
Senyuman kaku tampak pada bibir Chalinda. Gadis itu merasa aneh dengan pandangan mata yang tertuju pada dirinya. Seakan mereka merasa jijik dengan Chalinda.
"Chalinda, ya?" tanya wanita tersebut tampak begitu ramah.
Tentu saja Chalinda membalas keramahan wanita tersebut dengan senyuman, meskipun sebenarnya dalam hati Chalinda merasa bingung dengan siapa sebenarnya wanita di hadapannya.
"Iya, Bu. Maaf, tapi Ibu siapa, ya?" Chalinda memberanikan diri untuk bertanya.
"Cha," ujar Liya, memperingati anaknya.
Mungkin karena bagi Liya bertanya seperti itu sedikit tidak sopan, tapi bagi Chalinda itu adalah sebuah keharusan. Gadis yang selalu menjadi juara kelas itu selalu memegang teguh kalimat, "Malu bertanya, sesat di jalan" sehingga Chalinda tidak perlu merasa malu untuk menanyakan segala hal, bahkan kepada orang asing sekalipun.
Chalinda menoleh ke arah ibunya yang terlihat tidak suka dengan pertanyaan tersebut. Begitu juga dengan seorang wanita yang sedari tadi terus mencuri pandang ke arah perut Chalinda.
"Nggak papa kok, Bu. Wajar lah kalau Chalinda nanya kaya gitu, kan dia memang belum kenal sama saya. Ibu juga tadi pasti bingung kan dan bertanya-tanya siapa saya, tadi nggak berani nanya langsung?" tanya wanita tersebut, tersenyum simpul ke arah Liya, namun nada suaranya seperti sedang meledek.
Liya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar.
Setelah itu, Chalinda melihat Artha yang mengajak Liya berbicara. Ibu dari Chalinda itu hanya menganggukkan kepala sembari sesekali melihat ke arah Chalinda dan wanita tersebut.
Jarak Chalinda dengan Liya dan Artha yang sedikit jauh membuat Chalinda tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu kepada ibunya.
Tidak berselang lama, Liya nampak berjalan mendekat ke arah wanita itu yang berdiri di dekat ranjang Chalinda sembari tersenyum simpul.
"Ya sudah, Bu. Saya keluar dulu, ya. Bapak sama Ibu silahkan berbicara dengan Chalinda," ujar Liya, tersenyum begitu ramah.
"Oh, iya. Maaf ya, Ibu Liya," ujar wanita itu, begitu juga dengan laki-laki berkacamata tebal yang ada di sebelahnya.
"Nggak papa kok, Bu. Nanti kalau sudah selesai panggil saja, saya menunggu di luar bersama Artha," ujar Liya.
"Baik, baik, terima kasih, Ibu Liya," ujar wanita tersebut sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Artha temenin Ibu Liya dulu ya, Bu," ucap Artha, berpamitan.
Dari situ Chalinda mulai bisa menebak, mungkin kedua orang tersebut adalah ayah dan ibunya Artha. Tapi usia mereka seperti masih cukup muda untuk dibilang sebagai orang tua dari guru bahasanya itu.
Langkah Liya dan Artha perlahan keluar dari ruangan, meninggalkan Chalinda bersama dengan dua orang asing yang tidak Chalinda kenali.
"Nah, Chalinda. Perkenalkan, Ibu ini adalah ibunya Artha, dan dia ayahnya Artha," ujar wanita tersebut tanpa menyebutkan nama.
Chalinda hanya bisa menganggukkan kepala sembari tersenyum.
Gadis itu bingung harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Terus diam dan menjawab apa adanya jika ditanya adalah sesuatu yang sebaiknya dia lakukan saat ini.
"Udah berapa lama kamu tahu sedang ada isi, Nak?" tanya Ibu Artha itu, nada suaranya terdengar begitu ramah.
Wanita dengan make up tebal itu nampak menganggukkan kepala sembari bergumam. "Oh begitu, kenapa kok Chalinda bisa merasa lagi isi?"
"Awalnya sih mual, Bu. Terus aku adukan ke guru BK, dia bilang coba dites, eh ternyata hasilnya dua garis," jawab Chalinda, gadis itu merasa sedih jika mengingat kejadian tadi siang saat di sekolahnya.
Lagi-lagi Ibu Artha itu hanya menganggukkan kepala dan bergumam. Hal itu memberikan kesan bagi Chalinda seakan wanita itu hanya mengintrogasi dirinya saja, tanpa ada sedikitpun keramahan yang dia berikan.
"Begitu ya, berarti belum lama ya Chalinda tahu kalau lagi ada isinya?" tanyanya lagi.
Chalinda yang semakin yakin jika perempuan itu hanya bertanya saja kepada dirinya tanpa ada sedikitpun keperdulian akhirnya hanya menganggukkan kepala.
"Maaf ya, Cha. Anak saya memang seperti itu, kadang nggak bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Ibu merasa sangat bersalah atas kejadian ini, semoga saja kamu bisa memaafkan Artha ya, Nak," ujarnya, memasang ekspresi prihatin dan sedih.
Chalinda menganggukkan kepalanya. Dalam hati Chalinda merasa kesal, aneh, geram kepada wanita tersebut. Bagaimana mungkin dia justru menganggap wajar perbuatan anak laki-lakinya yang sudah merusak masa depan anak orang.
"Syukurlah, Nak, kalau kamu mau memaafkan Artha. Ayah ada yang mau disampaikan nggak?" tanya Ibu Artha kepada suaminya setelah berbicara dengan Chalinda.
Laki-laki itu nampak membetulkan posisi kacamatanya yang mungkin sedikit merosot ke bawah. "Seperti yang sudah diucapkan oleh Ibunya Artha, Chalinda. Kamu harus sabar ya, terima apapun itu, maafkan anak kami yang nggak bisa menahan nafsunya. Saya juga laki-laki, ya tidak jauh berbeda dengan Artha, Nak. Hanya saja, bedanya saya sudah punya istri, dia belum."
Lagi-lagi, Chalinsa hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dalam diri Chalinda merasakan ada sedikit keanehan pada diri kedua orang tua Artha itu.
Memang benar mereka berdua adalah orang tuanya, tapi seharusnya mereka tidak membela anaknya lagi jika itu sudah terbukti melakukan kesalahan, apalagi kesalahan yang dilakukan anak mereka itu sangat fatal.
"Baiklah kalau begitu, aku dan Ibunya Artha harus segera kembali. Ada banyak hal lain yang harus kami lakukan. Nanti jika ada kesempatan, kita akan menjenguk kamu lagi," ucap laki-laki itu kemudian.
"Ibu sama Ayah pamit ya, Nak. Sehat terus kamu sama bayi kamu, jangan kecewakan Ayah, Ibu dan juga Artha. Kita semua menantikan kehadiran dia," lanjut Ibu Artha.
"Kamu istirahat ya, Cha. Kalau perlu nggak usah pergi ke sekolah dulu juga nggak papa, toh nantinya hidup kamu juga ditanggung semua sama Artha," ujar Ayah Artha.
Deg! Perkataan dari laki-laki itu begitu menusuk ke dalam jantung dan hati Chalinda. Rasanya begitu sakit saat mendengar ucapannya. Seakan dia menganggap remeh perempuan dan berpikir layaknya perempuan adalah pabrik anak saja bagi para laki-laki.
"Ya udah, nggak perlu lama-lama lagi. Ibu dan Ayah pamit ya, Nak," ujar Ibu Artha sembari mengulurkan tangan kanannya.
Sedari tadi Chalinda hanya menganggukkan kepala saja dan berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun harga dirinya merasa begitu direndahkan oleh mereka berdua.
Chalinda mencium punggung tangan kedua orang tua Artha sebekum mereka keluar dari ruang rawat inap.
Sekitar lima belas menit lamanya Chalinda berbicara dengan mereka berdua. Rasanya begitu tenang saat keduanya pergi meninggalkan Chalinda dan keluar dari ruangan.
Namun sendirian di dalam kamar membuat Chalinda terus berpikir mengenai dua orang itu, apalagi perkataannya terus membekas dalam kepala gadis tersebut dan seakan ada yang mengulangnya terus-menerus.
"Cha, udah bicara sama orang tua Artha, tadi?"