
Lengan Chalinda kembali digenggam oleh seseorang, kali ini begitu erat hingga Chalinda tidak merasakan jika yang menggenggamnya itu adalah seorang laki-laki.
Trauma yang masih ada dalam diri Chalinda membuat gadis itu segera memberontak. Chalinda sama sekali tidak ingin jika kejadian beberapa Minggu lalu saat Artha melakukan hal demikian kepada dirinya kembali terulang lagi dengan pelaku yang berbeda.
Namun sebelum Chalinda berteriak, mulutnya sudah disumbat dengan tangan seseorang. Tangan itu membekap mulut Chalinda hingga tidak bisa lagi Chalinda membuka mulutnya tersebut.
Tangan itu tidak begitu besar, tapi tenaga yang dimilikinya begitu hebat. Tangan yang membekap mulut Chalinda itu beraroma wangi seakan baru mengenakan lotion.
Chalinda menjadi semakin penasaran dengan siapa yang telah membawanya masuk ke dalam ruangan kosong ini. Tapi Chalinda tidak bisa menoleh begitu saja. Kepalanya yang menyandar pada dada perempuan itu dengan begitu lekat membuat Chalinda tidak bisa menoleh sedikitpun.
Tubuh Chalinda didudukkan secara paksa di atas sebuah bangku, kedua tangannya di bawa ke belakang tubuh dan diikat. Tidak hanya kedua tangan, kedua kakinya juga diikat dengan bangku kaya tempat Chalinda duduk.
Chalinda baru bisa melihat dengan jelas siapa yang menyekapnya pada saat seseorang itu melangkah ke depan gadis tersebut untuk membekap mulutnya menggunakan sebuah lakban hitam.
Tidak hanya satu kali, tapi beberapa lakban ditempelkan pada permukaan mulut Chalinda. Perempuan itu kini benar-benar tidak bisa berteriak sedikitpun.
Jika berteriak pun suara Chalinda dapat dipastikan tidak akan terdengar dengan jelas sampai ke luar ruangan.
Erina Noor, guru itu memang cerdik. Hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari Artha, perempuan itu tega menyakiti perempuan lain.
"Diam kamu!" bentak Erina sembari melakban mulut Chalinda beberapa kali.
Kepala Chalinda bergerak ke kanan dan ke kiri, berusaha agar lakban itu tidak bisa menempel pada bibirnya.
PLAK!
Namun justru Chalinda mendapatkan sesuatu yang tidak dia bayangkan sebelumnya. Erina, guru itu menampar pipi muridnya.
Chalinda seketika terdiam, meresapi rasa perih yang terasa pada pipi kanannya. Perih dan panas yang dia rasakan dan hati yang begitu sesak membuat gadis tersebut meneteskan air mata.
"Kenapa Artha bisa membelamu tadi pagi?!" tanya Erina, dengan nada yang keras.
Chalinda menggelengkan kepala, mengatakan jika dirinya tidak tahu.
"Aku tahu semuanya, Chalinda. Kamu hamil sama dia, kan?!" tebak Erina.
Beberapa detik kedua netra Chalinda terbuka dengan lebar. Chalinda tidak menyangka jika Erina sudah tahu perihal berita itu. Perempuan itu kembali menggelengkan kepalanya setelah beberapa saat. Memberitahukan bahwa semua yang dikatakan oleh Erina adalah salah.
"BOHONG KAMU!" teriak Erina.
Chalinda menundukkan kepalanya. Perempuan itu merasa begitu takut, apalagi posisinya kali ini hanyalah seorang diri bersama dengan guru tersebut.
TEEETTTT ... TEEETTTT ....
Bel berbunyi dua kali, menandakan jam pelajaran sudah berlangsung selama satu jam semenjak istirahat selesai.
"Diam kamu di sini!" bentak Erina.
"Jangan pernah katakan jika aku yang menyekapmu di sini atau kamu akan tahu akibatnya! Aku akan membuat semua orang tahu tentang kehamilanmu dan membuat kamu sesegera mungkin dikeluarkan dari sekolah!" ancam Erina, beberapa kali pandangan matanya melihat ke arah perut Chalinda yang memang jadi sedikit lebih buncit meskipun dilihat dari permukaan seragam sekolahnya.
Chalinda bergidik ngeri kala Erina melakukan hal itu. Air mukanya tidak seperti perempuan pada umumnya. Ada kebencian dan amarah di balik senyumnya yang ramah.
"Adik kecil, temani mamamu di sini, ya," ujar Erina, lantas melirik ke arah Chalinda.
Chalinda yang menyadari jika Erina hendak menatap kedua matanya segera mengalihkan pandangan. Chalinda benar-benar takut untuk bertemu pandangan dengan guru menyeramkan tersebut.
Sementara itu, Erina justru nampak tersenyum. Senyum jahat dan begitu sinis, seakan perempuan itu sudah memiliki rencana apa yang akan selanjutnya akan dia lakukan. Hal itu membuat Chalinda bergidik ngeri.
Perempuan itu lantas keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Chalinda seorang diri di dalamnya.
Selama satu jam ini, Chalinda begitu merasa takut. Apalagi sekarang perempuan itu hanya sendirian saja di dalam ruangan tersebut.
Menoleh ke arah kanan dan kiri, Chalinda melihat ada beberapa alat musik, dinding-dinding ruangan tersebut dilapisi oleh peredam suara, itulah yang membuat suara Chalinda tidak akan terdengar dari luar jika dia. berteriak sekalipun.
Chalinda berusaha untuk bergerak, namun ikatan tangan dan kakinya pada kursi cukup kuat, meskipun yang mengikatnya adalah seorang perempuan.
Perlahan Chalinda bisa bergerak bersamaan dengan kursi yang dia duduki. Chalinda berpindah tempat seperti sedang melompat, namun bersama dengan kursi yang melekat pada tubuhnya.
Tujuannya kali ini adalah sebuah lemari kecil yang ada di sudut ruangan. Barangkali saja di saja Chalinda bisa menemukan alat pemotong atau benda tajam.
"Eh, kok ini dikunci gembok gini, sih? Perasaan ruangan ini nggak pernah digembok," suara samar seorang laki-laki.
Chalinda yang mendengar hal tersebut segera berteriak, meskipun teriakannya tidak jelas karena bibirnya masih ditutup dengan lakban.
Gadis itu berusaha untuk melepaskan lakban dari mulutnya, namun kedua tangannya tidak dapat meraih lakban tersebut meskipun hanya sedikit lagi bisa menyentuhnya.
Ruangan kembali hening, begitu sunyi, sepertinya memang seseorang yang ada di luar ruangan itu sudah tidak ada lagi di sana. Mungkin saja dia sedang mencari kuncinya, itu pikiran baik yang coba Chalinda pikirkan.
Keadaan tersebut membuat Chalinda merasa mengantuk. Apalagi tenaganya juga sudah habis untuk bergerak mendekat ke arah lemari kecil yang ada di ujung ruangan.
Jarak antara Chalinda dan lemari itu hanya tersisa satu meter saja. Dengan penuh semangat dan harapan, Chalina kembali menggerakkan kursinya, berusaha untuk semakin dekat dengan lemari kecil tersebut.
Usaha memang tidak mengkhianati hasil. Chalinda berhasil sampai di lemari kecil di ujung ruangan itu. Namun sekarang yang membuat Chalinda bingung adalah bagaimana dia mencari benda yang mungkin bisa dia gunakan untuk memotong ikatan tubuhnya.
Chalinda terus berpikir, namun gadis itu juga tidak kunjung menerima cara untuk melakukanya.
Satu-satunya cara yang terpikirkan adalah membuka lemari tersebut dengan cara menggigitnya.
Beberapa saat Chalinda menimbang-nimbang akan hal tersebut. Lemari itu sangat kotor, berdebu, jarang tersentuh dan dibersihkan, akankah mulutnya tetap terasa baik-baik saja jika harus merasakan rasa dari lemari tersebut?
Tidak ada pilihan lain, tubuh gadis itu condong ke depan, bersiap untuk membuka lemari tersebut dengan menggunakan mulutnya.
KLEK!
Belum juga mulut Chalinda menyentuh gagang pintu lemari itu, terdengar suara lain dari arah pintu ruangan. Chalinda segera menoleh ke arah pintu yang masih tertutup itu, harapannya akan adanya seseorang yang datang kembali membesar.