MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Tak Terduga



Setelah perbincangan tersebut, Chalinda mendengar suara langkah yang seakan hendak mendekat ke arahnya.


Dengan segera Chalinda masuk ke dalam ruangan yang paling dekat dengan dirinya. Ruangan yang digunakan untuk bersembunyi oleh Chalinda adalah ruang OSIS.


Kebetulan ruangan tersebut masih dalam keadaan sepi. Biasanya ruangan tersebut akan ramai dan penuh oleh anggota OSIS jika bel pulang telah berbunyi. Mereka biasa membahas sesuatu atau entah hanya bersantai saja di dalam ruangan tersebut.


Pada jam istirahat, biasanya hanya ada satu atau dua orang saja, bahkan juga bisa tak ada seseorang sama sekali.


Chalinda menutup pintu ruang OSIS tersebut yang awalnya juga dalam keadaan tertutup. Dari balik jendela ruangan tersebut, Chalinda mengintip ke arah luar.


Tidak lama setelah Chalinda berada dalam tempat yang aman untuk bersembunyi, Chalinda melihat Artha yang berjalan dengan cepat melintasi ruang OSIS.


Dari raut wajah yang sempat Chalinda lihat sejenak, itu menandakan Artha sedang begitu kesal dengan pembicaraan yang telah terjadi beberapa detik yang lalu.


Pintu ruang OSIS seketika terdorong ke belakang kala Chalinda hendak menariknya. Kedua netra Chalinda segera bertemu dengan seorang anggota OSIS yang nampak kebingungan karena mendapati seorang murid lain yang bukan dari anggotanya ada di dalam ruangan tersebut.


"Kakak sedang apa? Cari siapa?" tanyanya.


Chalinda melirik ke kanan dan ke kiri seraya memikirkan apa yang akan dia katakan pada anggota OSIS tersebut.


"Hm, ini ... apa ya, itu ...," ujar Chalinda, begitu gugup dan takut.


"Ini, itu, apa sih, Kak? Yang jelas kalau bicara," tegas anggota OSIS yang sebenarnya masih kelas sebelas itu.


"Nggak ada apa-apa, juga nggak nyari siapa-siapa. Aku di sini tadi hanya numpang bersembunyi saja," ujar Chalinda, lantas perempuan itu segera berjalan menjauh dari ruang OSIS dan salah satu anggotanya itu.


Langkah kedua kaki Chalinda begitu cepat, wajahnya menunduk dengan pandangan yang melihat ke arah lantai koridor.


Sama sekali Chalinda tidak menyadari jika ada seseorang lain yang sedang berjalan dan hendak menuju arah yang sama dengan Chalinda.


BRUG!


Chalinda mengangkat pandangannya seketika saat tubuhnya terasa menabrak tubuh orang lain.


"Eh, ma--maaf, maaf, Bu," ujar Chalinda, ketika menyadari ada guru perempuan di hadapannya.


"Chalinda! Kalau jalan tuh pakai mata!" bentak Erina.


Pandangan mata Chalinda yang beberapa detik lalu sempat terangkat kini kembali melihat ke arah bawah lagi.


"Gimana sih! Kan jadi sakit!" bentak Erina lagi.


"Maaf, Bu. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya," ujar Chalinda, pandangan mata perempuan itu masih melihat ke arah lantai koridor dengan kedua tangan yang saling menggenggam di depan tubuh.


Sementara itu, di sekitar Chalinda sudah banyak murid lain yang mengerubungi. Mereka sepertinya begitu penasaran dan antusias untuk mengetahui apa permasalahan serta kelanjutan dari kejadian tersebut.


Chalinda mengangkat pandangannya sedikit, dan gadis itu melihat Erina yang nampak begitu marah. Otot-otot wajahnya mengencang, kedua tangan guru perempuan itu di depan dada dalam posisi menyilang serta pandangan matanya begitu sinis melihat ke arah Chalinda.


Dengan segera Chalinda menundukkan kembali pandangannya. Chalinda benar-benar tidak berani untuk menatapnya lebih lama.


"Kamu, ayo ikut ke ruang kepala sekolah!" ujar Erina, tegas sembari mendekat dan menggenggam lengan Chalinda.


"Ta--tapi, Bu ... kan--"


"Apa? Kamu udah salah nggak mau ngaku salah, ya?!" bentak Erina.


Chalinda kembali mendudukkan kepalanya. Kali ini langkah kedua kakinya juga menuruti saja kemana langkah Erina akan membawa dirinya.


"Tunggu!" teriak seorang laki-laki yang membuat Chalinda dan Erina menghentikan langkahnya.


"Ada apa ini?!" tanyanya, dengan nada suara yang begitu tegas.


"Dia, Artha! Dia sudah menabrak aku hingga aku terjatuh!" ujar Erina, memberikan kesaksian yang dilebih-lebihkan.


Mendengar hal tersebut, Chalinda segera mengangkat pandangannya. Lengan yang sudah tidak lagi digenggam Erina kini diangkat setinggi dada. Kedua tangan Chalinda mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan Erina tidaklah benar.


"Bukan, bukan begitu kejadiannya, Pak Artha. Saya memang menabrak Bu Erina, tapi nggak sampai terjatuh," ujar Chalinda menjelaskan, meskipun dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan takut.


Artha melihat ke arah Chalinda dan Erina secara bergantian meskipun dia begitu yakin jika yang benar di sini adalah Chalinda. Kekuatan Chalinda tidak mungkin bisa membuat Erina terjatuh hanya karena tidak sengaja menabraknya saja.


"Erina--"


"Oh, jadi kamu lebih membela murid kamu itu, Artha?!" tanya Erina.


"Tapi benar apa yang dikatakan Chalinda, Pak!" teriak salah seorang yang mengerubungi ketiganya.


"Iya! Saya lihat sendiri Chalinda lagi jalan terus nabrak Bu Erina, tapi nggak sampai terjatuh," ujar salah seorang yang lain.


"PEMBOHONG!" teriak seorang murid laki-laki.


Chalinda selalu melihat ke arah siapa saja yang telah mengatakan pembelaan atas dirinya tersebut. Hampir semuanya adalah murid kelas tiga yang seangkatan dengannya. Meskipun Chalinda tidak begitu kenal karena berbeda kelas dengan mereka.


"Huhh ... dasar!" celoteh Erina sembari menghentakkan salah satu kakinya dan pergi dari kerumunan.


Kini tersisa Chalinda dan Artha saja serta beberapa murid yang masih berada di tempat mengerubungi keduanya.


"Sudah ... sudah, kalian semua kembali ke kalas!" perintah Artha.


Chalinda menundukkan kepalanya. Perempuan itu kembali melanjutkan langkah kakinya untuk pergi membeli minuman dalam kemasan.


"Chalinda," panggil Artha.


Entah kenapa kali ini Chalinda justru menghentikan langkah kakinya, meskipun gadis itu tidak menoleh ke arah guru laki-laki tersebut.


"Maafkan Erina, ya," ujar Artha, setelah laki-laki itu sudah berada di depan Chalinda.


Gadis itu hanya menganggukkan kepala, kemudian kembali melangkahkan kedua kakinya.


"Cha, tunggu," ujar Artha lagi, yang lagi-lagi membuat Chalinda menghentikan langkahnya.


"Ma--maafkan aku juga karena tidak bisa menjagamu," ujar Artha.


Sama sekali Chalinda tidak melihat ke arah Artha, bahkan sedari tadi saat laki-laki itu baru pertama kali memanggil namanya. Chalinda hanya menganggukkan kepala saja, lantas kembali berjalan.


Sampai di kantin, Chalinda benar-benar menahan nafasnya. Perempuan itu memilih untuk bernafas melalui perut agar tidak ada bau bawang goreng yang tercium dalam indra penciumannya.


"Bu, air mineral botol satu," ujar Chalinda sembari menyerahkan uang pas.


Setelah mendapatkan apa yang Chalinda inginkan, gadis itu segera pergi dari kantin dan melangkah kembali ke kelas.


Suasana koridor sudah cukup sepi, tidak ada siapapun yang melintas. Hal itu memang sudah biasa terjadi karena murid-murid sudah berada di kantin atau kembali ke kelas mereka masing-masing, jadi tidak banyak yang melintas di koridor.


Chalinda berjalan dengan tenang sembari membawa botol air mineral dengan kedua tangannya.


GAP!