
Mendengar hal demikian membuat hati Chalinda terasa bagai tersayat sembilu. Tidak hanya sekali saja, tapi berkali-kali.
Chalinda merasa begitu hancur. Gadis itu merasa telah gagal menjadi manusia. Apalagi kenyataan yang harus dia hadapi selanjutnya adalah sebagai seorang istri, bukan lagi seperti remaja pada umumnya yang bisa menempuh pendidikan tinggi dan mewujudkan mimpi.
"Udah, udah. Nggak usah diurusin, ayo kita ke kelas saja, Cha," bisik Daphnie.
Sebenarnya hati Chalinda sudah begitu sakit kala itu. Amarahnya juga sudah hampir tersulut. Namun kala mendengar ucapan Daphnie, Chalinda mengurungkan niatnya untuk memarahi teman sebangku Martha itu.
Kata-katanya juga tidak salah. Apa yang diucapkan oleh teman sebangku Martha itu benar. Ya, Chalinda memang benar-benar sedang hamil, dan gadis itu sadar betul akan hal tersebut.
Chalinda menelan saliva-nya sembari berjalan keluar dari toilet dengan perlahan, begitu juga Daphnie yang sibuk memapah Chalinda meskipun gadis itu masih lumayan lancar untuk berjalan sendirian, hanya saja sedikit lebih lama daripada biasanya.
Jam pelajaran mungkin hanya tersisa beberapa menit saja. Tapi menurut Chalinda yang selalu mengedepankan pendidikan, hal itu lebih baik daripada tidak mengikuti pelajarannya sama sekali.
"Cha," panggil Artha.
Chalinda yang sedari tadi berjalan sembari menundukkan kepala kali ini mulai mengangkat kepalanya. Chalinda melihat Artha yang baru saja membuka pintu kelas, dan pada saat itu pula Artha segera menutup pintunya dengan rapat.
"A--ada apa?" tanya Chalinda, takut untuk berbicara dengan Artha.
Laki-laki itu menggelengkan kepala, lantas tersenyum tipis seolah dia tidak pernah melakukan kesalahan.
"Apa ... apa kamu baik-baik saja?" tanya Artha, laki-laki itu terlihat ragu untuk mengatakan hal demikian.
Chalinda menganggukkan kepala. Perempuan itu kembali menundukkan kepala setelahnya.
Rasanya Chalinda tidak ingin berlama-lama berada di hadapan Artha. Chalinda juga takut jika pembicaraan mereka terdengar oleh murid atau guru lain, meskipun Chalinda juga sadar nada suara dirinya dan Artha begitu lirih dan dibuat selirih mungkin.
Chalinda menarik tangan Daphnie, memberitahukannya untuk segera kembali berjalan dan masuk ke dalam kelas.
"Eh, Cha. E ... maaf, Pak Artha, saya sama Chalinda masuk duluan," ujar Daphnie, yang kali ini tetap berusaha untuk tampak sopan di hadapan guru sekaligus merangkap sebagai walikelasnya.
Artha hanya menganggukkan kepala. Laki-laki itu memperhatikan Chalinda yang masuk ke dalam ruang kelas sebelum pintunya ditutup dengan sempurna oleh Daphnie.
Namun yang lebih mengejutkan, saat Artha menoleh kembali ke tempat sebelumnya, Artha melihat seorang perempuan yang nampak ada di koridor tidak jauh dari kelas Chalinda.
Perempuan itu memandang ke arah Artha dengan tatapan kesal, sebal, dan ada amarah juga di sana.
Artha segera membuang pandangan. Berpura-pura untuk tidak menyadari jika dirinya sedang diperhatikan sekaligus berharap semoga saja perempuan itu tidak mendengar jika Artha menanyakan kabar Chalinda.
Guru laki-laki itu segera menyusul murid yang sedang hamil anaknya itu dan perlahan bahasa Inggris di jam keempat itu kembali dilaksanakan.
TTTEEEETTT!!! TEEETTTT!!! TEEETTTT!!!
Tepat pukul sepuluh pagi, bel sekolah berbunyi tiga kali menandakan bahwa jam istirahat telah dimulai dan jam pelajaran ditunda selama tiga puluh menit.
Mendengar bunyi bel yang paling dinanti setelah bel pulang sekolah yang berbunyi empat kali, semua murid segera menghembuskan nafas tanda mereka merasa lega.
"Baiklah anak-anak, pelajaran dilanjutkan Minggu depan. Untuk yang belum mencatat materi tadi silahkan pinjam catatan teman, untuk Minggu depan tidak ada PR, tapi Minggu depan kita langsung mengadakan ulangan," jelas Artha.
Murid yang tadinya sudah merasa senang karena tidak mendapat pekerjaan rumah yang akan menjadi bebannya setelah pulang sekolah, seketika merasa dijatuhkan dari atas langit setelah mendengar bahwa Minggu besok sudah jadwalnya ulangan bahasa Inggris.
"Yaahhh ...." Semua murid mengeluh dengan serempak.
"Baiklah, terima kasih, selamat siang." Artha berkata sembari berjalan keluar dari ruang kelas usai merapikan semua barang bawaannya.
Beberapa murid tampak beranjak dari duduknya. Tujuan utama mereka tidak lain adalah untuk pergi ke kantin dan memesan beberapa makanan serta minuman.
Tidak sedikit yang berlarian untuk mendapatkan meja terlebih dahulu atau mendapat nomor antrian yang paling cepat. Semakin lama menuju kantin, maka semakin panjang antriannya. Bisa-bisa belum selesai makan sudah terdengar bel masuk berbunyi.
Begitu juga dengan Daphnie dan Martha. Kedua sahabat Chalinda itu beranjak dari kursinya. Martha yang berjarak tiga meja dari meja Chalinda dan Daphnie mendekat ke arah mereka.
"Mau istirahat kemana?" tanya Martha.
"Hmm, ke depan gerbang aja. Aku bosen jajan di kantin, pengin beli sosis bakar," ujar Daphnie sembari merogoh saku seragamnya.
"Kamu nggak ikut, Cha?" tanya Martha yang menyadari jika Chalinda masih saja terduduk di bangkunya.
Chalinda menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Kalian berdua dulu saja, aku dibawain bekal sama Ibu."
"Eh, gitu ya. Nggak papa nih kita tinggal kamu sendirian di sini?" tanya Daphnie.
"Nggak papa, Da. Lagian kan aku nggak sendirian di kelas ini. Banyak kok yang nggak jajan," ujar Chalinda, sembari mengedarkan pandangannya ke depan, samping, dan belakang tempat duduknya.
"Barangkali aja, kan nggak ada aku atau Daphnie yang bisa diajak cerita, hehehe," ujar Martha, terkekeh.
Chalinda hanya tersenyum.
"Yaudah, aku sama Martha beli jajan dulu ya, Cha. Dah," ujar Daphnie yang kemudian melambaikan tangannya ke arah Chalinda.
Gadis itu membalas lambaian tangan mereka, lantas kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat duduknya.
Selama hampir tiga tahun bersekolah, Chalinda hanya dekat dengan Martha dan Daphnie saja. Tidak heran jika Martha mengatakan hal demikian. Apa yang dikatakan oleh Martha juga benar.
Meskipun di dalam kelas dalam kondisi ramai, tapi tidak ada satupun yang dekat dengan Chalinda kecuali Daphnie dan Martha. Chalinda juga tidak mungkin untuk berbicara tiba-tiba dengan mereka.
"Huhhh."
Chalinda mengembuskan nafasnya. Kedua tangan gadis itu kemudian merogoh moling mejanya untuk mengambil apa yang ada di dalam sana.
"Oh iya, minumnya tinggal sedikit. Kenapa aku tadi nggak nitip aja ya sama Daphnie," ujar Chalinda bermonolog dengan lirih.
Chalinda menunda makan di jam istirahat. Persediaan minum yang sudah tersisa sedikit membuat Chalinda mau tidak mau harus membelinya lagi.
Gadis itu keluar dari kelas, berharap langkahnya yang perlahan bisa mengejar langkah kaki Daphnie dan Martha.
"Kamu tadi ngapain sama Chalinda? Emang anak itu kenapa?"
"Nggak papa, lagian kenapa sih?!"
"Aku merasa ada sesuatu di antara kamu dan dia."
"Ya nggak mungkinlah, dia hanya murid kesayanganku. Aku menganggap dia sebagai murid didikku, nggak lebih. Lagian kamu siapa?"
"Aku ini suka sama kamu, Artha. Dari dulu aku suka kamu. Berkali-kali aku sudah memberikan kode bahkan ngomong langsung, tapi kamu--"
"Udahlah, semua yang suka aku sama saja alasannya. Fisik!"