MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Tidak Sadarkan Diri



Teriakan dari orang-orang terdekat yang terus memanggil namanya dan berusaha untuk membangunkannyalah yang masih bisa Chalinda dengar.


Rasanya begitu sulit untuk kembali beranjak dalam pandangan mata yang gelap, ingin mengatakan sesuatu pun Chalinda tidak bisa.


Setelah itu tidak ada lagi yang bisa Chalinda lihat, dengar maupun rasakan.


Kepala Chalinda terasa begitu pening, tapi pandangan matanya pun masih gelap. Kali ini Chalinda berusaha untuk membuka kedua netranya.


Silau cahaya lampu sebuah ruangan membuat Chalinda harus kembali memejamkan kedua mata. Namun setelah beberapa detik, Chalinda kembali membukanya lagi, sembari terus sedikit berkedip untuk menyesuaikan cahaya.


"Cha, kamu sudah bangun?" suara seorang laki-laki.


Tidak berselang lama, suara langkah kaki terdengar seperti sedang mendekat ke arah Chalinda dengan begitu cepat.


Detik selanjutnya Chalinda bisa melihat Arthanya yang sudah ada di samping kanan dirinya yang masih terbaring.


Meskipun dalam keadaan tubuh yang terbaring lemas, Chalinda tetap saja merasa takut untuk bertemu atau melihat Artha.


Dengan segera Chalinda beranjak dari duduknya, lantas memundurkan tubuhnya untuk menjaga jarak sedikit dengan guru les private-nya itu.


Tubuh Chalinda terasa begitu menggigil kala itu. Kesepuluh jemari tangan Chalinda meremas selimut tipis yang menutupi tubuhnya.


"Tenang, Cha. Aku nggak akan berbuat jahat kepadamu," ujar Artha, sembari mengarahkan kedua tangannya yang terbuka ke arah Chalinda.


Namun kalimat itu tetap saja tidak membuat Chalinda merasa tenang. Tubuh perempuan itu menggigil bak sedang merasakan dingin yang teramat sangat, bibirnya meringis dan kedua tangan yang meremas selimut itu menutupi sebagian wajahnya.


"Cha, aku nggak akan menyakiti kamu lagi. Sejak saat itu, aku merasa bahwa aku menyayangi dan mencintai dirimu. Aku mau kamu baik-baik saja, jangan takut lagi ya sama aku," ujar Artha kembali.


Chalinda tidak habis pikir dengan kedua orangtuanya. Kenapa justru yang bersamanya adalah Artha, bukan Juna ataupun Liya.


"Ma--mana orangtuaku?" tanya Chalinda, suaranya terlihat bergetar menggambarkan dirinya yang sedang begitu ketakutan.


"Oh, Ayah sama Ibu lagi pergi. Ayah beli makan malam untuk kita makan bersama di sini nanti, sedang Ibu pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti kamu dan beberapa barang yang mungkin akan berguna nantinya selama kamu di sini," jelas Artha, dengan begitu lembut.


Chalinda menganggukkan kepalanya. "Bisakah kamu sedikit menjauh?"


Artha nampak meneguk saliva-nya, perlahan laki-laki itu menjauh dari Chalinda. Meskipun begitu kedua netranya masih tetap mengawasi Chalinda yang berada di atas ranjang.


Chalinda menundukkan kepala, tidak ingin menatap balik Artha yang seperti terus memperhatikannya.


Perempuan itu masih terus duduk meringkuk di atas ranjang rumah sakit. Selimut tipis yang beberapa menit lalu dia remas itu sekarang digunakan untuk menutup seluruh tubuhnya, hingga hanya menyisakan setengah dari wajahnya saja.


Setelah sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya Chalinda menyadari ada yang akan masuk ke dalam ruang rawat inapnya.


Chalinda bisa mengetahui jika dirinya berada di sebuah rumah sakit meskipun ruangan yang dia tempati cukup asing. Beberapa kali Chalinda mendengar suara orang melangkah di depan ruangannya dan terkadang sembari mendorong sesuatu.


"Eh, Cha, udah bangun?" tanya Juna yang baru masuk ke dalam ruangan.


Chalinda hanya menganggukkan kepala. Perempuan itu melihat ke arah ayahnya yang sedang meletakkan bungkusan makanan dan minuman yang diletakkan di atas lemari kecil dekat dengan ranjang Chalinda.


"Ayah beli apa?" tanya Chalinda dengan lirih.


"Oh, beli nasi rames aja, nih. Nanti kamu makan ya, Nak," ujar Juna sembari berlalu.


Chalinda hanya menganggukkan kepala, meskipun sebenarnya Chalinda tidak merasakan lapar sedikitpun.


Seperti perutnya telah diisi dengan banyak makanan sebelumnya, dengan banyak varian sampai penuh. Sehingga Chalinda bisa bertahan untuk tidak menyantap makanan kembali sampai beberapa hari berikutnya.


Tidak lama setelah Juna datang, Liya juga datang dengan membawa sebuah tas besar. Seperti yang dilakukan oleh Juna, Liya juga nampak terkejut melihat Chalinda yang sudah duduk di atas ranjang, tidak lagi berbaring.


"Eh, Cha, udah sadar?" tanya Liya, dengan wajah yang penuh dengan senyuman.


Chalinda menganggukkan kepala sembari tersenyum simpul. Pandangan matanya kemudian memperhatikan Liya yang sedang memasukkan termos kecil dan gelas di dalam lemari kecil sebelah ranjang Chalinda.


"Ayo kita ganti pakaianmu dulu, Cha," ujar Liya.


"Sekarang, Bu?" tanya Chalinda, sedikit perempuan itu melirik ke arah Artha dan Juna yang sedang duduk di sebuah sofa dan fokus pada ponsel masing-masing.


Liya sepertinya mengerti akan rasa ketidaknyamanan yang Chalinda rasakan jika harus berganti pakaian di hadapan dua laki-laki itu.


"Ayah, Artha, bisa keluar dulu sebentar, kan? Ibu mau bantu Chalinda ganti baju," ujar Liya, sembari melihat ke arah Juna dan Artha secara bergantian.


Kedua laki-laki itu melihat ke arah Liya, setelah itu keduanya juga menganggukkan kepala secara bersamaan.


Usai Artha dan Juna keluar dari ruangan dan tidak lagi terlihat, Liya mulai membantu melepas dress biru yang masih dikenakan oleh Chalinda.


Liya menggantinya dengan pakaian santai biasa. Model rambut yang sudah kusut juga dilepaskan oleh Liya dan pada akhirnya rambut tersebut tergurai begitu saja.


"Nah, sudah cukup." Liya merapikan peralatan yang tadi digunakan untuk membersihkan tubuh Chalinda.


"Berapa lama Chalinda akan dirawat di rumah sakit, Bu?" tanya Chalinda.


"Belum tahu juga, Cha. Tergantung apa kata dokter nanti. Katanya kamu terlalu kecapekan, janinmu dalam kondisi yang lemah dan itu terlalu berbahaya. Jadi dokter meminta untuk dirawat dulu di rumah sakit, sampai kondisi kesehatan kamu kembali pulih," jelas Liya.


Sesaat setelah Liya menjelaskan, ada suara ketukan pada pintu yang terdengar begitu jelas. Kedua wanita yang ada dalam ruangan tersebut serentak menoleh ke arah pintu dan mendapati beberapa orang yang tampak berdiri di depan sana. Terlihat dari kaca kecil yang ada di tengah pintu.


"Sebentar ya, Cha. Ibu lihat siapa yang ada di depan dulu," ucap Liya.


Tanpa menyelesaikan kegiatannya terlebih dahulu. Chalinda memperhatikan dari atas ranjang.


"Eh, Artha, ada apa?" tanya Liya, terdengar lirih dari tempat Chalinda berada.


Setelahnya Chalinda tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Artha kepada Liya.


Beberapa detik kemudian, nampak beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan tempat Chalinda di rawat.


Dalam pandangan mata Chalinda, mereka terlihat begitu asing dan bahkan Chalinda merasa belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.


Ada satu perempuan yang jika dalam pandangan Chalinda usianya tidak jauh berbeda dengan usia ibunya. Sementara satu orang lain adalah seorang laki-laki dengan kacamata tebal pada kedua netranya.


Keduanya tersenyum sembari mendekat ke arah Chalinda. Namun seorang wanita itu berbeda, dia juga melihat ke arah perut gadis itu.