
Daphnie segera melayangkan pertanyaan. Mungkin perempuan itu sudah begitu penasaran, apalagi dia juga bertanya pada saat Chalinda baru sampai di kelas.
Chalinda menghirup nafasnya dalam-dalam. Dia mencoba untuk tetap bersikap tenang di hadapan kedua temannya. Hal itu dilakukan juga tidak lain agar Chalinda bisa menceritakan semuanya dengan jelas.
Kedua sahabat baiknya itu sudah melihat ke arah Chalinda. Mereka berdua terlihat begitu penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada salah satu sahabat mereka.
"Jadi gini," ujar Chalinda, memulai pembicaraannya. Namun belum apa-apa, Chalinda justru sudah menghentikan kalimatnya.
"Gimana, Cha?" tanya Martha, tidak sabar untuk mengetahui ceritanya.
"Aku ceritakan dari awal aja, ya," ujar Chalinda.
Kedua sahabat baiknya itu menganggukkan kepala menyetujui apa yang sudah dikatakan Chalinda. Keduanya begitu antusias untuk mengetahui apa yang sudah terjadi terhadap sahabatnya.
Dengan tetap berusaha untuk tetap santai, Chalinda memulai pembicaraannya dari awal. Dari semenjak gadis itu pergi dari kelas untuk membeli air mineral hingga Artha menemukan gadis tersebut di ruang musik serta akhirnya Chalinda kembali ke kelas.
Martha dan Daphnie terus terdiam, sama sekali kedua perempuan itu tidak memotong cerita Chalinda. Hal itu membuat Chalinda yang sedang bercerita menjadi lebih mudah.
Gadis itu menceritakan tuntutan kejadian tersebut secara urut. Meskipun sebelumnya Chalinda merasa begitu tidak tenang dan ragu, setelah menceritakannya Chalinda merasa begitu plong.
Pikirannya kini tidak seberat beberapa menit yang lalu saat dirinya masih memendam semua itu sendirian.
"Jadi gitu, Ta, Da," pungkas Chalinda usai menceritakan semuanya.
Kedua sahabat Chalinda itu saling beradu pandangan satu sama lain. Mereka sepertinya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Chalinda alami.
"Tapi itu beneran Bu Erina?" tanya Martha, menunjukkan ketidakpercayaannya.
Chalinda menganggukkan kepala. "Dia menyukai Pak Artha."
"Jadi ... dia jadi saingan kamu dong, Cha?" tebak Daphnie.
Chalinda kembali mengangguk. "Aku nggak mungkin melepaskan Pak Artha gitu aja, Da, Ta. Bagaimanapun juga dia adalah anak bayi ini. Tapi aku juga takut jika Bu Erina melakukan aksi bodohnya itu dan membuat aku serta Artha dikeluarkan dari sekolah."
Kini gantian kedua sahabat Chalinda itu yang menganggukkan kepala.
"Aku paham bagaimana posisi kamu, Cha." Daphnie berkata mengungkapkan kekhawatirannya.
"Terus kenapa kamu nggak ngomong sama Pak Artha aja kalau Bu Erina yang udah sekap kamu di ruang musik, Cha?" tanya Martha.
"Nah, bisa ditemukan sama Pak Artha aja aku udah bersyukur, Tha. Coba kalau aku ditemukan guru lain atau murid, pasti aku akan ditanya lebih banyak dan mau nggak mau aku juga harus menjawabnya. Ingat kan, sama ancaman dari Bu Erina? Aku nggak mau kalau semua warga sekolah tahu dan akhirnya masa depanku benar-benar hancur," jelas Chalinda.
Martha menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Chalinda. "Kamu yang sabar ya, Cha. Tapi coba deh kamu ngomong ke Pak Artha, siapa tahu dia bisa bertindak dewasa, kaya misalkan tetap berhubungan baik sama Bu Erina gitu biar nggak menimbulkan kecurigaan yang semakin besar."
"Tapi aku takut, Tha. Aku ngomong kaya gini ke kalian berdua aja sebenarnya merasa sedikit ragu. Apalagi ke Pak Artha yang aku juga nggak tahu sifat aslinya bagaimana," ujar Chalinda.
Chalinda menganggukkan kepalanya. "Mungkin saat ini hanya itu yang terbaik, Da."
"Kalau begitu lakukan apa yang menurut kamu terbaik aja, Cha. Yang terpenting nanti kalau ada apa-apa lagi kamu harus selalu cerita sama kita. Kita berdua pasti akan bantu kamu, kok. Oh iya, terus juga kita kan udah berteman selama hampir tiga tahun, rasanya nggak mungkin lah kalau kamu nggak mempercayai kita berdua. Iya kan, Tha?" ujar Daphnie, di akhir kalimatnya gadis itu menoleh ke arah Martha yang nampak sedang menyimak sembari menghabiskan es sirup.
"Kita sudah percaya satu sama lain juga, nggak kan ada yang munafik lah," ujar Martha sembari menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, ya. Kalian berdua sudah jadi teman yang terbaik buat aku. Aku bersyukur banget bertemu sama kalian, Tha, Da," ujar Chalinda, tersenyum simpul.
"Sudah seharusnya, Cha. Kamu juga baik kok ke aku sama Martha," ujar Daphnie, lantas memeluk tubuh Chalinda selama beberapa saat.
Tidak terasa sudah hampir dua jam mereka di taman kota. Usai menghabiskan es sirup yang sudah tidak lagi dingin, mereka bertiga beranjak dari duduknya.
Sampah plastik bekas es sirup dibuang lada tempat sampah, setelah itu mereka bertiga keluar dari taman kota berniat untuk segera pulang.
Chalinda memilih menggunakan angkutan umum. Rasanya tidak tahan lagi jika harus berjalan di bawah sinar matahari yang begitu terik sore ini. Sementara itu Martha dan Daphnie memilih untuk berjalan kaki sekitar sepuluh menit lagi untuk sampai di rumah masing-masing.
Angkutan umum siang ini tidak begitu ramai. Tidak banyak penjual atau orang-orang yang hendak pulang ke rumah mereka karena hari sudah sore dan kebanyakan orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Begitupun juga tidak banyak orang yang hendak berpergian karena hari sudah sore dan akan mereka gunakan untuk membersihkan diri serta beristirahat di rumah mereka masing-masing.
Hanya ada tiga penumpang angkutan umum sore itu. Semuanya adalah anak sekolahan. Mungkin dua penumpang lain selain Chalinda adalah seorang anggota ekstrakulikuler sekolah mereka dan hanya Chalinda saja yang baru hendak kembali setelah main ke taman kota.
Sepanjang perjalanan Chalinda lebih banyak terdiam. Gadis itu turun di persimpangan dan harus kembali berjalan sekitar lima menit untuk sampai di rumahnya.
Usai membayar uang kepada supir angkutan umum, Chalinda segera berjalan dengan cepat menuju rumahnya.
"Cha, kok baru pulang?" tanya Liya, yang sedang duduk di ruang tamu. Sepertinya perempuan itu khawatir dengan anak gadisnya yang tidak kunjung pulang dari sekolah.
"Iya, habis mampir ke taman kota sebentar," ujar Chalinda, sembari melepaskan sepatunya.
"Oh, sama siapa?" tanyanya lagi.
"Biasa, sama Martha sama Daphnie," ujar Chalinda, kali ini perempuan itu meletakkan sepatunya pada rak yang terletak tidak jauh dari pintu masuk.
"Oh gitu, lain kali kalau mau main bilang dulu dong biar Ibu nggak khawatir," ujar Liya.
"Iya, maaf ya, Bu. Tadi Chalinda nggak sempat ngabarin. Ya udah kalau gitu Chalinda masuk dulu, gerah banget pengin mandi sama ganti baju," ujar Chalinda setelah mencium punggung tangan ibunya.
Gadis itu segera beranjak dari hadapan Liya setelah mendapatkan senyuman dari perempuan tersebut.
Drrrtttt ... Dddrrrtttt ....
Chalinda merasakan ponsel di dalam tasnya bergetar. Gadis itu terlebih dahulu mengambil ponsel tersebut dan mengurungkan niatnya untuk mandi.