MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Tamu Tak Diundang



Pintu ruang kepala sekolah terbuka dan semua yang ada di dalamnya melihat ke arah pintu.


Di sana nampak berdiri seorang perempuan dengan seragam guru yang nampak salah tingkah karena baru menyadari jika di dalam ruang kepala sekolah sedang ada banyak orang.


"Ma--maaf, Pak, Bu," ucapnya sembari menunduk menahan malu, lantas kembali menutup pintu ruang kepala sekolah.


Semua orang yang ada di dalam ruang kepala sekolah sudah kembali tenang. Rasanya hal itu hanyalah sebuah iklan atau angin lewat saja. Namun rupanya tidak baik Artha.


Guru bahasa itu merasa jika dirinya akan berada dalam masalah saat ini. Apalagi Artha kenal betul dengan guru perempuan tadi, guru itu menyukainya dan juga suka membicarakan orang lain serta menebar gosip kemanapun.


Tidak dapat dipungkiri, mungkin nantinya juga banyak beredar berita buruk tentang Artha dalam sekolah itu. Artha sama sekali tidak menginginkan hal tersebut, laki-laki itu belum siap jika harus kehilangan pekerjaannya.


Artha memang menyadari kesalahannya, juga dalam dirinya merasa harus bertanggung jawab atas apapun yang sudah dia lakukan. Semua itu adalah konsekuensi yang harus dia bayar karena telah melakukan tindakan tak bermoral tersebut.


Seketika Artha beranjak dari duduknya dan bersimpuh di hadapan kepala sekolah yang sedang terduduk.


"Pak, saya mohon, Pak. Jangan pecat saya, paling tidak sampai Chalinda lulus dan melahirkan bayinya. Saya benar-benar bingung, Pak. Entah darimana uang yang akan saya gunakan untuk bertanggung jawab jika bukan bekerja di sini," ucap Artha, sembari terisak.


Ini bukan drama, melainkan Artha memang benar-benar terisak. Dia memang sedang sangat bingung, sekolah lain pun belum tentu menerimanya karena kemungkinan kepala sekolah akan mengatakan alasannya memecat Artha.


Laki-laki itu masih terus memohon, bersimpuh di hadapan kepala sekolah yang sedang duduk. Air mata yang keluar dari ujung netranya tidak sedikit yang menetes dan membasahi kedua paha kepala sekolah.


"Untuk apa mempertahankan guru semacam dia, Pak! Bisa saja nanti banyak Chalinda selanjutnya," ucap Liya dengan sinis.


"Sabar, Bu, sabar." Kepala sekolah kembali berusaha menenangkan.


"Bapak dari tadi sabar-sabar terus. Tahu nggak sih, Pak?! Perasaan saya sebagai ayah dan dia sebagai ibunya pasti sangat hancur. Menyadari guru sendiri yang sangat saya percayai justru berani berbuat tak senonoh seperti itu!" bentak Juna, kembali emosi.


Artha yang bersimpuh di hadapan kepala sekolah segera menghadap ke arah Juna dan Liya yang duduk bersebelahan.


"Ma--maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja melakukan itu--"


"Tidak sengaja bagaimana? Sampai selesai kamu bilang nggak sengaja?!" potong Juna begitu saja.


Artha sejenak terdiam. "Ini memang salah saya, Pak. Maafkan saya, saya janji akan bertanggung jawab."


Sepanjang Artha berbicara, laki-laki itu terus saja menundukkan kepalanya. Pandangan matanya terus melihat ke arah lantai ruang kepala sekolah tanpa berani melihat ke arah wajah orang-orang yang ada dalam kepala sekolah itu.


"Bagaimana, Pak, Bu, Artha sudah bersedia untuk bertanggung jawab?" tanya kepala sekolah.


"Saya mau ada sebuah perjanjian hitam di atas putih, Pak. Tidak cukup jika hanya dari ucapan saja," pinta Liya.


"Baiklah, kami akan buatkan dengan segera. Besok pagi-pagi saat jam pelajaran pertama datang lagi ke sini, kita akan melakukan penandatanganan."


Juna dan Liya serentak menganggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh kepala sekolah.


"P-pak, boleh saya minta satu permintaan," ucap Chalinda, dengan suara yang bergetar.


"Silahkan, Chalinda." Kepala sekolah menyetujui.


Chalinda sempat terdiam sesaat. Menenangkan pikiran dan hatinya agar bisa berkata dengan jelas. Tentu saja Chalinda juga sedang melawan rasa takut dalam hatinya.


"C--chalinda mau, kasus ini disembunyikan. Entah itu nantinya Chalinda akan dikeluarkan atau tidak itu keputusan Bapak, yang terpenting bagi Chalinda adalah kasus ini ditutup rapat."


Kepala sekolah mendengarkan permintaan Chalinda dengan seksama, begitu juga dengan yang lain. Namun rupanya Liya merasa kurang atas permintaan anak perempuannya tersebut.


"Tidak hanya itu, Chalinda. Saya juga minta untuk Chalinda tidak dikeluarkan dari sekolah ini. Bagaimanapun anak saya adalah korban, dia pelakunya!" ucap Liya sembari menunjuk ke arah Artha dengan mata yang terbuka lebar.


Chalinda menganggukkan kepala. Perempuan itu sudah sangat pasrah dengan apapun yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan jika nanti Chalinda harus mati saat perjalanan pulang ke rumah dari sekolah pun Chalinda sudah tidak lagi perduli.


"Baiklah kalau begitu. Bapak dan Ibu jangan lupa besok datang lagi ke sini. Mungkin sampai sini saja pembicaraan ini," pungkas kepala sekolah.


"Kalau begitu kami pamit, Pak," ucap Juna, sembari beranjak dari duduknya diikuti Liya, Chalinda dan semua orang yang ada di sekitar ruang tamu kepala sekolah.


Juna mengulurkan tangannya dan dengan segera kepala sekolah juga menjabat tangannya. Semuanya saling berjabat tangan kecuali dengan Artha. Laki-laki itu tetap saja menundukkan kepala.


"Ayo Chalinda, kita pulang," ajal Liya.


Chalinda menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Jam pelajaran masih tersisa tiga jam lagi, Chalinda akan mengikutinya."


"Tapi Cha--"


"Sudahlah, ayo kita pulang lebih dulu," ucap Juna memotong perkataan istrinya.


Di dalam ruang kepala sekolah itu kembali tersisa empat orang seperti semula.


Chalinda kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah kepala sekolah, guru BK dan guru bahasa yang saat ini begitu Chalinda takuti.


"Pak," panggil Chalinda, ucapannya terhenti.


"Ya, Chalinda."


"Saya harap Bapak memikirkan kembali permintaan saya."


Kepala sekolahnya menganggukkan kepalanya.


Chalinda menghembuskan nafasnya dengan pasrah saat melihat anggukan tipis dari kepala sekolah itu.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit kembali ke kelas."


"Hati-hati, Chalinda," ucap Bu Diah, mengiringi kepergian Chalinda dari ruang kepala sekolah.


Baru satu langkah setelah menutup pintu ruangan, Chalinda tiba-tiba saja dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang sangat tidak Chalinda nantikan.


"Hai, Chalinda. Apa yang sudah terjadi?" tanya Erina, guru yang mengajar khusus di kelas sebelas.


Chalinda menggelengkan kepala. Tanpa mengatakan apapun, Chalinda segera beranjak dari hadapan Erina. Namun sayang, Chalinda justru tidak bisa meneruskan langkahnya karena Erina menggenggam Erta lengan kanan Chalinda.


"Lepas!"


Suara keras seorang laki-laki membuat Chalinda dan Erina menoleh ke arah bersamaan.


Tidak jauh dari mereka berdua dan ruang kepala sekolah, Artha nampak berdiri di sana sembari melihat ke arah Chalinda dan Erina.


Bahkan kali ini Artha nampak melangkah mendekat ke arah Chalinda, dan pada saat itu pula Chalinda merasakan genggaman tangan Erina pada lengan kanannya terlepas begitu saja.


Erina tampak bingung. Guru itu melihat ke arah Artha dan Chalinda secara bergantian.


Melihat Artha yang semakin mendekat, tubuh Chalinda menjadi semakin ketakutan. Bahkan sekarang tubuhnya terasa bergetar dengan jantung yang tentunya berdegup sangat cepat hingga membuat Chalinda kesulitan untuk bernafas.


Tidak mau berlama-lama, Chalinda memutuskan untuk segera pergi dari hadapan dua guru itu.


"Chalinda, tunggu!"