan kencang saat mengingat atau bahkan bertemu dengan Artha yang melakukan seorang pelaku tindakan tersebut.
Bahkan tidak hanya itu saja, Chalinda juga kerap menitikkan air mata tanpa perempuan itu sadari dan hal itu kini terjadi.
Takut yang Chalinda rasakan seakan tidak bisa sirna seketika. Nafasnya terasa sesak kala mengingat kejadian tersebut atau berhadapan dengan Artha.
Pikirannya terus membayangkan hal-hal buruk dan rasanya Chalinda ingin berteriak sekuat tenaga, bahkan perempuan itu juga sempat memiliki pikiran jika dirinya akan merasa tenang saat sudah terpisah dari raga.
Beberapa meter lagi, toilet perempuan ada di depan mata. Chalinda memang jarang sekali menggunakan toilet tersebut karena letaknya yang cukup jauh dari kelas dan di dekat kelasnya juga ada sebuah toilet meskipun hanya satu dan berukuran lebih kecil.
Chalinda masuk ke dalam toilet tersebut, nampak di dalamnya beberapa pintu dan sebuah kaca besar yang ada di dinding depan pintu toilet tersebut.
Perempuan itu menoleh, berharap dirinya sudah aman berada di dalam toilet tersebut. Namun rupanya salah besar.
Terlihat bayangan Artha yang semakin mendekat ke arah toilet.
"Chalinda, tunggu aku," suara Artha yang terus memanggil Chalinda dan memintanya untuk berhenti.
Terdengar semakin jelas dan akhirnya Chalinda bisa melihat bagaimana Artha dengan langkah cepat masuk ke dalam toilet dan melangkah ke arahnya.
Untung saja Chalinda tidak lagi terpaku dan pasrah dengan tetap berdiri di tempat. Kali ini pikiran Chalinda berhasil menggerakkan seluruh otot dan tulang dalam tubuhnya.
Dengan segera Chalinda masuk ke dalam salah satu toilet yang paling dekat dengannya. Pintu toilet tersebut dengan segera ditutup sebelum Artha berhasil mendorongnya kembali dan Chalinda segera menggeser kuncinya.
Deru nafas Chalinda terdengar begitu jelas di dalam toilet murid berukuran 1x1 meter dengan air yang kering dan bau pesing yang menyengat.
"Chalinda, buka pintunya, Cha! Aku ingin berbicara sejenak denganmu, ini tentang masalah kita!" teriak Artha dari luar pintu toilet sembari terus mengetuk pintunya dengan keras.
Sementara di dalam toilet, Chalinda hanya bisa menangis sembari berharap akan datang keajaiban untuk dirinya agar Artha tidak lagi mengejar dan mendekatinya.
Bau pesing dan toilet yang kotor penuh sarang laba-laba karena tidak pernah dibersihkan hanya dihiraukan saja dan tidak menjadi alasan Chalinda untuk segera keluar.
Jika masih ada Artha di luar menunggunya, maka Chalinda tidak akan mau keluar seburuk apapun kondisi sekitarnya sekarang.
"Pak Artha, ngapain Bapak di sini?" suara seorang perempuan membuat kedua netra Chalinda sejenak berbinar.
"Oh, nggak ada," suara Artha terdengar gugup.
"Inikan toilet perempuan, Pak. Kenapa Bapak ada di sini?" suara seorang perempuan lain karena terdengar berbeda daripada yang pertama.
"Itu ... tadi ... tadi saya lihat ada sesuatu, jadi saya kejar. Udah ya, saya mau lanjut ke kelas lagi," suara Artha nampak gugup dan setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menjauh dari toilet.
"Aneh banget sih dia."
"Iya, udahlah, aku mau buang air kecil. Kamu tunggu di luar, ya."
Chalinda mendengar dua orang murid perempuan itu yang saling berbicara setelah kepergian Artha. Perempuan itu masih tetap berada di dalam toilet, masih belum berani untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Beberapa saat kemudian, pintu toilet di sebelahnya terdengar terbuka. Suara langkah kedua kaki mereka yang menjauh keluar dari toilet terdengar begitu jelas dalam ruangan toilet yang sangat hening.
Chalinda keluar dari tempat persembunyiannya setelah dirasa aman. Sebelum benar-benar keluar dari toilet perempuan, Chalinda menyempatkan diri untuk mencuci tangan dan membasuh wajahnya dari air keran yang mengalir dari salah satu toilet yang ada di dalam toilet perempuan itu.
Pukul setengah dua siang, Chalinda benar-benar keluar dari toilet. Dengan mata yang sembab dan masih sedikit basah, serta langkah yang sangat perlahan, Chalinda berniat untuk masuk ke dalam kelas dan mengikuti jam pelajaran untuk satu jam terakhir di hari ini.
"Chalinda."
Chalinda yang berjalan sembari menundukkan kepalanya itu segera melihat ke arah depan. Dalam pandangan mata Chalinda terlihat dua orang sahabatnya yang sedang berlari ke arahnya.
"Cha, kamu nggak papa, kan?" tanya Daphnie dengan begitu khawatir.
Chalinda hanya bisa menggelengkan kepala saja. Jika dia membuka suara dan menceritakannya, pasti kedua netra Chalinda akan kembali menitikkan air mata.
"Kamu sakit?" Kini giliran Martha yang bertanya.
Untuk mempersingkat waktu, Chalinda menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan dari Martha.
"Kasihan banget sih, kenapa nggak di UKS aja, Cha?" tanya Daphnie.
Chalinda menggelengkan kepala.
"Yaudah ayo kita antar kamu ke UKS," ajak Martha.
Chalinda menggelengkan kepala.
"Kamu mau ke kelas aja apa mau pulang?" tanya Daphnie kali ini.
Chalinda menganggukkan kepala, lantas berkata dengan sangat lirih, "Kelas."
"Yaudah, ayo kita ke kelas bareng-bareng."
Martha mulai menggandeng tangan Chalinda sebelah kanan, sementara Daphnie mendekat ke arah kiri. Kedua sahabat itu menuntun langkah Chalinda dengan perlahan hingga masuk ke dalam kelas.
Kebetulan saat keduanya sampai di ambang pintu kelas, tidak ada guru yang sedang mengajar. Mungkin dia pergi untuk mengambil sesuatu yang tertinggal atau membuang hajatnya di toilet.
Apapun itu tapi ketiga murid tersebut bersyukur karena tidak perlu repot-repot menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Ayo, udah semua ini?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang merupakan guru pada jam pelajaran tersebut. Martha dan Daphnie yang membantu Chalinda untuk duduk di bangkunya seketika menoleh ke bagian depan kelas.
"Eh, Chalinda udah kembali ya?" tanya guru perempuan itu.
Chalinda menganggukkan kepala.
Sementara itu Martha kembali ke tempat duduknya dan Daphnie mendudukkan tubuhnya di bangku dekat dengan Chalinda.
"Baiklah, semuanya sudah menulis yang di sini?" tanya guru tersebut sembari menunjuk ke arah papan tulis.
"Sudah, Bu," jawab para murid dengan serempak.
"Baik, kalau begitu itu hapus ya, kita lanjutkan menulis lagi," ucap guru tersebut, lantas mengambil penghapus papan tulis.
Baru beberapa menit saja duduk di kelas, bahkan guru perempuan tersebut juga baru menulis belum sampai bagian tengah papan tulis.
Tiba-tiba dari arah lubang angin yang ada di dalam kelas Chalinda tersebut, tercium aroma bawang goreng karena rumah yang ada di sebelah sekolah sedang memasak. Mungkin untuk makan siang.
Semerbak aroma bawang goreng itu menusuk tajam ke dalam hidup Chalinda. Seketika perempuan itu merasakan perutnya begitu mual, padahal sebelumnya Chalinda sangat menyukai aroma bawang goreng dan bahkan sering menyantapnya.
HUEK!!!
***