
Daphnie membuka pintu taxi online itu sembari terus melihat ke arah rumah Chalinda. Rumah yang tidak terlalu besar itu pintunya dalam kondisi tertutup rapat, begitu juga dengan kordennya.
Menurut pengalaman Daphnie yang sudah berkali-kali mengunjungi rumah Chalinda, rumah itu tidak pernah tertutup seperti itu.
Bahkan di malam hari pun sebelum jam menunjukkan pukul sembilan malam, pintu masih terbuka, korden masih belum tertutup, kecuali jika penghuninya tidak sedang berada di rumah.
Chalinda turun dari mobil dan merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh Daphnie. Sepertinya rumah itu dalam keadaan kosong jika dilihat dari luar.
"Apa ayah dan ibuku masih dalam perjalanan pulang? Tapi sudah satu jam yang lalu semenjak pulang dari sekolah," ucap Chalinda, sembari melihat ke arah jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Sekolah? Orang tua kamu tadi dipanggil ke sekolah?" tanya Martha, dia nampak begitu terkejut mendengar pengakuan dari Chalinda tersebut.
Chalinda hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia sudah keceplosan berbicara terlalu banyak terhadap dua sahabatnya. Pembicaraan yang seharusnya tidak ingin Chalinda bicarakan.
"Tapi coba aja, barangkali ayah dan ibuku di dalam, mereka sedang tidur siang atau melakukan pekerjaan lain." Chalinda mencoba untuk berpikir positif.
Dengan langkah kaki yang begitu perlahan, Chalinda melangkah mendekat ke pintu rumahnya.
Tangan kanannya sudah menggenggam gagang pintu dengan mantap, dalam satu kali dorongan pintu rumah tersebut terbuka.
Seketika itu terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat, rupanya itu adalah Liya, Ibu dari Chalinda.
"Eh, kamu udah pulang, Nak?" tanya Liya, sembari tersenyum.
Chalinda hanya menganggukkan kepalanya, lantas mencium punggung tangan ibunya. Hal itu juga dilakukan oleh Martha dan Daphnie.
"Udah ya, Cha, kita pulang dulu," ucap Daphnie buru-buru.
"Makasih ya, Da, Tha." Chalinda tersenyum simpul.
"Eh, kok kalian buru-buru pulang gitu? Nggak mau mampir dulu? Ibu lagi masak ayam goreng loh," ucap Liya, berusaha untuk menahan kedua sahabat Chalinda.
"Nggak papa, Bu, mungkin lain kali aja. Kita ke sini pakai taxi online, itu nunggu di depan rumah. Jadi kita harus pulang sekarang soalnya taxi-nya nungguin," jelas Martha, ujung kedua bibirnya terus terangkat ke atas kala berbicara.
Liya tampak menganggukkan kepala dengan pandangan mata yang melihat ke arah mobil taxi yang memang sedang berhenti tidak jauh di depan rumahnya.
"Baiklah, padahal Ibu masak enak loh, lain kali mungkin ya. Makasih loh udah nganter Chalinda sampai ke rumah. Oh ya, uang taxi-nya udah dibayar belum?" tanya Liya.
"Udah kok, Bu, tenang aja. Kita udah patungan buat bayar uang taxi." Daphnie menjelaskan.
"Ya sudah, Bu, aku sama Martha pamit ya," lanjut Daphnie lagi, segera mencium punggung tangan Liya.
"Iya, iya, makasih ya sekali lagi, maaf ngerepotin kalian. Hati-hati di jalan," ucap Liya, sembari menyalami kedua sahabat anaknya.
Chalinda hanya tersenyum melihat dua sahabatnya tampak tersenyum bahagia. Perempuan itu juga bersyukur dipertemukan dengan dia manusia baik yang menjadi teman baiknya selama hampir tiga tahun bersekolah.
"Dah Chalinda, cepat sembuh ya," ucap Daphnie.
"Jangan lupa makan yang banyak, jangan kebanyakan pikiran juga ya, Cha, biar cepat sembuh," tambah Martha.
"Iya, makasih banyak ya," ucap Chalinda.
Daphnie dan Martha melambaikan tangan kanannya ke arah Chalinda, begitu juga dengan Chalinda yang membalas lambaian tangan kedua teman baiknya.
Chalinda sudah berbalik badan, perempuan itu ingin segera membersihkan diri dan berbaring di atas ranjang.
"Chalinda," panggil Liya.
Chalinda memejamkan matanya, berharap panggilan dari Liya itu tidaklah nyata. Namun seketika harapannya itu sirna kala telinganya kembali mendengar namanya disebut oleh ibu tercinta.
"Cha," panggil Liya kembali.
Perempuan itu menoleh kembali ke arah pintu masuk rumahnya. Di sana berdiri seorang wanita dengan kedua tangan di depan dada dalam kondisi disilangkan.
Air mukanya terlihat begitu dingin, tatapan kedua matanya tajam melihat ke arah Chalinda. Membuat nyali Chalinda ciut seketika.
Mungkin inilah saatnya dia menerima semprotan amarah dari kedua orang tua yang tidak juga mengerti jika Chalinda adalah seorang korban dari perbuatan Artha.
"Iya, Bu," jawab Chalinda, suaranya begitu lirih.
"Bersih-bersih, lalu kita makan siang bersama, ya," ucap Liya.
Chalinda menganggukkan kepalanya. Sepertinya pada saat makan siang nantilah kedua orangtuanya akan mengeksekusi Chalinda dengan mengatakan segala hal dengan nada suara yang tinggi hingga terdengar ke rumah tetangga sebelah.
Masuk ke dalam kamarnya, Chalinda segera meletakkan tas di atas kursi belajar. Perempuan itu duduk di atas ranjang sembari melepaskan kancing seragam sekolahnya satu persatu.
Seketika otaknya bernostalgia pada saat Artha melepaskan kancing-kancing seragam itu secara cepat dan begitu tergesa-gesa.
Perasaan sedih, takut, marah, kecewa, semuanya berada dalam diri Chalinda saat ini. Perempuan itu kembali menitikkan air mata.
Di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, Chalinda mulai membersihkan beberapa bagian tubuhnya.
Pertama adalah kaki, lantas tangan dan setelah itu Chalinda mencuci muka dengan menggunakan sabun muka yang sudah habis setengah.
Barulah yang terakhir kali, Chalinda membersihkan daerah wanitanya setelah menuntaskan hajatnya untuk buang air kecil.
Bagian itu masih saja terasa sakit, Chalinda merasakan seperti ada luka di sana. Tapi Chalinda juga tidak tahu pasti dengan hal tersebut.
Lima belas menit lamanya Chalinda berada di dalam kamar mandi membersihkan diri. Perempuan itu keluar dari handuk kecil yang melingkar pada lehernya dan telah dia gunakan untuk mengusap wajah.
Langkah perempuan itu sedikit ragu untuk keluar dari kamar. Ada perasaan takut yang menyelimutinya jika saja nanti ayah dan ibu justru marah besar dan bahkan sampai tega mengusir anaknya sendiri.
Pikiran-pikiran itu Chalinda dapatkan karena beberapa kali pernah membaca cerita soal rudapaksa dan nasib perempuannya begitu memprihatinkan. Chalinda takut jika hal tersebut juga terjadi terhadap dirinya.
Chalinda mengembuskan nafasnya dengan kasar. Apapun yang terjadi maka harus dihadapi. Tangan kanan Chalinda sudah memegang gagang pintu dengan mantap, siap untuk keluar dari kamarnya.
"Chalinda itu, bisa-bisanya dia mau dipakai sama Artha. Apa dia nggak mikir sama masa depannya?" ucap Juna.
"Iya, Yah. Ibu juga nggak habis pikir. Pasti anak itu pakai seragam yang mengundang nafsu Artha. Kan kalau Chalinda nggak mancing-mancing juga Artha nggak bakalan kepancing," ujar Liya.
"Bener banget, Bu. Mana dia anak kita satu-satunya kan ya. Nggak ngerti lagi, kalau sudah begini, mau jadi apa dia nantinya?"
"Hm, mending kalau dihamilin sama konglomerat, Ibu masih terima. Lah ini sama gurunya yang entah bagaimana kondisi ekonominya, apalagi tadi siang kepala sekolah bilang kalau si Artha mau dipecat. Duh, duh."
"Pa, Ma, apa makan siang sudah siap?"
***