
Sebuah ponsel terdengar berbunyi dan menandakan adanya sebuah panggilan masuk. Sepertinya ponsel itu diletakkan dalam sebuah tas yang ada di depan lemari karena sumber suaranya dari sana.
Langkah kedua kaki Ibu Artha segera mendekat ke arah tas tersebut, kedua tangannya tampak mencari-cari benda yang berbunyi itu.
Setelah menemukannya, Ibu Artha segera mengangkat panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya tersebut dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Halo?"
"Oh, iya, iya. Nggak papa kok, Bu Liya. Chalinda di sini baik-baik saja sama saya. Ini dia lagi mau sarapan."
"Iya baik, Bu Liya. Nggak papa santai saja."
"Iya, baik. Sama-sama."
Chalinda hanya bisa mendengar dari jawaban Ibu Artha saja. Perempuan itu tidak bisa mendengar apa yang telah dikatakan oleh ibunya sendiri.
Setelah berkata demikian, Ibu Artha kembali menjauhkan ponselnya dari telinga, tanda panggilan telepon telah diakhiri. Ponsel itu pun juga kembali dimasukkan ke dalam tas.
"Tadi itu Ibumu telepon, Cha. Dia bilang masih ada di pasar, ramai katanya. Jadi kemungkinan baru bisa sampai di rumah sakit sedikit siang. Jam sepuluh atau sebelas kemungkinan," jelas Ibu Artha.
Chalinda menganggukkan kepalanya. "Iya nggak papa kok, Bu."
"Ya sudah, kamu tunggu sebentar, ya, Ibu ambilkan makanan untuk kamu dulu," ujarnya, sembari kembali melangkah mendekat ke arah meja kecil yang ada di depan sofa.
"Jangan banyak-banyak, Bu," ujar Chalinda.
Ibu Artha hanya menganggukkan kepalanya. Perempuan itu mengambil sedikit potongan nasi dari nasi rames yang sudah dia beli. Kemudian memasukkan lauknya di sebelah nasi tersebut.
Selama Ibu Artha mengambilkan sarapan untuk Chalinda, gadis itu terus memperhatikan wanita tersebut.
Beberapa menit kemudian saat sarapan sudah selesai disiapkan, Ibu Artha segera mendekat ke ranjang Chalinda.
"Ini, silahkan dimakan," ujar Ibu Artha, tersenyum simpul.
Alih-alih menerimanya dengan senang hati, Chalinda justru menutup hidungnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya terbuka mengarah ke Ibu Artha, menunjukkan penolakan.
"Loh, ada apa, Cha?" tanya Ibu Artha.
Chalinda menggelengkan kepala, tangan kirinya yang masih terbuka dan mengarah ke Ibu Artha digerakkan ke depan dan ke belakang, memberi kode agar Ibu Artha sedikit menjauh bersama dengan makanan yang ada pada tangannya.
Wanita itu menurut, memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari ranjang Chalinda. Setelah dirasa cukup jauh dan baunya tidak bisa terhirup oleh hidung Chalinda, gadis itu tidak lagi menutup hidung.
"Aku tidak bisa mencium aroma bawang goreng, apalagi menyantapnya. Bisa kah jangan ada bawang goreng untuk sarapanku?" tanya Chalinda.
Ibu Artha sepintas melihat ke arah makanan yang ia bawa. Memang di atas piring kecil itu ada sedikit nasi dan lauk dengan beberapa bawang goreng yang turut ambil posisi bersama dengan sayur kentang yang menjadi lauk sarapan Chalinda.
"Oh, begitu, ya? Baiklah aku akan mengambilkan makanan lain untuk kamu, Cha," ujar Ibu Artha, kembali menuju ke arah meja kecil dekat sofa.
Sebenarnya Chalinda merasa tidak enak karena perlakuannya seperti sedang mengerjai wanita tersebut. Namun mau bagaimana lagi, Chalinda tidak bisa melakukannya sendiri. Jika bisa pun, pasti wanita itu menolak dan mengatakan agar dia saja yang melakukannya.
Ibu Artha kembali memberikan makanan lain untuk Chalinda sarapan. Kali ini lauknya adalah telur balado. Tidak tampak adanya bawang goreng barang hanya sedikitpun di sana dan Chalinda menerimanya.
"Sama-sama, dihabiskan ya, Cha," ujar Ibu Artha, wanita itu kembali dan kali ini duduk di sofa untuk menyantap sarapannya sendiri.
Usai menyantap sarapan masing-masing, Chalinda meminum obat yang diberikan oleh dokter. Salah satunya adalah obat penambah darah.
Gadis itu duduk bersandar pada bantal yang diletakkan di bagian belakang tubuhnya yang sedang duduk di atas ranjang, memberikan waktu untuk makanan dan obat yang telah dia minum untuk turun dan diolah di dalam perutnya.
"Cha, sebenarnya ... apa yang terjadi?" tanya wanita itu. Terlihat dalam eskpresi wajahnya jika dia sangat penasaran, namun begitu ragu untuk mengatakannya.
Chalinsa tersenyum. "Hanya sebuah kecelakaan."
Ibu Artha bergumam. "Maafkan anakku, Nak."
Chalinda menganggukkan kepalanya dan masih terus tersenyum.
"Semua itu sudah terjadi. Aku juga tidak bisa mencegahnya agar hal tersebut tidak terjadi. Aku juga yang salah karena hanya diam dan menerima segala perlakuannya karena rasanya percuma saja untuk memberontak dan menolak, tenaganya jauh lebih kuat," jelas Chalinda.
"Ibu tahu bagaimana perasaan kamu, Cha. Ibu juga tidak menyangka jika dia ternyata seperti itu. Ibu yang dulu punya anak gadis ikut merasa sakit hati. Ibu juga merasakan apa yang dirasakan oleh Ibumu. Dia juga pasti merasa marah, kesal dan sakit hati kepada Artha," ujarnya.
"Sudahlah, Bu. Lupakan saja. Lagipula aku sudah mulai bisa menerimanya, Artha juga sudah mau bertanggung jawab," ujar Chalinda, pasrah.
"Terima kasih, Nak. Kamu memang gadis yang baik, namun sayang karena kamu bernasib buruk," ujarnya, menunjukkan air muka yang begitu prihatin dengan apa yang dialami oleh Chalinda.
Chalinda lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari wanita itu. "Meskipun begitu, aku juga sudah bisa belajar untuk bersikap baik terhadap nasib burukku ini."
KLEK!
Pintu terbuka. Kedua orang yang sedang saling berbincang di dalam ruangan seketika menoleh ke arah sumber suara.
Pintu ruangan itu terbuka dengan perlahan, menampilkan sosok perempuan yang sudah Chalinda tunggu-tunggu sedari tadi.
"Ibu ... Ibu dari mana saja?" tanya Chalinda, menyambut kedatangan ibunya.
"Habis dari pasar. Nggak tahu kenapa hari ini pasar lagi ramai banget, huh," ujar Liya.
Tampak nafas wanita yang baru datang itu nampak tersengal-sengal dengan keringat seukuran biji jagung ada di sekitar wajahnya, meskipun sebelum mengalir, wanita itu sudah sempat untuk menyekanya terlebih dahulu.
"Memang Ibu ke pasar beli apa aja?" tanya Chalinda, penasaran.
"Beli daging sapi, bumbuan, buah dan alat makan. Ibu kan belum punya kotak nasi dan sendok plastik yang biasa digunakan untuk membawa bekal. Jadi Ibu beli itu," ujar Liya, menjelaskan sembari menata barang belanjaannya.
Chalinda menganggukkan kepala. Kini di dalam ruang rawat inapnya sudah kedatangan seorang baru yang mau menemani dirinya. Chalinda begitu bersyukur karena orang-orang di sekelilingnya rupanya sangat baik kepadanya.
Tidak ada satupun yang mencela atas perbuatan Artha kepada Chalinda, meskipun sebelumnya Liya sempat melakukan hal demikian, tapi Chalinda memakluminya.
Apalagi dirinya dipertemukan dengan ibu angkat Artha yang sangat baik kepadanya. Dia mau merawatnya selama ibu Chalinda pulang ke rumah.
Andai saja tidak ada wanita itu, mungkin Liya tidak akan bisa ke pasar dan membeli apapun yang wanita itu mau.
"Oh ya, Bu Liya, Chalinda, untuk soal pernikahannya itu bagaimana, ya? Akan diadakan selesai ujian nasional, kan?"