
"Itu bukan fitnah. Itu benar dan aku ada buktinya," ujar Chalinda dengan begitu yakin.
Semua orang yang duduk dalam sofa yang ada di ruang kepala sekolah itu menoleh ke arah Chalinda. Sementara itu, Chalinda sangat merasakan dirinya tak gentar dan ingin segera mengungkapkan kebenarannya.
Seperti yang sebelumnya telah dikatakan oleh Martha, Chalinda menjadi begitu sadar. Untuk bisa berbuat baik kepada seseorang, kita harus berbuat baik kepada diri sendiri. Kalau mau membuat seseorang bahagia, kita harus membuat diri kita bahagia terlebih dahulu. Jika bisa katakan bisa, jika tidak bisa, maka tidak perlu dipaksa. Manusia berhak untuk menolak dan mengatakan tidak.
"Benarkah kamu ada buktinya?" tanya Liya, dengan berbisik begitu lirih tepat berada di sebelah telinga Chalinda.
Dengan terus memandang ke depan, Chalinda menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Kalau boleh, aku minta Daphnie untuk datang ke sini dan memberikan kesaksian. Tapi aku nggak mau manggil dia di kelas," ujar Chalinda, lirih namun begitu terdengar tegas.
Chalinda merasa tidak ingin berbicara dengan orang yang sudah bermuka dua itu. Emosinya masih tetap sama seperti pada saat jam istirahat tadi kepada Daphnie.
Kepala sekolah lantas memerintahkan guru BK untuk memanggil Daphnie yang sedang mengikuti pelajaran di kelas. Dikarenakan hal tersebut, pembicaraan dalam ruang kepala sekolah itu ditunda sejenak sembari menunggu kedatangan guru BK itu kembali bersama dengan Daphnie.
"Apa kamu yakin, Cha?" tanya Liya sekali lagi.
Lagi-lagi Chalinda hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia sudah bertekad bulat untuk mengungkapkan semuanya saat ini juga. Daripada nantinya Chalinda harus hidup bersembunyi dari dunia, itu sangat melelahkan.
Tidak menunggu cukup lama, pintu ruang kepala sekolah yang sebelumnya tertutup kini sudah kembali terbuka.Terlihat guru BK datang bersama dengan Daphnie.
Memperhatikan bagaimana air muka Daphnie. Gadis itu nampak begitu takut saat melihat adanya Erina, Artha, Chalinda dan ibunya serta kepala sekolah dan guru BK yang sudah memanggilnya dari kelas.
Sepertinya perempuan itu juga sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan selanjutnya. Chalinda bisa melihat bagaimana sahabat yang sangat dia percaya itu bermain mata dengan Erina sebelum duduk.
Melihat hal demikian, kebencian dalam diri Chalinda kepada Daphnie semakin besar. Teman baik yang rupanya munafik itu bahkan tidak ada sedikitpun mengejar langkah Chalinda tadi untuk sekedar meminta maaf.
"Baiklah, sudah ada Daphnie di sini. Sekarang apa yang hendak kamu katakan, Chalinda?" tanya kepala sekolah.
Chalinda kemudian menoleh ke arah Daphnie. "Biar dia saja langsung mengatakan kesaksiannya, Pak."
Seseorang yang dipandang oleh Chalinda membalas pandangannya. Namun dengan air muka yang seperti kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi kali ini di dalam ruang kepala sekolah.
"Maaf, tapi kesaksian apa, ya?" tanya Daphnie dengan air muka tanpa dosa.
Mendengar pertanyaan tersebut, emosi Chalinda kembali meluap. Perempuan itu benar-benar tidak mengerti dengan sahabatnya yang sangat munafik itu.
"Maksud kamu apa berkata seperti itu, Da? Jelas aku sudah melihatnya sendiri dalam ponsel kamu bahwa kamu bersekongkol dengan Bu Erina untuk membuat unggahan postingan dalam akun Cha Cha kemarin sore," jelas Chalinda, nada suaranya sudah mulai meninggi.
"Apa maksud kamu, Cha? Bahkan aku yang sudah memberitahukan padamu kalau ada akun palsu bernama Cha Cha yang mengunggah sebuah postingan tentang cerita yang sama persis seperti yang sudah kamu ceritakan kepadaku," ujar Daphnie, mempertahankan pendapatnya.
"Nggak usah bohong begitu, Da. Buktinya sudah ada!" bentak Chalinda yang sudah habis kesabaran.
"Buktinya ada dalam ponsel dia, Pak, Bu. Dia bersekongkol dengan Bu Erina dalam membuat unggahan di akun sosial media yang bernama Cha Cha itu," jelas Chalinda.
"Benarkah begitu, Daphnie?" tanya kepala sekolah.
Daphnie menggelengkan kepalanya sembari menggerakkan kedua tangannya di depan dada dalam posisi terbuka ke arah semua orang.
"Tidak, Pak, Bu. Semua itu tidak benar," ujar Daphnie, bersikeras tidak melakukan kesalahan.
"Jangan berbohong, Daphnie! Mau bersembunyi bagaimanapun kamu sudah terlanjur ketahuan. Aku sudah melihatnya sendiri dan itu sangat jelas!" bentak Chalinda.
"Sudah, sudah. Chalinda kamu tenang dulu, Nak. Daphnie, boleh saya melihat isi ponsel kamu?" tanya guru BK, berusaha untuk menengahi perselisihan antara kedua orang sahabat itu.
Dengan mudahnya Daphnie memberikan ponsel yang sedari tadi dia simpan dalam saku seragam sekolahnya. Melihat hal demikian, Chalinda mengernyitkan dahi. Perilaku Daphnie sama sekali tidak menandakan keraguan atau ketakutan, gadis itu tampak begitu tenang.
Justru sekarang Chalinda yang merasa takut dan khawatir setelah melihat sikap tenang yang dibawakan Daphnie.
Melihat ke arah Erina, guru perempuan tersebut memperhatikan kepala sekolah dengan seksama. Terlihat jelas adanya kekhawatiran dan ketakutan yan ada dalam dirinya, meskipun hal itu sedang berusaha dia tutupi.
"Tidak ada yang aneh dalam ponsel Daphnie, Cha," ujar guru BK usai melihat isi dalam aplikasi perpesanan yang ada di ponsel Daphnie.
Chalinda mengernyitkan dahi. Itu tidak benar. Seharusnya Daphnie tidak ada pikiran untuk segera menghapusnya meskipun Chalinda sudah mengetahuinya.
Dengan cepat Chalinda mengambil alih ponsel milik Daphnie yang ada dalam genggaman tangan guru BK. Gadis itu tidak percaya begitu saja. Mungkin saja pembicaraan mereka dipindahkan ke arsip pesan dan guru BK tidak akan tahu dimana itu berada.
Namun sayang, takdir baik sedang tidak berpihak pada Chalinda. Meskipun perempuan itu sudah memeriksa arsip dalam aplikasi perpesanan itu, Chalinda tidak menemukan adanya percakapan antara Daphnie dan Erina di sana seperti yang sebelumnya Chalinda lihat. Daphnie sudah benar-benar menghapusnya!
Bahkan sekarang yanga ada di urutan pertama adalah ruang obrolan Daphnie bersama Chalinda sendiri tadi sore saat Daphnie memberitahukan ada sebuah akun yang mengunggah sebuah cerita tentang Chalinda.
Tentu saja Chalinda merasa begitu geram terhadap sahabat perempuannya itu. Dia benar-benar licik dan bermuka dua.
"Tidak ada, kan?" tanya guru BK.
Chalinda menganggukkan kepala dengan gerakan yang begitu lemah. Tangan kanannya kemudian terulur ke arah guru BK dengan sebuah ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Baiklah, karena ternyata Daphnie tidak bisa memberikan kesaksian dan bukti juga tidak ditemukan, maka Daphnie bisa kembali ke kelas lagi," ujar kepala sekolah dengan begitu santai.
"Terima kasih, Pak," ujar Daphnie, membungkukkan kepalanya sedikit, lantas beranjak dari duduknya.
Tidak ada sedikitpun Daphnie menoleh ke arah Chalinda ataupun orang lain yang ada dalam ruangan tersebut. Dia berjalan lurus begitu saja keluar dari ruang kepala sekolah.
"Tuh kan, Ibu Liya dan Chalinda ini, keduanya sama-sama sudah memfitnah saya, Pak!"