
Chalinda segera berjalan dengan cepat menuju kelas. Namun lagi-lagi dia tidak dapat mengejar langkah Martha dan Daphnie. Hal itu membuat Chalinda semakin yakin jika suara dua orang perempuan yang sangat mirip dengan suara Daphnie dan Martha itu tidak benar-benar mereka.
Bulu kuduk Chalinda berdiri, langkahnya sedikit bergetar dengan nafas yang sesak. Chalinda merasa begitu takut saat melihat Martha dan Daphnie berada di dalam kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing.
"Permisi," ujar Chalinda, sembari melangkah masuk ke dalam kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung.
Terlebih dahulu Chalinda melangkah menuju meja guru. Guru perempuan yang sedang mengajar mata pelajaran bahasa daerah itu melihat ke arah Chalinda dengan tatapan tajam.
"Dari mana, Cha?" tanyanya, bahkan sebelum Chalinda sampai di dekat tempat duduknya.
"Aku ... habis dari UKS, Bu," ujar Chalinda, berbohong.
Chalinda merasa begitu takut, apalagi tatapan guru bahasa daerah itu masih begitu tajam, seakan tidak puas dengan jawaban dari Chalinda.
"Sakit?" tanyanya kemudian.
Kepala Chalinda mengangguk.
"Baik, silahkan duduk," ujarnya kemudian.
Chalinda kembali menganggukkan kepalanya. Perempuan itu lantas berjalan menuju tempat duduknya dengan segera.
"Kamu tadi habis darimana aja, Cha?" tanya Daphnie, sesaat setelah Chalinda duduk di bangkunya.
"Apa kamu tadi ke toilet?"
Alih-alih menjawab pertanyaan dari Daphnie, Chalinda justru kembali bertanya pada Daphnie. Rasanya dia sangat penasaran dengan kebenarannya.
Daphnie menganggukkan kepala. "Ya, kenapa?"
Seketika Chalinda merasa begitu lega. Chalinda menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Rasanya begitu tenang usai mengetahui kebenaran tersebut.
"Sama Martha?" tanya Chalinda kemudian.
Daphnie menganggukkan kepalanya dan itu membuat Chalinda semakin merasa tenang. Untung saja segala ketakutannya tidak benar-benar terjadi. Suara dua orang perempuan yang dia dengar di dalam toilet perempuan beberapa menit yang lalu itu benar-benar suara kedua sahabatnya. Bukan dari makhluk halus yang menunggu toilet sekolah tersebut.
"Kamu tadi abis kemana aja?" tanya Daphnie, mengulangi pertanyaannya.
Chalinda mengisyaratkan dengan tangan kanan yang terbuka ke arah Martha. Dia akan bercerita tapi nanti menunggu jam pelajaran selesai.
Gadis itu kemudian mengambil buku catatan pelajaran bahasa daerah dan segera mencatat apa yang sudah dicatat oleh guru di papan tulis.
Hanya tersisa waktu tidak lebih dari setengah jam saja saat Chalinda masuk ke dalam kelas. Gadis pintar itu hanya mengikuti jam pelajaran daerah selama satu setengah jam saja dan pada absensi guru namanya sudah dicatat sebagai seorang yang izin dan tidak mengikuti pelajaran.
Usai bel pergantian jam berbunyi, Martha yang duduk tidak jauh dari bangku Daphnie dan Chalinda segera mendekat. Kali ini posisi duduk Chalinda berada di tengah, dengan Daphnie di sisi kanan dan Martha di sisi kirinya.
"Kamu tadi kemana aja, Cha?" tanya Martha, perempuan itu langsung bertanya usai menundukkan tubuhnya di atas kursi tempat duduk Chalinda.
"Gimana ya, Ta, Da, kayanya kita jangan bahas di sekolah deh," ujar Chalinda, sembari menoleh ke arah Daphnie dan Martha secara bergantian.
"Memangnya kenapa?" tanya Martha.
"Martha, kenapa malah nanya kenapa sih? Jelas pasti ada hubungannya dengan semua tempat ini lah," ujar Daphnie, merasa kesal dengan pertanyaan Martha.
Jam pulang sekolah tiba pada pukul dua siang. Semua murid merapikan buku-buku dan peralatan mereka lima menit sebelum bel berbunyi.
Pada saat bel telah berbunyi dan guru sudah mengucapkan selamat tinggal, kebanyakan murid atau berlari keluar dari kelas. Seakan mereka begitu senang dan tidak sabar untuk menyambut kemerdekaan yang sudah ada di depan mata.
Tapi tidak dengan beberapa murid lain yang memilih untuk tetap berada di dalam kelas. Mereka melakukan kegiatan masing-masing, beberapa ada yang hanya duduk, berdandan merias wajah, membersihkan kelas, sementara Chalinda dan kedua temannya masih sibuk merapikan buku-buku yang belum sempat selesai di rapikan.
"Kita mau kemana dulu?" tanya Martha, sembari mendekat ke arah Chalinda.
"Hm, bagaimana kalah taman kota aja?" ujar Daphnie memberikan saran.
"Aku ikut kalian aja mau di mana," ucap Chalinda.
Bagi gadis itu tempat manapun tidak masalah. Mau di danau, di cafe, lapangan atau dimana saja tidak masalah yang terpenting Chalinda bisa menceritakan apa yang hendak perempuan itu ceritakan.
Usai selesai merapikan buku dan peralatan sekolah, Chalinda dan kedua temannya berjalan perlahan keluar dari kelas.
"Nanti aku mau beli es dulu, ya, panas banget deh, kayanya seger kalah beli es," ujar Martha.
"Aku juga ah, beli es yang ada di taman kota aja," ujar Daphnie, memberikan saran.
"Boleh juga, aku pengin es sirup yang di ibu-ibu itu, kayanya enak banget, seger banget kalau diminum siang-siang panas gini," ujar Martha.
"Ya udah ayo buruan jalannya, biar kita lebih cepat sampai," ujar Daphnie.
Mereka bertiga mempercepat langkah. Sementara Martha dan Daphnie berbincang ingin membeli apa saja setelah sampai di taman kota, Chalinda sendiri justru berkecamuk dengan pikirannya.
Keraguan untuk mengatakan segalanya lagi-lagi datang ke pikiran Chalinda. Perempuan itu tidak benar-benar yakin untuk mengatakan apa yang baru saja terjadi hari ini kepada kedua teman baiknya. Chalinda merasa begitu ragu.
Sepanjang perjalanan, Chalinda hanya bisa terdiam. Pandangan mata gadis itu melihat ke arah bawah, ke arah jalanan beraspal yang dilalui oleh kedua kakinya.
Jarak antara sekolah dengan taman kota tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit berjalan saja.
Dari kejauhan sudah nampak ada tulisan taman kota. Keadaannya cukup sepi karena memang sedang siang hari dan tidak banyak orang yang berkunjung ke sana.
Kebanyakan hanya diisi oleh para murid yang sedang menghabiskan waktu luangnya atau beberapa mahasiswa. Tidak terlihat di sana beberapa orang yang mengunjungi taman kota secara sengaja hanya untuk berjalan-jalan, orang-orang seperti itu biasanya datang pada sore hari.
Terlebih dahulu Chalinda mengantarkan Martha dan Daphnie membeli es sirup yang sebelumnya sudah mereka berdua bicarakan. Mau tidak mau Chalinda juga harus membelinya.
Sementara Daphnie membeli sirup rasa stroberi dan Martha memilih rasa leci, Chalinda memutuskan untuk mencoba rasa melon. Kelihatannya begitu menyegarkan.
Keduanya lantas mencari tempat duduk. Bagian depan yang sudah hampir penuh dengan beberapa murid dan mahasiswa membuat langkah ketiganya terus bergerak hingga ke bagian tengah taman kota.
Mereka bertiga menemukan sebuah tempat yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk mereka bertiga duduk.
Tempatnya dinaungi oleh pohon rindang, tapi tidak ada kursi taman di sana, hanya saja bagian bawah pohon itu menggunakan paving.
Usai memastikan tempat yang akan mereka duduki bersih, ketiganya mulai duduk dan menyesap es sirup masing-masing.
"Jadi gimana, Cha?"